9. BERKAT DAN HARTA ABADI

Dalam beberapa kesempatan, orang bertanya kepada saya apakah saya tidak percaya mukjizat dan tidak membutuhkan mujizat? Pernyataan tersebut adalah pertanyaan bodoh, yaitu kalau ditujukan kepada orang beragama. Sebab orang beragama pada umumnya percaya adanya mukjizat. Sejatinya, jika hal tersebut harus ditanyakan tentu tidak ditanyakan kepada orang Kristen, apalagi seorang pendeta. Pertanyaan tersebut sebenarnya hanya pantas ditujukan kepada orang yang tidak mengenal Tuhan dan yang tidak percaya adanya Tuhan atau orang ateis. Kalau itu ditanyakan kepada seorang anak Allah, apalagi kepada seorang pendeta, tentu saja jawabnya adalah “saya percaya adanya mukjizat dan saya membutuhkan mukjizat pada waktu-waktu tertentu.”

Mukjizat dibutuhkan untuk menunjukkan dan membuktikan bahwa ada Allah yang hidup dan Yesus Kristus yang diutus-Nya. Terutama kepada mereka yang ada di lingkungan masyarakat yang primitif. Juga kepada orang-orang yang belum mengenal Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat yang berasal dari kepercayaan lain. Mereka masih membutuhkan mujizat. Untuk mereka kita masih bisa memperkarakan mukjizat tertentu dalam petunjuk dan pimpinan Roh Kudus yang akurat. Kita memperkarakan mukjizat bukan untuk mencari popularitas, bukan untuk mendapatkan keuntungan materi atau keuntungan pribadi yang lain, tetapi semua berlangsung hanya untuk kemuliaan Allah.

Orang Kristen baru, pada umumnya masih berpikir seperti orang yang tidak mengenal Allah. Mereka datang ke gereja hanya karena membutuhkan pertolongan menyangkut masalah pemenuhan kebutuhan jasmani. Hal ini harus kita maklumi, sebab mereka belum mengerti kebenaran secara lengkap atau utuh. Seperti yang mereka lakukan sebelum menjadi Kristen, mereka pergi ke rumah-rumah ibadah, dukun, atau tempat-tempat tertentu hanya karena untuk memperoleh jalan keluar dari berbagai masalah hidup yang mereka hadapi, khususnya yang bertalian dengan pemenuhan kebutuhan jasmani. Jadi, bisa sangat dimengerti kalau mereka ke gereja hanya karena ingin melihat dan mengalami mukjizat. Mereka sangat menikmati kuasa Tuhan yang dapat didemonstrasikan di dalam gereja. Semakin dahsyat mukjizat Tuhan, maka mereka semakin menikmati dan bangga atas mukjizat-mukjizat tersebut.

Gereja-gereja yang baru muncul biasanya juga ditandai oleh “demam” mukjizat-mukjizat. Gereja-gereja Pentakosta di awal abad 20 sampai awal abad 21 juga ditandai dengan kebanggaan terhadap mukjizat-mukjizat. Di setiap pertemuan bersama atau kebaktian, mukjizat selalu disebut-sebut dan dibangga-banggakan. Setiap Minggu selalu ada kesaksian orang-orang yang menyaksikan mengenai pertolongan Tuhan dari berbagai masalah kehidupan yang mereka hadapi. Biasanya, kesaksian yang mereka kemukakan juga mengenai pertolongan untuk masalah pemenuhan kebutuhan jasmani dan masalah-masalah fana dunia ini. Itulah sebabnya lagu-lagu rohani yang dinyanyikan bertemakan Allah yang kuasa-Nya tidak berubah, Allah yang ajaib dan heran, perbuatan-perbuatan Tuhan yang spektakuler, dan lain sebagainya, yang orientasinya sekitar mukjizat. Hal ini juga bisa kita mengerti sebab gereja tersebut masih baru.

Setelah melewati perjalanan panjang, seharusnya gereja-gereja ini sudah menjadi dewasa. Fokus pelayanan gereja bukan lagi mukjizat untuk memenuhi segala kebutuhan jasmani, tetapi harus mulai mengerti maksud keselamatan dalam Yesus Kristus, yaitu dikembalikan ke rancangan semula. Ini bukan berarti kita tidak percaya mukjizat dan tidak membutuhkan mukjizat sama sekali. Fokus yang harus diubah, yaitu dari fokus pada pemenuhan kebutuhan jasmani beralih kepada kesempurnaan seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Jemaat harus diajak untuk bergerak ke level yang lebih tinggi. Mukjizat adalah berkat sementara, tetapi kesempurnaan adalah berkat dan harta abadi.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.