8. MENUKAR HAK KESULUNGAN

Sesungguhnya dapat mengenal Injil dan menjadi umat pilihan adalah anugerah yang tiada tara. Sebab kepada kita, Tuhan memberikan apa yang dikatakan dalam kitab Roma sebagai karunia sulung roh atau yang sama dengan hak kesulungan. Terkait dengan hal di atas, penulis surat Ibrani menasihati jemaat untuk tidak menukar hak kesulungan dengan semangkuk makanan (Ibr. 12:15-17: Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang. Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata). Bisa dimengerti kalau dalam tulisan Paulus di Roma 8, jemaat diteguhkan hatinya untuk tetap setia, tidak menukar hak kesulungan mereka dengan hal apapun. Bahkan, sekalipun mereka harus mengalami aniaya dan kehilangan segala sesuatu, mereka harus tetap setia.

Hak kesulungan artinya hak yang dimiliki orang percaya dimana di dalamnya terdapat kuasa (Yun. exousia) supaya bisa berkeberadaan sebagai anak-anak Allah yaitu, berkodrat ilahi. Di dalam kuasa tersebut dimungkinkan seseorang menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Hal ini sama artinya dengan dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula. Sayang sekali, Yudas lebih memilih dunia daripada hak kesulungan yang dimilikinya. Kalau seandainya Yudas mengikuti Firman yang disampaikan oleh Yesus, bahwa seseorang harus meninggalkan segala sesuatu agar layak menjadi murid-Nya (Luk. 14:33), maka ia tidak akan menjual Yesus. Yudas menukar kesempatan yang begitu berharga dengan tiga puluh keping perak yang tidak ada artinya sama sekali.

Terkait dengan hal ini, Paulus menyatakan: Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita (Rm. 8:23). Kita sebagai orang percaya yang dikatakan Paulus “telah menerima karunia sulung roh”. Karunia sulung roh dalam teks aslinya adalah ten amarkhen tou pneumatos (τὴν ἀπαρχὴν τοῦ πνεύματος). Secara harafiah, kata ini bisa berarti buah sulung atau buah pertama roh. Hal ini menunjuk kepada hak istimewa orang percaya untuk menjadi anak-anak Allah yang sah, yang ada dalam lingkungan keluarga Kerajaan dan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Karunia sulung roh sama dengan hak kesulungan. Orang yang menghayati hak kesulungannya, pasti merindukan untuk dapat dipermuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Kerinduan seperti itu hanya ada pada kehidupan anak-anak Allah yang berkualitas baik seperti Paulus. Sangat langka orang Kristen yang sampai pada level ini. Tetapi ini adalah kehidupan orang percaya yang benar, yang hatinya telah dipindahkan ke dalam Kerajaan Surga. Seharusnya kita semua mencapai pada level ini.

Mengamati penjelasan di atas, maka kita dapat menerima tuntunan bahwa untuk mengalami realisasi janji Tuhan, yaitu dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus seseorang harus rela benar-benar tidak merasa memiliki apa pun. Inilah yang disebut sebagai melepaskan diri dari segala ikatan dunia. Perjalanan hidup di bumi bagi orang percaya hanya untuk memenuhi panggilan sebagai orang yang memiliki karunia sulung roh agar menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Tidak semua orang memiliki kesempatan dan potensi untuk ini.

Kita sebagai umat pilihan dengan potensi ini hendak tidak menyia-nyiakannya. Hidup kita haruslah hanya memiliki satu agenda, yaitu bagaimana menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Kalau fokus hidup orang percaya tidak ditujukan kepada hal ini, maka berarti ia mengkhianati Tuhan Yesus, seperti Yudas yang menjual Yesus atau juga berarti menukar Yesus dengan materi. Hal ini sama dengan menukar hak kesulungan dengan kenikmatan dunia.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.