Warna Jiwa
29 Juni 2010
Baca: Matius 25:31–40
Alkitab dalam setahun: Roma 8–10
Ada orang yang melakukan kebaikan karena sudah menjadi wataknya, sifat bawaannya, kebiasaannya. Bahkan ia berbuat baik karena merasa memang seharusnya ia berbuat baik. Itu suatu kebutuhan dan bukan kewajiban; dan saat melakukannya, ia tidak merasa tengah berbuat baik. Ia tidak merasa baik, padahal yang dilakukannya itu sangat baik. Maka ia pun tak akan membanggakan dirinya; tidak menjadi sombong; tidak perlu orang lain melihat perbuatan baiknya; tidak perlu mendapatkan ucapan terima kasih; tidak perlu mendapatkan acungan jempol; tidak perlu mendapatkan piala; tidak perlu disanjung; tidak perlu dipuji. Sebab ia memandang kesempatan berbuat baik itu justru adalah anugerah baginya. Tidakkah ini luar biasa? Tetapi sesungguhnya, inilah kebaikan yang benar.
Kebaikan yang harus dimiliki orang percaya adalah kebaikan yang akan membuat orang-orang terfokus kepada Tuhan, dan membuat orang hanya memandang Tuhan dan kerajaan-Nya. Tuhan Yesus menggambarkan apa yang terjadi di akhir zaman. Ia berkata kepada orang-orang yang benar, “Ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat aku….” (ay. 35–36). Orang-orang itu berkata kepada Tuhan, “Kapan kami melihat Tuhan berkeadaanseperti itu?” Tuhan berkata, “Apa yang kaulakukan untuk saudaramu yang paling hina, yang membutuhkan pertolongan, yang menderita, itu sama seperti kaulakukan untuk Aku.” Orang-orang benar itu tidak tahu dan tidak merasa bahwa semua yang mereka lakukan itu sesungguhnya mereka lakukan untuk Tuhan. Memang haruslah demikian. Kebiasaan itu harus menjadi irama hidup dan mewarnai jiwanya.
Jadi kebaikan itu adalah warna jiwa kita. Ibarat suatu ledakan yang harus dikeluarkan dan harus diekspresikan, orang-orang yang benar di mata Tuhan akan otomatis berbuat baik di mana saja. Otomatisasi perbuatan baik ini akan terus berlangsung sampai menutup mata, bahkan sampai kekekalan, iman dan pengharapan akan lenyap, tetapi kasih itu abadi. Orang yang menghayati kebaikan yang ideal dan mutlak adalah orang yang akan terus mewarnai jiwanya dengan selalu berbuat baik dengan tanpa merasa dan menuntut imbalan baik atau balas budi dari orang yang menerima kebaikannya. Sudahkah kita menghayati kebaikan Tuhan? Berdoalah untuk meminta pimpinan Roh Kudus, agar di mana pun kita berada, warna jiwa kita selalu memancarkan kebaikan-Nya.
Kita harus mempunyai warna jiwa yang selalu memancarkan kebaikan Tuhan.

