9 Januari 2015: Menjadi Tangan Tuhan

Penebusan dalam Tuhan Yesus Kristus menempatkan orang yang telah ditebus-Nya menjadi milik Tuhan.1 Jika seseorang menyadari dan menerima hal ini maka ia menempatkan dirinya pada kehidupan yang benar-benar berkenan kepada Tuhan. Ia tidak memiliki dirinya sendiri, semua yang ada padanya adalah milik Tuhan. Demikianlah seharusnya, setiap anak-anak Tuhan harus menyadari bahwa ia adalah seorang “manager” bukan seorang “owner”. Ia adalah seorang pengelola bukan “pemilik”. Setiap orang percaya yang telah ditebus oleh darah Yesus adalah milik Tuhan. Segenap milik dan dirinya adalah milik Tuhan bahkan partikel yang paling kecil dalam hidupnya. Allah mengajarkan orang percaya untuk menyelenggarakan milik Tuhan dengan tanggung jawab dan bijaksana.2 Kesadaran bahwa semua harta adalah milik Tuhan akan menciptakan kepribadian yang kuat. Pribadi yang tidak mudah khawatir dan cemas menghadapi masalah dalam bisnis dan menghindarkan diri dari praktik-praktik bisnis yang bertentangan dengan kehendak Allah, yang melawan hukum dan norma serta merugikan orang lain. Kesadaran bahwa semua harta yang ada adalah milik Tuhan akan mendorong seseorang bersungguh-sungguh mempersembahkan hidup bagi kepentingan Tuhan dan kerajaan-Nya tanpa batas.3

Orang percaya adalah “kasir” Tuhan dan Tuhan adalah pemiliknya. Kebenaran ini akan membawa orang percaya untuk berhati-hati dalam menggunakan harta milik-Nya. Harta yang mereka miliki adalah barang kepercayaan dari Tuhan yang harus dipertanggungjawabkan kepada Sang Pemilik pada hari penghakiman suatu hari nanti. Sebagai seorang pengelola yang dipercayai untuk mengelola milik Tuhan, hendaknya orang percaya mengelolanya dengan penuh pengabdian dan dengan rela, sebab upah yang menanti bukan saja hasil jerih payah dalam kerja di dunia itu semata-mata, tetapi makhkota abadi yang disediakan bagi setiap orang yang telah mengabdi kepada-Nya. Orang percaya yang hidup dengan konsep ini pasti akan berbagi terhadap orang lain sesuai dengan kehendak Tuhan. Sesuai dengan kehendak Tuhan artinya harus dalam komando-Nya. Tentu disertai kesadaran bahwa seorang kasir tidak berharap memiliki kebijaksanaan sendiri. Tuan pemilik perusahaan yang berhak memiliki kebijaksanaan yang harus dituruti secara mutlak. Inilah “dunia baru” yang dimiliki orang percaya yang normal di mata Allah.

Pertanyaan penting yang perlu kita persoalkan adalah apakah kita telah menemukan “dunia baru” yang Tuhan berikan untuk kita jalani, atau kita masih memiliki dunia kita sendiri yang kita jalani. Seorang yang telah ditebus oleh darah Tuhan Yesus haruslah memiliki “dunia” khusus yang Tuhan berikan untuk dijalani. Fenomena ini dikalimatkan oleh Paulus dengan kalimat: “…namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku”.4 Kalau sekarang kita hidup untuk orang lain demi kepentingan-Nya, maka ini lebih dari sekedar berbagi secara sembarangan tetapi menjadi tangan Tuhan untuk menolong orang-orang yang Tuhan hendak tolong dengan cara-Nya. Ini adalah konsekuensi sebagai anak tebusan. Kalau berkeberatan mengenakan kehidupan Tuhan Yesus (gairah, semangat dan semua filosofi hidup-Nya), maka bukanlah anak tebusan. Seseorang yang telah ditebus oleh darah Tuhan Yesus harus berani menyatakan dirinya bukan miliknya sendiri, tetapi sepenuhnya dimiliki oleh Tuhan yang menebusnya. Dan kalau hidup ini menjadi milik-Nya berarti harus dipersembahkan bagi Dia yang diwujudkan dengan berbagi kepada sesama dengan motif kasih. Inilah yang dilakukan Tuhan Yesus sebagai gaya hidup-Nya, ketika Dia berkata: ”…sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”5

1) 1Korintus 6:19-20 2) Lukas 16:11-12 3) Filipi 1:21 4) Galatia 2:20 5) Matius 20:28

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.