9 Oktober 2014: Hati Yang Rela Dimiliki Oleh Tuhan

Tuhan Yesus telah membeli orang percaya dengan harga yang lunas dibayar (1Kor. 6:19-20). Segenap hidup orang yang telah ditebus dimiliki oleh Tuhan. Tuhan Yesus berhak memiliki hati orang percaya sebab segenap hidup orang percaya telah dimiliki-Nya secara penuh oleh pengorbanan-Nya di kayu salib. Oleh sebab itu kalau seseorang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus dan menerima penebusan-Nya, maka ia harus merelakan hatinya dimiliki Tuhan. Jika tidak, berarti ia menolak penebusan tersebut yang juga berarti menolak keselamatan. Orang percaya harus memahami pengertian menerima keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus. Menjadi orang Kristen bukan berarti sudah menerima keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus. Pada akhirnya keselamatan akan membawa orang percaya pada persekutuan yang eksklusif dengan Tuhan. Bila tidak sampai level tersebut berarti keselamatan yang dimilikinya belum lengkap. Ketika seseorang menyerahkan hatinya kepada Tuhan untuk melakukan kehendak-Nya, memuaskan hati-Nya dan menjadi satu selera, cita-cita dan tujuan dengan Tuhan, di sini barulah bisa dikatakan bahwa seseorang hidup dalam persekutuan dengan Tuhan. Tanpa memiliki hati yang satu selera, cita-cita dan tujuan dengan Tuhan seseorang belum bisa dikatakan sebagai bersekutu dengan Tuhan. Inilah sebenarnya goal yang dituju oleh setiap orang percaya sesuai dengan kehendak Tuhan Yesus. Persekutuan yang ideal ini dinyatakan Tuhan dalam pernyataan-Nya dalam Injil Yohanes : “Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku (Yoh. 17:20-21). Apa yang dinyatakan Tuhan Yesus dalam ayat tersebut menunjukkan sebuah persekutuan yang sangat eksklusif. Persekutuan dengan Tuhan adalah persekutuan dalam kehendak dan rencana-rencana-Nya. Persekutuan seperti ini adalah puncak dari perjalanan hidup orang percaya. Sampai pada taraf ini orang percaya mengalami apa yang disebut manunggaling kawula gusti; bersatunya insan dengan Tuhan Pencipta langit dan bumi. Hal ini tidak mungkin bisa dilakukan oleh mereka yang tidak mengenal keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus, sebab hal ini hanya bisa terjadi dalam hidup manusia yang dimateraikan oleh Roh Kudus.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.