9. Harga Percaya Yang Benar

KALAU KITA MENGAKU percaya kepada seseorang, hal itu tidak perlu ada harganya, sebab percaya kita bisa hanya sebuah persetujuan pikiran. Misalnya kalau kita ditanya apakah kita percaya bahwa Presiden Jokowi orang baik? kita bisa berkata bahwa kita percaya. Jawaban itu sudah cukup, tidak ada resiko dan tidak perlu tindak lanjutnya. Tetapi kalau kita ditanya apakah kita percaya kepada Yesus Kristus, bahwa Dia adalah Messias, Anak Allah yang hidup? Maka ada konsekuensi atas jawaban bahwa kita percaya kepada-Nya. Pengakuan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang hidup harus ada tindak lanjutnya. Ketika Petrus mengakui demikian, maka Tuhan Yesus menyatakan bahwa di atas pengakuan itu Tuhan membangun jemaat-Nya dan alam maut tidak dapat menguasainya.1

Kalau pengakuan hanya sebuah persetujuan pikiran, maka tidak ada dampak sama sekali, baik untuk diri orang itu sendiri, untuk orang lain, sejarah semesta alam dan bagi Tuhan sendiri. Tetapi kalau percaya itu berarti penyerahan diri kepada obyek yang dipercayai maka dampaknya pasti sangat dahsyat. Betapa mudahnya kalau percaya hanya persetujuan pikiran. Tetapi kalau percaya itu adalah tindakan, maka hanya orang nekat yang berani percaya kepada Tuhan Yesus, bahwa Dia adalah Mesias Anak Allah. Pada waktu Tuhan Yesus mengenakan tubuh manusia, masyarakat Israel mengenal Dia hanya sebagai anak tukang kayu. Lagi pula belum ada orang yang berani mengaku Mesias Anak Allah. Jadi kalau ada orang berani percaya secara persetujuan pikiran saja sudah sungguh “nekat” apalagi dengan berani mengikuti jejak hidup-Nya, sungguh benar-benar “gila”. Tetapi faktanya, para murid-murid awal berani melakukannya.

Pengakuan percaya kepada Tuhan Yesus menuntut resiko atau harga yang harus dibayar. Kalau percaya dan mengaku bahwa presiden Jokowi adalah orang baik, berhubung dia adalah manusia biasa, maka tidak ada tindak lanjut dan konsekuensinya. Tetapi kalau pengakuan percaya itu ditujukan kepada Mesias Anak Allah maka ada konsekuensinya sebab di atas pengakuan tersebut Tuhan membangun jemaat-Nya. Kata jemaat adalah terjemahan dari ekklesia (ἐκκληςία); yang berasal dari dua kata, yaitu ek dan kaleo. Kata ek artinya keluar dan kaleo artinya dipanggil atau memanggil. Jadi, ekklesia berarti dipanggil keluar. Kata yang sepadan dengan kata ekklesia dalam bahasa Ibrani adalah “kahaal”, kata ini juga berarti “memanggil”, maksudnya adalah dipanggil keluar. Kalau bangsa Israel disebut kahaal Yahweh artinya adalah umat Tuhan yang dipanggil keluar dari Mesir. Orang yang mengaku percayabahwa Yesus Kristus adalah Mesias Anak Allah harus menjadi orang yang berani keluar dari cara hidup manusia pada umumnya supaya bisa mengenakan cara hidup yang baru. Cara hidup yang baru tersebut adalah cara hidup yang diperagakan oleh Tuhan Yesus. Itulah sebabnya kepada mereka yang percaya Tuhan Yesus berkata: Ikutlah jejak-Ku.

Selanjutnya Tuhan Yesus menyatakan bahwa Dia menyerahkan Kunci Kerajaan maut kepada orang percaya. Ini berarti orang percaya memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Tanggungjawab itu adalah bahwa kehidupan orang percaya memengaruhi sejarah kekekalan. Hal ini dinyatakan dengan kalimat bahwa yang diikat orang percaya di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang dilepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.2 Pernyataan Tuhan Yesus ini dapat dijawab dengan tepat jika kita mengerti bahwa panggilan orang percaya adalah panggilan untuk menjadi corpus delicti, yaitu sempurna seperti Tuhan Yesus agar jumlah bilangan orang yang tidak menyangkan nyawanya genap.3 Dengan jumlah bilangan orang yang tidak menyayangkan nyawanya memenuhi kuota, maka Tuhan akan mengakhiri sejarah dunia ini. Dengan demikian sangatlah jelas bahwa pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias Anak Allah berarti menyeret seseorang untuk hidup sama seperti Dia hidup, yaitu menjadi corpus delicti.

1) Matius 16:16 ; 2) Matius 16:16-19 ; 3) Wahyu 6:11

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.