8. KERAJAAN YANG BUKAN BERASAL DARI BUMI

Salah satu kekuatan kita dalam menantang zaman adalah kesadaran dan penghayatan bahwa dunia ini bukan rumah kita. Tuhan menyatakan bahwa orang percaya bukan dari dunia ini, seperti Dia juga bukan dari dunia ini (Yoh. 17:15-16). Paulus mengatakan bahwa arena kewargaan kita adalah di dalam surga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat (Flp. 3:20). Pernyataan Tuhan Yesus di atas hendak menunjukkan bahwa orang percaya yang benar adalah orang-orang yang rumahnya bukan dunia ini. Mereka hidup di bumi ini hanya menumpang sementara sebagai persiapan untuk menetap di Kerajaan Tuhan Yesus, sebagai anggota keluarga Kerajaan Surga. Ini berarti orang percaya bukan milik dunia dan kuasa kegelapan lagi, tetapi milik Tuhan untuk dipersiapkan agar menjadi anggota keluarga Kerajaan yang akan mendiami istana Bapa di surga bersama dengan Tuhan Yesus.

Untuk hal tersebut, orang percaya harus belajar bagaimana dimiliki oleh Tuhan, sebab untuk berkeadaan sebagai milik Tuhan tidak dapat berlangsung secara otomatis. Seseorang harus hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah secara mutlak dan hidup dalam kedaulatan Allah secara absolut, maka barulah ia dapat dimiliki oleh Tuhan. Jadi, kalau seseorang tidak hidup secara demikian, maka ia tidak pernah dimiliki oleh Tuhan selamanya. Sebaliknya, ia akan selalu memiliki dirinya sendiri. Itu juga berarti tidak bisa digolongkan sebagai anggota keluarga Kerajaan. Hanya mereka yang berstatus sebagai milik Tuhan dan hidup dalam kedaulatan Allah yang termasuk sebagai anggota keluarga Kerajaan. Mereka dinyatakan sebagai “bukan berasal dari dunia ini, tetapi berasal dari atas.” Untuk menjadi milik Tuhan harus melalui proses penyangkalan diri terus menerus. Supaya dari memiliki diri sendiri berubah menjadi orang yang rela dimiliki Tuhan sepenuhnya.

Semua proses tersebut kalau diselenggarakan akan membuat seseorang menjadi “manusia yang berasal dari atas”, yaitu manusia yang taat dan menghormati Bapa secara benar. Dengan gaya hidup sebagai warga Kerajaan Surga tersebut akan menunjukkan bahwa Allah Bapa di surga adalah satu-satunya Pribadi yang layak menerima segala hormat. Inilah gaya hidup yang harus dimiliki setiap anak Allah. Mereka adalah orang-orang yang memperoleh persekutuan dengan Bapa dan Anak, sehingga dapat menjadi saksi bagi Tuhan Yesus atau menunjukkan bahwa Tuhan Yesus adalah utusan Bapa.

Orang percaya seperti di atas ini, akan dilayakkan berada di tempat di mana Tuhan Yesus berada, dan akan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Inilah kemenangan iman Kristen yang sejati, yaitu menang seperti Tuhan Yesus yang hidup dalam ketaatan secara mutlak kepada Bapa, sampai mati di kayu salib. Hanya orang-orang yang menang yang akan didudukkan bersama dengan Tuhan Yesus dalam kemuliaan-Nya. Hal ini sejajar dengan diperkenan bersama dengan Tuhan Yesus di dalam Rumah Bapa menjadi anggota keluarga Kerajaan. Nantinya, orang-orang yang diperkenan menjadi anggota keluarga Kerajaan adalah orang-orang yang berkepribadian seperti Tuhan Yesus.

Orang percaya adalah orang-orang yang akan dibawa keluar dari dunia ini ke kota yang memiliki dasar yang direncanakan dan dibangun oleh Allah sendiri. Itulah kota yang dirindukan oleh Abraham. Oleh sebab itu, kalau mau menjadi seorang yang berasal dari atas, harus meninggalkan percintaannya dengan dunia ini. Percintaan dunia artinya hasrat menikmati hidup di bumi sama seperti orang-orang pada umumnya. Kenikmatan mereka adalah kenikmatan yang ditopang oleh kekayaan dunia.

Harus diingat bahwa orang percaya tidak berkewajiban memiliki segala sarana yang ada di dunia ini. Sesungguhnya yang penting adalah melayani Tuhan dengan segala sesuatu yang Tuhan percayakan kepadanya. Jadi, kalau orang percaya studi, berkarir, bekerja, berumah tangga, dan melakukan segala kegiatan, semua itu diperuntukkan bagi kepentingan persiapan memasuki Kerajaan Surga, bukan untuk membangun pemerintahan Allah di bumi. Itulah sebabnya kita harus mengerjakan segala sesuatu untuk Tuhan, bukan untuk manusia. Dengan demikian, kita menaruh harapan, sukacita, dan kebahagiaan kita hanya pada penyataan kedatangan Tuhan Yesus nanti. Sikap hati ini akan membangun jiwa musafir yang sangat kuat, seperti yang dimiliki oleh Abraham.

Akhirnya, orang percaya hidup hanya untuk mengarahkan diri kepada perkara-perkara yang di atas. Dengan demikian orang percaya dapat menghayati kemusafirannya di bumi dengan bijak dan dapat sungguh-sungguh menunjukkan kehidupannya sebagai musafir di bumi ini. Gereja sudah hampir tidak menyuarakan hal ini. Kita harus menyuarakannya dengan keras, dan dengan tegas mendeklarasikan bahwa kita bukan berasal dari dunia ini. Dengan hal ini kita menyatakan bahwa kita menantang zaman.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.