07. ZAMAN KEBERAGAMAAN TELAH BERLALU

Kalimat yang mengatakan “bahwa tidak seorang pun dibenarkan karena melakukan hukum Taurat”, dimaksudkan agar manusia tidak lagi membangun keagamaan mereka atau membangun hubungan dengan Tuhan berdasarkan Taurat, tetapi berdasarkan iman. Iman dalam konteks orang percaya, bukan sekadar meyakini ‘sesuatu’ dalam hal ini mengakui ke-Mesiasan Tuhan Yesus, dan mengakui bahwa Dia adalah Allah Anak yang juga Tuhan (Yun. Kurios), mengakui bahwa Dia adalah Pencipta langit dan bumi serta Penguasa alam semesta, tetapi juga yang harus meneladani hidup-Nya pada waktu menjadi manusia bernama Yesus. Sebagaimana Abraham tunduk kepada Elohim Yahweh, yaitu yang juga adalah Tuhan Yesus sendiri, orang percaya juga harus memiliki penurutan yang sama. Hal ini sangat sulit, bahkan tidak mungkin dapat dilakukan oleh orang Yahudi, sebab mereka tidak mau mengakui bahwa Yesus adalah Allah Anak, Pribadi kedua dari Elohim yang dipanggil Yahweh. Orang-orang Yahudi masih bangga sebagai keturunan Abraham yang disunat dan memiliki Taurat. Mereka membangun keimanan mereka di atas hal tersebut, yang mana hal itu tidak menyelamatkan sama sekali.

Kalimat “bahwa tidak seorang pun dibenarkan karena melakukan hukum Taurat” berarti bahwa zaman Taurat sudah berakhir. Hal ini sama dengan zaman keberagamaan sudah berakhir. Memasuki zaman anugerah berarti Tuhan membuka ‘tirai’ agar bukan hanya imam besar yang dapat menjumpai Allah, tetapi semua orang percaya dapat menjumpai Allah dan bersahabat dengan Allah seperti yang dilakukan dan dialami oleh Abraham (Yak. 3:23). Inilah zaman yang dirindukan dan dinanti-nantikan oleh para nabi dan orang-orang benar, tetapi mereka tidak mengalaminya. Sangat disayangkan kalau kita yang memiliki kesempatan berharga ini menyia-nyiakan anugerah yang begitu besar.

Zaman anugerah adalah zaman di mana Allah menyediakan keselamatan bagi semua orang atau semua bangsa. Bagi mereka yang tidak mendengar Injil, zaman ini adalah momentum di mana Tuhan Yesus memikul dosa semua manusia, sehingga masih ada kesempatan masuk dunia yang akan datang setelah melalui penghakiman. Tetapi yang lebih luar biasa adalah bagi umat yang ditentukan untuk hidup di zaman Perjanjian Baru, yang mendengar Injil dan memiliki kesempatan dan fasilitas mengerjakan keselamatan, di mana mereka dimungkinkan kembali untuk serupa dan segambar dengan Allah. Yesus adalah model manusia yang dikehendaki oleh Allah; segambar dan serupa dengan Allah. Inilah maksud awal Allah menciptakan manusia.

Harus dipahami bahwa zaman anugerah bukan berarti zaman di mana umat pilihan dapat lebih dipermudah masuk surga. Tetapi zaman di mana manusia yang dipanggil sebagai umat pilihan berjuang untuk menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Tuhan Yesus. Zaman anugerah bukan zaman gampang untuk masuk surga, tetapi zaman yang sukar bagi umat pilihan untuk menjadi serupa dengan Yesus, tetapi di dalamnya ada anugerah, yaitu adanya kesempatan dan potensi untuk dikembalikan ke rancangan semula. Hal ini harus menjadi satu-satunya agenda hidup kita yang tidak boleh digantikan dengan apa pun.

Dibenarkan dalam konteks umat pilihan Perjanjian Baru, zaman anugerah bukan jalan untuk mempermudah kehidupan, tetapi justru sangat sulit menempuh kehidupan. Bagi umat pilihan, ini adalah zaman memasuki sekolah kehidupan untuk disempurnakan menjadi seperti Bapa atau serupa dengan Tuhan Yesus. Dibenarkan bagi umat pilihan bukan berdasarkan perbuatan baik, tetapi berdasarkan iman. Dalam hal ini untuk dapat dibenarkan, seseorang harus memiliki iman. Iman adalah penurutan terhadap kehendak Allah. Iman bukan sesuatu yang otomatis muncul di dalam kehidupan seseorang, tetapi harus diperjuangkan, karena iman datang dari pendengaran oleh Firman (Rhema) Kristus.

Pola iman umat Perjanjian Baru adalah kehidupan Abraham. Jadi kalau mau memiliki iman yang benar, seseorang harus mengikuti pola iman Abraham. Hal ini sama dengan kalau menjadi Israel sejati, yaitu menjadi ahli waris Kerajaan Surga, harus menjadi “anak Abraham”. Sebab hanya anak Abraham yang bisa diselamatkan (Luk. 19:9) Seseorang yang menjadi Anak Abraham, yang juga menjadi anak perjanjian, harus mengikuti jejak Abraham. Dalam hal ini yang bisa menjadi anak Abraham bukan hanya orang-orang Yahudi yang secara darah daging keturunan Abraham, tetapi semua orang dari berbagai suku bangsa dan tempat, yaitu mereka yang mengikuti jejak Abraham; memiliki pola iman seperti yang dimiliki Abraham, yaitu hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah secara total.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.