Truth 30 Maret 2010 “Bekerja Untuk Siapa?”

Baca: 1 Korintus 9:16–23

Alkitab dalam setahun: Imamat 8–10

Setiap  kali ada acara ibadah tertentu yang disertai dengan perjamuan kasih di sebuah gereja, seorang pemilik catering yang juga anggota gereja itu selalu menyajikan menu makanannya yang lezat, sehat, dan higenis kepada jemaat. Padahal gereja hanya memberikan dana yang minim. Ia selalu menombok demi menyajikan menu yang baik. Tak heran, menunya selalu lezat, nikmat, dan berselera tinggi. Dari sudut bisnis, ia rugi. Dengan dana minim, untuk apa bersusah payah menyajikan menu yang enak dan bermutu? Namun baginya ini merupakan pengabdian dan pelayanan, bukan pekerjaan dan bukan barang dagangan.

Dalam bekerja, umumnya orang lebih mementingkan hak. Kerja keras harus dibayar dengan upah pantas dan berbagai fasilitas. Bila upahnya terlambat diterima, orang memprotes dan tidak jarang dengan sikap yang kurang pantas menuntut pembayaran upahnya, bahkan sampai berunjuk rasa. Namun sebaliknya, pengabdian melibatkan loyalitas, pengorbanan, dan penyerahan total kepada Tuhan.

Rasul Paulus contohnya; ketika memberitakan Injil, ia tidak mau bergantung kepada orang lain, meskipun biasanya jemaat memang mendukung penghidupan para rasul. Uang yang menjadi haknya tidak diambilnya sebab ia tidak mau membebani jemaat. Justru ia membuat tenda sebagai usaha sampingan, dan uang hasilnya justru dipakai untuk membiayai pekabaran Injil dengan sukacita. Paulus tidak hitung-hitungan, sebab ia memandang pekerjaannya sebagai pengabdian dan pelayanannya kepada Tuhan yang telah meluputkannya dari api kekal.

Dewasa ini kata “mengabdi” semakin terasa asing sebab orang akan secara otomatis menuntut haknya ketika ia telah melakukan kewajibannya. Para pelaku bisnis berusaha mendapatkan profit maksimal dengan upaya yang minimal. Para karyawan kerap menuntut kenaikan upah, namun tidak bekerja sekuat tenaga. Bahkan para pelayan di gereja, sampai dengan pendeta pun tidak jarang lebih suka menuntut haknya daripada memandang pekerjaan sebagai pengabdian dan pelayanan kepada Tuhan, sebagaimana Paulus memandang. Paulus sangat menyadari bahwa sebenarnya ia tidak layak hidup jika tidak oleh anugerah Tuhan. Maka ia memandang pekerjaannya sebagai pengabdian dan pelayanannya kepada Tuhan. Jika kita memandang pekerjaan kita di mana pun kita berada sebagai kesempatan bagi kita untuk mengabdi dan melayani Tuhan, pastilah cara kita bekerja akan berbeda. Kita akan bekerja dengan sepenuh hati sebab kita mengerti bahwa apapun yang kita lakukan adalah untuk Tuhan, bukan untuk manusia.

Mind Map Bekerja Untuk Siapa?

Di mana pun kita bekerja, kita harus sadar bahwa kita

mengabdi dan melayani Tuhan.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.