8. Perubahan Pola Berpikir

HIDUP BARU DALAM Tuhan pada dasarnya adalah perubahan pola berpikir, dan merupakan proses yang bertahap. Sarana untuk mengalami perubahan pola berpikir adalah kebenaran Firman Tuhan yang murni. Kalau Firman Tuhan yang diberitakan tidak benar, maka tidak membuat perubahan sesuai dengan standar Tuhan. Standar Tuhan adalah perubahan ke arah Tuhan Yesus, artinya semakin bisa bertindak dalam pola pikir (Yun. phroneo) seperti Tuhan Yesus. Pola berpikir yang diubah, dalam stadium tertentu membuat seseorang menjadi “orang yang berbeda”, dari keberadaan sebelumnya. Perbedaan dalam stadium tertentu berarti manusia lama seseorang sudah mati. Inilah yang dimaksud Alkitab bahwa kita sudah mati.1 Kematian seperti ini merupakan target yang harus dicapai oleh setiap orang percaya, sehingga seseorang bisa berkata: Hidupku bukan aku lagi.2 Hidupku bukan “aku” lagi artinya hidup “pribadi lain” yang mengambil alih atau menggantikan. Pengalaman ini merupakan pengalaman kelahiran baru. Seseorang tidak bisa dikatakan sudah lahir baru sebelum menjadi manusia yang berbeda dari sebelumnya. Hasil dari kelahiran baru ini menciptakan manusia lain yang tidak serupa dengan kebanyakan manusia.

Proses seperti ini juga sebenarnya terjadi atas mereka yang tidak menerima kebenaran. Mereka juga mengalami perubahan pola berpikir secara bertahap. Hanya, perubahan mereka kearah yang salah. Orang-orang seperti ini menjadi manusia seperti lingkungannya. Bertolak belakang dengan kehidupan orang percaya yang harus semakin tidak serupa dengan dunia ini. Keadaan manusia yang semakin serupa dengan dunia, pada stadium tertentu tidak bisa diubah lagi. Keadaan orang ini berarti telah dilahirkan oleh dunia atau dilahirkan oleh Iblis sehingga menjadi milik Iblis secara permanen atau menjadi mempelai setan. Keadaan seperti ini bukan hanya terjadi atas orang-orang di luar gereja. Tetapi juga bisa terjadi atas orang-orang Kristen yang ada di dalam lingkungan gereja. Itulah sebabnya Paulus menasihati agar kita tidak memberi kesempatan kepada Iblis.3 Kata kesempatan di sini maksudnya adalah “tempat berpijak” (Yun. topon).

Orang-orang Kristen yang masih menyukai dunia ini adalah orang-orang yang yang dikatakan oleh Tuhan Yesus sebagai “tidak rela kehilangan nyawa karena Tuhan”, tetapi mempertahankannya. Nyawa dalam teks aslinya adalah psuke, dan lebih tepat diterjemahkan dengan kata jiwa. Di dalam jiwa terdapat kehendak, pikiran dan perasaan. Orang yang mempertahankan nyawa adalah orang yang menikmati dunia seperti anak-anak dunia. Mereka berpikir bahwa hidup hanya satu kali di bumi ini dan tidak ada kehidupan di dunia lain. Padahal hidup yang sesungguhnya adalah nanti di langit baru dan bumi yang baru. Hidup di bumi hanyalah persiapan untuk memasuki kehidupan yang sesungguhnya nanti. Orang-orang Kristen ini tidak memindahkan hatinya ke dalam Kerajaan Surga. Mereka tidak berani “mati”. Ini berarti mereka tidak bersedia mengikut Tuhan Yesus.

Orang yang tidak berani mati berarti ia tidak akan hidup di dalam Kerajaan Bapa di Surga sebagai anggota keluarga Kerajaan. Orang Kristen harus memilih, apakah hidup di bumi atau hidup di Surga. Seseorang tidak dapat memilih keduanya. Kalau seseorang hidup di bumi artinya memiliki pola hidup seperti manusia pada umumnya, maka dirinya mati, yaitu tidak mendapat bagian dalam anggota keluarga Kerajaan Surga. Tetapi orang-orang yang mati di bumi ini artinya bersedia tidak menikmati dunia seperti anak-anak dunia, berarti hidup yaitu mendapat bagian dalam anggota keluarga Kerajaan Surga. Dalam hal ini tidak ada kematian tanpa kehidupan. Paulus mengatakan bahwa kita tetah mati dan hidup kita tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Jika Kristus menyatakan diri kelak, kita pun akan menyatakan diri bersama-sama dengan Dia dalam kemuliaan. Maksud ayat ini adalah apabila kita bersedia mati maka kita akan mendapat kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus.

1) Kolose 3:3 ; 2) Galatia 2:19 ; 3) Efesus 4:27

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.