8 Januari 2015: Roti Yang Terpecah Dan Anggur Yang Tercurah

Sering kita mendengar kalimat menjadi roti yang terpecah dan anggur yang tercurah. Banyak syair-syair lagu memuat kalimat ini yang orang Kristen ucapkan sebagai komitmen. Tuluskah komitmen mereka itu? Mengertikah mereka dengan komitmen tersebut? Sesungguhnya tidak mudah untuk memiliki komitmen tersebut. Tetapi orang Kristen yang sungguh-sungguh mengikut Tuhan Yesus harus memiliki gaya hidup yang didorong atau dimotivasi oleh komitmen tersebut. Komitmen ini disebut sebagai gaya hidup yang berbagi. Apa maksud berbagi di sini sebenarnya? Sebab kalau berbagai hanya berarti membagi sebagian milik kepada orang lain, maka filosofi ini juga dimiliki oleh banyak agama. Apa bedanya orang percaya dengan mereka? Alkitab menunjukkan bahwa sekali pun seseorang bisa memberikan seluruh hartanya, tetapi bila tanpa kasih maka sia-sia.1 Kekristenan memiliki filosofi atau kebenaran yang lebih dari berbagai ajaran dan filosofi agama manapun. Ajaran Tuhan Yesus tidak dapat dipadankan atau disejajarkan dengan filosofi dunia atau agama-agama di dunia. Apa yang diajakan Tuhan Yesus adalah hikmat dari tempat yang Mahatinggi.

Untuk ini kita harus sungguh-sungguh mempersoalkan apa landasan kita melakukan suatu perbuatan, juga dalam berbagi untuk orang lain. Tentu saja landasan kita melakukan segala sesuatu adalah kasih. Masalahnya adalah apakah kasih itu? Kasih adalah semua yang kita lakukan sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan, sebab Allah kasih adanya.2 Jadi, semua tindakan yang tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan atau di luar komando Tuhan bukanlah kasih. Di sini yang menjadi masalah bukan sekadar bagaimana berbagi dengan orang lain, tetapi apakah yang kita lakukan sesuai dengan keinginan dan rencana Tuhan atau tidak. Kasih kepada Tuhan ditandai dengan melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginan atau selera-Nya. Kasih kepada Tuhan haruslah kasih yang melebihi kasih kepada siapa pun dan apa pun.3 Dengan mengasihi Tuhan cara demikian, maka akan membuat seseorang mengasihi orang-orang yang harus dikasihi dengan benar. Kasih kepada Tuhan akan membawa dampak bukan saja bagi perasaan Tuhan yang dibahagiakan, tetapi membawa dampak bagi diri sendiri dan orang di sekitarnya, yaitu menjadikan berbagi milik bagi sesama sebagai gaya hidupnya. Inilah kehidupan yang dapat digambarkan seperti anggur tercurah dan roti yang terpecah.

Kalau kita percaya bahwa ada Allah yang menciptakan segala sesuatu termasuk menciptakan kehidupan, itu berarti bahwa hidup yang kita miliki ini adalah milik-Nya, bukan milik kita sendiri. Rancangan semula Allah adalah menciptakan makhluk yang mengerti apa yang diinginkan oleh Allah Bapa; dimana segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia sesuai dengan pikiran-Nya. Itulah tujuan manusia diciptakan, yaitu untuk menjadi serupa dengan diri Tuhan sendiri, manusia tanpa tekanan hukum dan peraturan dan bertindak sesuai dengan keinginan-Nya atau sekualitas dengan Allah Bapa. Sebagai orang percaya, gaya hidupnya harus diubah dengan gaya hidup “jika Tuhan menghendaki”.4 Hal ini bukan sesuatu yang mudah karena gaya hidup ini tidak ditemukan dalam kehidupan banyak orang di sekitar kita dan kita pun juga tidak terbiasa hidup dengan gaya hidup tersebut. Melakukan apa yang diinginkan Tuhan adalah hidup yang berkualitas atau hidup yang kekal. Inilah yang diajarkan Tuhan Yesus kepada orang muda kaya di Matius 19:16-21. Bukan sekedar melakukan hukum tetapi melakukan apa yang Tuhan inginkan. Itu berarti kalau Tuhan memerintahkan apa pun juga, kita harus lakukan. Seperti Abraham harus memberi anak satu-satunya bagi korban bakaran, ia melakukannya dengan rela. Hati seperti ini akan menciptakan kesediaan melayani Tuhan tanpa batas. Orang Kristen seperti ini bisa disebut seperti anggur yang tercurah dan roti yang terpecah. Mereka pasti diperhitungan oleh Tuhan bagi Kerajaan-Nya.

1) 1Korintus 13:3 2) 1Yohanes 4:8 3) Lukas 14:26; Matius 22:37-40 4) Yakobus 4:13-17

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.