9. APAKAH KESEMPURNAAN ADALAH FANTASI?

Tidak dapat dibantah adanya orang-orang Kristen, bahkan teolog atau pengajar Alkitab yang menganggap bahwa kesempurnaan adalah ketiadaan atau sebuah fantasi. Mereka memandang bahwa kesempurnaan adalah sesuatu yang tidak akan pernah terwujud atau tidak pernah tergapai dalam kehidupan manusia. Mereka memandang bahwa orang percaya yang mencari kesempurnaan adalah orang yang mencari ketiadaan dan berfantasi kosong. Mereka yang mencari kesempurnaan dipandang sebagai orang yang sombong dan dianggap mengikuti ambisi liar di dalam dirinya. Orang yang mencari kesempurnaan dipandang sebagai tidak mensyukuri anugerah keselamatan dalam Yesus Kristus. Mereka berpandangan bahwa tanpa berbuat baik manusia sudah selamat. Benarkah demikian?

Kesempurnaan bukanlah fantasi sebab kesempurnaan dalam konteks kehidupan orang percaya memiliki ukuran Tuhan sendiri. Kalau Tuhan adalah Pribadi yang hidup dan benar-benar nyata, maka ukuran kesempurnaan juga benar-benar nyata, bukan sebuah fantasi atau halusinasi. Orang yang tidak mengakui adanya kesempurnaan yang berdasarkan perspektif Allah, bisa mendekati keadaan ateis, artinya tidak mengakui keberadaan Allah. Orang Kristen seperti ini tidak berusaha untuk berinteraksi dengan Allah untuk mengerti kehendak Allah dan melakukannya. Mereka dapat membuat rumusan, definisi, kajian, dan doktrin-doktrin teologi, tetapi tidak bersentuhan dengan Allah secara pribadi. Ironinya justru kelompok ini adalah mereka yang belajar teologi dan menjadi pengajar di sekolah-sekolah teologi dan bahkan menjadi pejabat sinode di dalam gereja.

Biasanya orang yang memandang bahwa kesempurnaan adalah fantasi, tidak akan dapat dicapai di bumi berpendirian bahwa hanya di surga saja ada kesempurnaan. Bisa dipastikan bahwa orang-orang ini tidak pernah memahami dengan benar bagaimana surga itu sebenarnya. Biasanya mereka memandang surga sebagai alam mistis seperti dongeng-dongeng yang ada di dalam kehidupan masyarakat umum, seperti konsep mengenai khayangan yang dianggap seperti sejenis surga. Surga yang dimaksud Alkitab tidaklah demikian. Surga sebuah pemerintahan seperti yang berlangsung di bumi dengan segala aspeknya. Bedanya di surga tidak ada kejahatan seperti di bumi, sebab di sana juga sudah tidak ada lagi sosok jahat yang mencobai manusia dan mendorong untuk memberontak kepada Allah. Sosok itu adalah Lusifer. Justru orang yang memandang kesempurnaan hanya dicapai nanti di surga tidak realistis, bahkan bodoh, sebab sudah jelas bahwa di surga nanti terdapat kesempurnaan, dalam segala sesuatu baik adanya. Hal ini tidak perlu dibicarakan.

Seperti orang yang berkata, bahwa tidak ada kemampuan untuk bertahan hidup di padang pasir. Kemampuan bertahan hidup hanya mereka yang tinggal di kota, di mana banyak supermarket dan berbagai fasilitas yang lain. Harus dipersoalkan berapa lama di padang pasir, apakah membawa bekal dan lain sebagainya. Faktanya ada orang yang yang tersesat di padang pasir, dapat juga terselamatkan. Demikian pula dengan kesempurnaan. Harus diperkarakan apa pengertian sempurna itu? Sempurna yang bagaimana? Sempurna untuk siapa? Dan lain sebagainya.

Seperti yang dibedah dalam buku ini, bahwa kesempurnaan harus dipandang dari perspektif Allah. Ukuran kesempurnaan adalah Tuhan Yesus. Yesus adalah model atau prototype manusia yang dikehendaki Allah sesuai dengan rancangan semula-Nya. Sebagai umat pilihan yang ditentukan untuk serupa dengan Dia, kita memiliki panggilan untuk berjuang menjadi serupa dengan Yesus. Perjuangan untuk serupa dengan Yesus sebenarnya sama artinya dengan perjuangan untuk sempurna. Sangatlah picik kalau seseorang memandang kesempurnaan sebagai fantasi dan halusinasi, sementara ia setuju bahwa orang percaya harus menjadi seperti Yesus. Jadi sangat keliru kalau dikatakan bahwa kesempurnaan tidak ada, yang ada adalah kedewasaan. Kedewasaan pada dasarnya adalah proses untuk menuju kesempurnaan. Tidak pernah dapat dikatakan bahwa kedewasaan adalah keadaan statis, tetapi bagian dari proses pertumbuhan menuju kesempurnaan.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.