Truth 28 Maret 2010 “Rancangan Tuhan atau Usaha Manusia?”

Baca: Ayub 42:1–6

Alkitab dalam setahun: Imamat 1–4

Sering  dalam hidup ini kita mengalami hal-hal yang tidak enak atau tidak sesuai dengan keinginan kita, seperti sakit, kecelakaan, bangkrut, dikhianati pasangan kita, diberhentikan dari pekerjaan, dan sebagainya. Ini suatu kenyataan hidup yang tidak dapat dimungkiri.

Seorang teman di kantor penulis pernah bercerita bahwa ia pernah kehilangan seluruh isi rumahnya karena dijarah oleh gerombolan massa pada saat kerusuhan Mei 1998. Dan hal itu mengakibatkan trauma yang mendalam dalam kehidupannya. Ia bertanya-tanya, “Mengapa semua itu terjadi?”, “Apa salahku?”, “Di mana Tuhan saat semuanya itu terjadi?” Tidak jarang juga orang yang sudah bekerja keras seumur hidupnya, tetapi tetap juga hidup susah dan miskin, sehingga akhirnya berkata “Ya memang sudah nasibku, seumur hidup jadi orang miskin”. Dan masih banyak contoh-contoh lainnya.

Manusia dengan segala kemajuan ilmu dan teknologi, serta kemampuan antisipasinya selalu berusaha agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Namun kenyataannya, tidak semua aspek kehidupan bisa kita kuasai (Ams. 19:21). Ada halhal yang berada diluar kendali kita. Di sinilah Tuhan berkarya dengan segala misterinya. Sebagai ciptaan yang berakal budi, wajar jika kita berusaha menghindarkan segala bentuk bahaya dan berusaha semaksimal mungkin mendayagunakan potensi yang ada dalam diri kita, karena di alam ini berlaku hukum tabur tuai (Gal. 6:7). Tetapi jika toh bahaya itu datang juga, dan kita tidak mampu untuk mengubah atau menolaknya, maka kita harus belajar dengan rasa syukur dan jiwa yang besar untuk menerimanya. Bukankah semuanya terjadi atas seizin Tuhan? Tuhan jauh lebih tahu apa yang terjadi dengan kita.

Dalam hal ini kita perlu belajar pada Ayub, yang meskipun diizinkan untuk mengalami penderitaan yang dahsyat dalam hidupnya, tetapi justru karenanyalah Ayub menemukan Tuhan dengan mengalaminya sendiri, bukan lagi kata orang. Dengan demikian beban penderitaan mental akan terasa jauh lebih ringan. “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal,” kata Ayub (Ayb. 42:1).

Tuhanlah yang merancang segala sesuatu yang baik di alam ini, sedangkan kita wajib meresponinya dengan bertanggung jawab untuk kemuliaan-Nya. Yang terpenting adalah tetap berusaha menjadi sempurna seperti yang diinginkan-Nya, dan percaya bahwa semua yang terjadi merupakan cara Tuhan mendewasakan kita.

Mind Map Rancangan Tuhan atau Usaha Manusia?

Tuhan jauh lebih tahu apa yang baik bagi kita,

dan semua terjadi agar kita memuliakan Dia.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.