9. LAUTAN API

Banyak orang memiliki pemahaman yang salah mengenai dunia di balik kubur. Pada umumnya orang beranggapan bahwa setelah orang mati, bagi orang yang berkelakuan baik langsung masuk surga, sedangkan bagi mereka yang jahat langsung masuk neraka. Sebenarnya setelah orang mati, ia tidak langsung masuk surga atau langsung masuk neraka. Setelah mati seseorang akan masuk dunia orang mati (dalam bahasa Ibrani Syeol; dalam bahasa Yunani Hades). Ini belumlah surga dan neraka yang sesungguhnya. Ini barulah tempat penantian sementara.

Tempat sementara yang disebut sebagai intermediate state ini dalam Pejanjian Lama berupa tempat penawanan. Semua orang yang meninggal sebelum Tuhan Yesus turun ke Kerajaan Maut dan membebaskan tawanan, semua orang termasuk orang saleh tertawan, kecuali Henokh, Musa dan Elia. Itulah sebabnya Syeol (dunia orang mati) di Perjanjian Lama selalu mengesankan tempat yang tidak nyaman atau mengerikan (walau tidak digambarkan secara dramatis), karena memang belum neraka yang sesungguhnya. Setelah Tuhan Yesus membebaskan tawanan dan membangkitkan mereka masuk kota suci pada waktu kematian-Nya, maka terdapat Hades yang nyaman, yang sama dengan Firdaus (Taman yang nyaman).

Ketika seseorang menghembuskan nafas terakhirnya, ia memasuki kesadaran kekal. Ia dapat merasakan penderitaan atau kenikmatan. Seperti Lazarus yang mendapat kenikmatan. Kata “hiburan” dalam Lukas 16:26 dalam teks aslinya adalah parakaleitai (παρακαλεῖται). Dalam bahasa Inggris diterjemahkan comforted. Lazarus mendapat penghiburan, tetapi orang yang tidak berperikemanusiaan, yaitu orang kaya dalam kisah tersebut, mendapat bagian di tempat yang sengsara (the place of torment). Kalimat the place of torment terjemahan dari odunao (ὀδυνάω) yang juga berarti to cause intense pain, to be in anguish (dalam keadaan yang amat sangat tersiksa dan menderita). Tetapi harus dipahami bahwa ini belumlah neraka yang sesungguhnya. Neraka yang sesungguhnya adalah setelah kebangkitan dan setelah manusia menghadap penghakiman Allah.

Neraka adalah sebuah tempat dan sekaligus menunjuk sebuah suasana. Ini adalah tempat di mana terdapat manusia yang terpisah dari Allah dan tidak memiliki kesempatan untuk dipulihkan kembali. Walau Tuhan Yesus menyinggung mengenai adanya api yang tidak pernah padam dan ulat, tetapi yang sebenarnya hendak ditekankan adalah bahwa neraka adalah tempat yang tidak menyenangkan, tempat di mana murka Allah menyala.

Alkitab jelas berbicara mengenai realitas neraka. Oleh sebab itu sebagaimana kita wajib memercayai adanya surga, demikian pula kita harus memercayai adanya neraka. Percaya ini bukan percaya buta, sebab Tuhan Yesus menyinggung mengenai neraka ini berulang-ulang (Mat. 5:22,29; 10:28; 18:9; Mrk. 9:43,49; Luk. 12:5). Dalam suratnya, rasul Yakobus juga menyinggung realitas neraka (Yak. 3:6). Jika Tuhan Yesus berbicara mengenai neraka dan kita tidak memercayai realitas neraka berarti kita menuduh-Nya sebagai pendusta. Itu berarti dalam hal yang lain Ia juga tidak bisa dipercayai.

Membicarakan hal neraka kita akan tertumbuk kepada kenyataan bahwa ada yang disebut sebagai “lautan api” (limne tou puros) dan kematian kedua (Why. 20:14: Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah kedalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: Lautan api). Dalam ayat ini ditemukan adanya kematian kedua dan lautan api, di mana maut dan kerajaan maut dibuang ke dalamnya. Maut di sini terjemahan dari “thanatos” yang diterjemahkan death, yang menunjuk kepada orang-orang mati. Kerajaan maut terjemahan dari “hades” yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan “hell” , yang menunjuk kepada suasana neraka, dibuang ke dalam lautan api (limne to puros).

Lautan api adalah tempat bagi orang yang tidak bertobat (Tetapi orang orang penakut, orang orang yang tidak percaya, orang orang keji, orang orang pembunuh, orang orang sundal, tukang tukang sihir, penyembah penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.” Why. 21:8). Di ayat lain dalam kitab Wahyu menunjuk lautan api sebagai “tinggal di luar” (Tetapi anjing anjing dan tukang tukang sihir, orang sundal, orang orang pembunuh, penyembah penyembah berhala dan setiap orang yang mencintai dusta dan yang melakukannya, tinggal di luar).

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.