9 Desember 2014: Membalas Kebaikan Tuhan

Banyak orang Kristen juga bersikap sama seperti orang-orang yang tidak menerima tindakan Maria yang mengurapi Tuhan Yesus (Mrk. 14:3-9). Mereka menganggap Tuhan Yesus tidak pantas menerima perlakukan yang istimewa. Mereka tidak memperlakukan Tuhan Yesus secara pantas. Kalau untuk pejabat, untuk orang yang mereka kasihi dan orang-orang tertentu mereka bisa memperlakukan secara istimewa, mengapa tidak untuk Tuhan? Ini adalah suatu kesalahan yang sangat besar. Perlakuan orang percaya terhadap Tuhan menunjukkan seberapa jauh mereka mengenal, mengasihi dan menghormati Dia. Sekaligus menunjukkan apakah mereka menghargai anugerah dan kebaikan Tuhan dalam hidupnya, sehingga membalas kebaikan Tuhan. Seperti tindakan Maria yang ekstrim terhadap Tuhan Yesus, seharusnya orang percaya juga demikian. Terkait dengan kisah dalam Markus 14:3-9, mestinya Simon yang disembuhkan dari kustanya memperlakukan Tuhan Yesus seperti Maria (Mrk. 14:3-9). Perlu dimengerti bahwa pada waktu itu sakit kusta dianggap sebagai kutukan. Orang yang sakit kusta tidak boleh tinggal di tengah-tengah masyarakat. Mereka adalah orang-orang yang hidup tanpa pengharapan dan terbuang dari masyarakat. Orang sakit kusta seperti seorang terpidana yang sudah ada dalam bayang-bayang eksekusi hukuman mati. Kesembuhan yang dialami Simon adalah anugerah yang tidak ternilai. Seharusnya Simon membalas kebaikan Tuhan dengan segala sesuatu yang ada padanya. Tetapi Simon tidak melakukan apa yang pantas yang seharusnya dia lakukan. Maria mengerti apa yang patut bagi Tuhan Yesus. Maria merasa berhutang budi kepada Tuhan Yesus, sebab Tuhan Yesus telah membangkitkan Lazarus saudara laki satu-satunya (Yoh. 11). Maria memberikan apa yang terbaik yang ia miliki, diberikannya secara berlimpah kepada Tuhan yaitu minyak narwastunya. Bisa jadi itulah harta satu-satunya yang dimiliki Maria, mengingat Betania adalah daerah orang miskin. Biasanya orang menuangkan minyak narwastu yang mahal hanya setetes-setetes, tetapi Maria memecahkan leher buli-buli minyak tersebut. Untuk Tuhan Yesus leher buli-buli itu harus dipecahkan agar dapat dengan berlimpah mengalir. Ironi sekali, banyak orang mau berkat yang berlimpah dari Tuhan, tetapi mereka tidak berani memberikan secara berlimpah kepada Tuhan sebagai balasannya. Oleh sebab itu patutlah kita memikirkan, bagaimana sepantasnya kita membalas kebaikan Tuhan. Simon si kusta bukan tidak mau membalas kebaikan Tuhan. Ia juga membalas kebaikan Tuhan yaitu dengan mengundang Tuhan Yesus datang ke rumahnya dan mengadakan perjamuan makan bagi Tuhan. Tetapi sebenarnya Simon bisa melakukan hal yang lebih dari itu, yaitu memberi yang terbaik yang dimilikinya untuk Tuhan. Dalam Mazmur 116:12, pemazmur menyadari kebaikan yang Tuhan telah berikan kepadanya maka ia berkata: Bagaimana akan kubalas kepada Tuhan segala kebajikan-Nya kepadaku? Pernyataan pemazmur menunjukkan ia tidak tahu bagaimana membalas kebaikan Tuhan. Hal ini disebabkan oleh karena Tuhan sudah memberikan berkat-Nya berlimpah. Seharusnya sebagai orang yang merasa telah menerima kebaikan Tuhan, orang percaya juga memiliki pernyataan seperti pemazmur ini. Tetapi ternyata banyak orang Kristen membalas kebaikan Tuhan ala kadarnya saja. Dengan demikian sejatinya mereka memperlakukan Tuhan secara tidak pantas. Ironi sekali, kalau untuk manusia yang kaya dan terhormat orang Kristen bisa memberikan penghargaan setinggi-tingginya tetapi untuk Tuhan mengapa tidak?

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.