8 September 2014: Berkhianat Kepada Tuhan

Hendaknya kita tidak berpikir bahwa untuk bisa mencapai tujuan yang benar (panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus) hanya bisa dilakukan oleh seorang yang berkaliber Paulus. Kita perhatikan tulisan Paulus dalam Filipi 3 juga menyelipkan pernyataannya: Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladan (Flp. 3:17). Pernyataan ini menunjukkan bahwa jemaat memiliki kemungkinan besar untuk bisa mengikuti jejaknya dan ada orang-orang yang juga bisa menjadi teladan dalam kehidupan seperti yang Paulus jalani. Gaya hidup Paulus ini sesungguhnya gaya hidup Tuhan Yesus sendiri. Dan semua orang yang menyatakan diri sebagai pengikut-Nya wajib hidup seperti Dia hidup (1Yoh. 2:6). Oleh sebab itu patutlah anak-anak Tuhan melakukan sebuah gerakan yaitu gerakan bergaya hidup seperti Tuhan Yesus hidup. Kalau ada kegiatan hidup kita yang dianggap lebih bernilai dari hal tersebut (bergaya hidup seperti Tuhan Yesus hidup) maka itu berarti berkhianat atau tidak menghargai kasih karunia yang Tuhan anugerahkan. Orang-orang seperti ini tidak akan mengalami realisasi perwujudan dari keselamatan yang Tuhan sediakan yaitu dikembalikannya ke rancangan Allah semula.

Bila seseorang berkiblat kepada Tuhan, berarti ia tidak lagi merasa bahwa dunia ini dan segala sesuatu yang ada padanya bisa menjadi miliknya. Ia akan bisa menghayati jiwa kemusafiran; bahwa di bumi ini kita hanya musafir. Perasaan sebagai orang yang menumpang di bumi ini harus dikembangkan. Tentu saja ia akan berusaha untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Hal ini memang sukar sekali diterapkan tetapi kita harus berusaha secara ekstrim untuk dapat mencapai atau menemukannya.

Kenyataan yang terjadi, banyak orang Kristen yang sebenarnya belum berkiblat kepada Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang masih mengharapkan dan memercayai bahwa dunia dengan segala materi serta keindahannya dapat membahagiakan atau membuat hidup dengan segala fasilitasnya terasa di Surga. Dengan berbagai fasilitas yang dimiliki merasa hidupnya menjadi lengkap dan utuh. Tidak heran kalau mereka yang tidak sungguh-sungguh mengikut Tuhan Yesus tidak mengingini langit baru dan bumi yang baru. Jika jiwa kemusafiran tidak dikembangkan sampai tua, maka seseorang tidak akan sanggup mengenakannya.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.