8. TEOSENTRIS

Seperti yang disinggung di atas bahwa kesucian atau kebenaran hidup orang percaya tidak dapat terukur oleh ukuran hukum, hal tersebut hanya dapat dinilai dan dirasakan oleh Allah sendiri sebab Allahlah hukumnya. Allah sebagai hukum kehidupan artinya bahwa kehendak Allah yang menjadi ukuran kesucian dan kebenaran seseorang. Prinsip hidup yang harus dikenakan orang percaya adalah prinsip hidup yang dikenakan oleh Tuhan Yesus. Prinsip itu adalah: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh. 4:34). Kata “makanan-Ku” dalam teks aslinya adalah broma (βρῶμά) yang artinya solid food atau nourishment. Hal ini menunjuk makanan pokok atau makanan penting bernutrisi yang menentukan kelangsungan hidup. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Terjemahan Lama diterjemahkan rezeki, yang menunjuk kehidupan. Dalam hal ini melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya adalah kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi.

Oleh sebab itu orang percaya harus berurusan dengan Allah secara pribadi. Orang percaya harus memiliki kepekaan terhadap kehendak Allah dan memahami apakah dirinya sudah berkeadaan berkenan atau belum. Orang percaya yang benar selalu “menggelar perkara” di hadapan Allah. Perkara yang digelar adalah dirinya sendiri, yaitu apakah keadaan dirinya sudah berkenan di hadapan Allah atau belum. Orang percaya yang menggelar perkara di hadapan Allah selalu mempersoalkan: Apakah ada hal-hal yang Tuhan tidak kehendaki yang masih dilakukan atau apakah keberadaan orang percaya tersebut sudah memuaskan hati Allah atau belum. Dalam hal ini, kita belajar dari Pemazmur yang mohon agar Tuhan menyelidiki dirinya. Maksud hal tersebut adalah untuk menemukan apakah jalannya serong atau menyimpang (Mzm. 139:23-24).

Dalam pergumulan hidup untuk mengerti kehendak Allah dan melakukan kehendak-Nya tersebut, maka pusat hidupnya bukanlah hukum yang tertulis, tetapi Allah sendiri. Dengan demikian orang percaya tidak bisa tidak harus menjadi teosentris, bukan anthroposentris. Teosentris di sini berarti menjadikan Allah sebagai pusat kehidupan, di mana orang percaya hidup hanya untuk melakukan kehendak Allah, bukan kehendaknya sendiri.

Orang yang tidak bertindak dalam kehendak Allah, sebaik apa pun tindakan tersebut, masih bersifat anthroposentris. Itulah sebabnya Paulus mengatakan, bahwa sekalipun seseorang dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika tidak mempunyai kasih, sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun mempunyai karunia untuk bernubuat dan mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika tidak mempunyai kasih, sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun seseorang membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padanya, bahkan menyerahkan tubuhnya untuk dibakar, tetapi jika tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku. Kasih adalah segala tindakan yang sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Firman Tuhan mengatakan bahwa Allah adalah kasih (1Yoh. 4:8).

Orang-orang yang memandang atau menuduh bahwa usaha untuk mencapai kesempurnaan di dalam Tuhan adalah bentuk atau sikap anthroposentris, tidak memahami kebenaran. Justru merekalah yang anthroposentris. Mereka pasti tidak memiliki pergumulan yang proporsional, bagaimana mengerti kehendak Allah dan melakukannya, berkenan kepada Allah, berusaha bertumbuh dalam kedewasaan rohani untuk semakin seperti Yesus guna menyenangkan hati Bapa.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.