9. Harga Mengikut Tuhan Yesus

PANGGILAN UNTUK MENELADANI kehidupan Tuhan Yesus yang “tidak mapan” di dunia merupakan panggilan mutlak yang harus dipenuhi. Siapa pun orang yang mengaku percaya wajib untuk tidak mengingini hidup dalam kemapanan. Orang yang mengingini kehidupan yang mapan di dunia ini adalah orang-orang yang mencintai dunia dan dalam posisi berkhianat kepada Tuhan atau sedang dalam proses menuju berkhianat total terhadap Tuhan. Orang yang mengingini hidup mapan di dunia berarti berdosa kepada Bapa dan surga.1 Berdosa kepada Bapa artinya memiliki gaya hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Bapa. Sebab kehidupan yang sesuai dengan kehendak Bapa diperagakan oleh Tuhan Yesus. Kehidupan Tuhan Yesuslah standarnya. Berdosa terhadap surga berarti berkhianat kepada tanah airnya. Surga adalah tanah air orang percaya, kewarganegaraan kita adalah di surga.2 Dunia harus dipahami sebagai hunian sementara, bukan hunian tetap.

Banyak orang ketika menyatakan diri mau mengikut Tuhan Yesus, mereka tidak tahu betapa sukarnya mengikut Tuhan Yesus. Mereka berpikir bahwa mengikut Tuhan Yesus berarti bisa memiliki jaminan pemeliharaan di dunia ini secara luar biasa menurut konsepnya sendiri. Mereka berpikir bahwa Tuhan bukan saja baik, tetapi juga kuat. Mereka tidak mengerti isi kebaikan Tuhan dan tidak memahami kehendak serta rencana-Nya. Mereka berpikir dengan percaya kepada Tuhan, maka Tuhan akan memelihara di bumi ini dengan keistimewaan yang lebih dibanding orang kafir. Itulah sebabnya mereka bingung ketika melihat fakta orang kafir memiliki keadaan ekonomni, kesehatan, keluarga dan berbagai aspek lahiriahnya lebih unggul dibanding dengan sebagian besar orang Kristen.

Orang-orang Kristen yang bodoh tersebut juga berpikir, bahwa dengan meninggalkan agama lama, meninggalkan kebiasaan hidup dalam pelanggaran moral dan mulai rajin ke gereja, sudah merupakan menderita memikul salib. Dan itu dianggapnya cukup. Padahal bersedia mengikut Tuhan Yesus berarti hidup dalam ketidakmapanan seperti cara hidup Tuhan Yesus ketika Ia mengenakan tubuh manusia yang berdaging. Inilah yang membuat banyak orang tidak bersedia menjadi pengikut Tuhan Yesus yang benar. Mereka memandang terlalu mahal harga untuk menjadi pengikut Kristus, dan rasanya mustahil mengenakannya. Mereka berpandangan bahwa Tuhan Yesus yang kaya menjadi miskin supaya kita yang miskin menjadi kaya.3 Kalau kekayaan ini hanya dipahami sebagai kekayaan finansial, keliru! Sebenarnya konteks ayat tersebut adalah mengenai iman, mengenai perkataan, pengetahuan, kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasih; segala hal yang berkenaan dengan manusia batiniah.

Banyak orang Kristen mau mengikut Tuhan Yesus dengan caranya sendiri, bukan dengan cara dan standar Tuhan. Tidak sedikit seseorang meninggalkan pendidikan umum dan masuk sekolah Alkitab justru untuk mencari kemapanan, termasuk para pengusaha yang merasakan beratnya kompetisi market place. Lebih tenang jadi pendeta daripada menjabat profesi lainnya. Mereka menjadi pendeta atau fulltimer hanya karena kemapanan. Tentu tidak semua fulltimer demikian. Betapa jahatnya kalau gereja mencoba membuat cara sendiri yang bisa dikompromikan dan dikonformiskan (disesuaikan) dengan keinginan “konsumen”. Dalam hal ini anggota jemaat sebagai konsumennya. Jemaat digiring kepada kekristenan yang jauh dari standar kekristenan yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Para pembicara dan pelayan jemaat sendiri tidak mengerti kebenaran ini dan tidak mampu mengajarkan kepada orang lain, sebab mereka sendiri tidak mengalami. Dewasa ini yang terjadi adalah justru gereja-gereja tertentu -bisa dikatakan sebagian besar gereja- mengajarkan ajaran yang bertendensi mengukuhkan konsep bagaimana memiliki hidup yang mapan di bumi ini. Hal ini terjadi sebab pelayan-pelayan jemaat itu sendiri melayani pekerjaan gereja supaya memiliki kemapanan hidup.

1) Lukas 15:18 ; 2) Filipi 3:20 ; 3) 2Korintus 8:9

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.