8 Oktober 2014: Pengertian Menyerahkan Hati

Kalau seseorang jatuh cinta dengan perasaan cinta yang sangat kuat dan mendalam serta murni, maka ia bersedia menyerahkan hatinya kepada orang yang dicintainya. Menyerahkan hati artinya kesediaan menuruti kehendak orang yang dicintainya, berusaha memuaskan hasratnya dan bersedia menyatukan selera, cita-cita dan tujuan hidup dengan orang yang dicintainya. Demikianlah kalau seseorang mengasihi Tuhan dengan benar, maka ia akan rela menyerahkan hati kepada Tuhan. Menyerahkan hati kepada Tuhan, berarti bersedia menuruti kehendak-Nya, memuaskan hati-Nya dan bersedia memiliki pikiran dan perasaan seperti yang Tuhan Yesus miliki, sehingga menjadi satu selera, cita-cita dan tujuan dengan Tuhan (Flp. 2:5-7). Jika tidak demikian berarti belum mengasihi Tuhan secara benar. Memahami kebenaran ini kita dapati ternyata banyak orang menyatakan telah menyerahkan hati bagi Tuhan pada hal tidak sama sekali. Perjuangan hidup kita sebagai anak Tuhan yang paling berat adalah bagaimana menyerahkan hati kepada Tuhan secara benar. Kehadiran di gereja bukanlah tanda atau ciri bahwa seseorang telah mengasihi Tuhan dengan benar dan menyerahkan hati kepada Tuhan. Bahkan ketika seseorang mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan dan sekali pun menjadi pejabat gereja, itu bukanlah sebuah jaminan bahwa ia telah menyerahkan hatinya secara benar kepada Tuhan. Kalau hanya mengerjakan pekerjaan pelayanan gereja, tidak perlu berjuang untuk menyerahkan hati bagi Tuhan, sebab mekanisme pekerjaan tersebut sudah jelas dan hampir semua orang dengan mudah dapat mengerjakannya. Dengan mudah seseorang melihat orang lain melakukannya, kemudian mengikuti jejaknya. Tidak sedikit pekerjaan pelayanan menjadi sarana seseorang mencari keuntungan pribadi. Kegiatan pelayanan gereja masih membuka peluang seseorang memanfaatkannya untuk mendapat uang, kedudukan dan kehormatan manusia. Tetapi menyerahkan hati kepada Tuhan tidak mudah bisa dipelajari dari manusia lain. Seseorang harus belajar sendiri dari Tuhan melalui pekerjaan Roh Kudus. Tentu saja pembina rohani harus juga berperan di sini memberikan bimbingan. Melakukan pekerjaan Tuhan berdasarkan hati yang diserahkan pasti tertuju hanya untuk kepentingan Tuhan semata-mata, dalam hal ini tidak terdapat celah untuk memanfaatkan pelayanan demi kepentingan pribadi.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.