8. Hidup Sebagai Makhluk Ciptaan

SEMAKIN HARI BANYAK manusia yang semakin fasik, artinya semakin tidak takut Tuhan dan tidak peduli kehendak-Nya, mata hati mereka semakin buta dan pikiran mereka semakin gelap sehingga tidak memahami sama sekali kodrat kehidupan. Salah satu dari kodrat itu yaitu bahwa manusia adalah makhluk ciptaan. Banyak orang Kristen sendiri juga tidak menyadari atau mengabaikan kodrat yang seharusnya terus menerus dihayati. Jika seseorang tidak tahu atau tahu tetapi tidak menghayati kodrat ini secara benar, pasti mereka bertindak ceroboh, ini merupakan langkah hidup yang membinasakan dirinya sendiri. Manusia adalah makhluk ciptaan, bahwa keberadaan manusia di bumi ada yang menciptakan dengan tujuan tertentu. Sekarang ini, pikiran atheis semakin kuat menguasai banyak manusia. Mereka tidak menghayati bahwa keberadaan mereka ada yang menciptakan. Dengan pikiran ini maka mereka merasa Allah tidak ada atau tidak perlu ada. Kalau seseorang sudah menyangkal keberadaan Allah maka perbuatan mereka pasti tidak sesuai dengan Tuhan.1

Sebagai ciptaan, manusia harus menemukan tujuan dirinya diciptakan oleh Tuhan. Tujuan hidup ini sebenarnya sederhana tetapi sukar sekali yaitu bisa bertindak sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Tujuan itu barulah ditemukan kalau manusia mengubah cara berpikirnya. Injil sebagai perangkatnya.2 Orang yang belum menemukan tujuan hidup menurut kebenaran Tuhan masih dikategorikan sebagai tersesat. Kita semua adalah orang-orang yang sebenarnya masih dalam proses kembali ke tujuan hidup yang benar tersebut. Kembali ke tujuan yang benar bukanlah sebuah proses sekejap, tetapi sebuah proses bertahap yang membutuhkan waktu. Sebenarnya setiap kali jemaat datang ke gereja dan mendengar Firman Tuhan yang benar, cara berpikir mereka diubah. Ini merupakan proses untuk dikembalikan ke tujuan yang benar dari jalan sesatnya. Oleh sebab itu seorang yang datang ke gereja hendaknya tidak berpikir bahwa dirinya sudah bebas dari kesesatan. Kesesatan bukan sesuatu yang mudah dilihat. Kesesatan ada di dalam cara berpikirnya.

Hendaknya kita tidak berpikir kalau sudah mengambil bagian dalam kegiatan gereja, menjadi aktivis bahkan menjadi pendeta berarti sudah menemukan tujuan hidup. Banyak orang Kristen tersesat dalam hal ini, tetapi mereka merasa tidak tersesat karena mereka sudah ada di lingkungan tembok gereja. Bagi mereka yang tersesat adalah orang-orang yang hidup di lingkungan pelacuran dan perzinahan, meja judi dan narkoba, korupsi dan manipulasi jabatan dan berbagai pelanggaran moral lainnya yang pantas dijebloskan ke dalam penjara pemerintah dunia. Banyak orang yang memang bermoral sangat baik dan hidup dalam kesantunan di mata manusia tetapi belum bisa selalu bertindak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Ini berarti keselamatannya belum utuh atau belum terselenggara dengan baik dalam hidup mereka.

Orang yang belum menemukan tujuan hidup ini pasti bertindak sebagai raja dalam kehidupannya sendiri. Ia merasa bebas memiliki keinginan dan bebas melakukan segala sesuatu yang menurutnya tidak menyalahi hukum Tuhan. Memang tindakan-tindaknnya tidak menyalahi hukum-hukum Tuhan tetapi belum seiring dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Banyak orang Kristen berkeadaan seperti ini, tetapi mereka merasa sudah hidup sesuai dengan Tuhan. Kalau mata pengertian mereka belum tercelik, selamanya mereka tidak pernah menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan (majikan). Orang-orang seperti ini pada dasarnya belum dapat melayani Tuhan. Tuhan hanya dijadikan alat bagi mereka untuk kesenangan pribadi. Pada dasarnya pelayanan adalah selalu bertindak sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Hal ini harus berlangsung setiap hari. Dari hal ini kemudian seseorang akan dapat menerima penugasan secara pribadi dari Tuhan untuk melakukan suatu tugas khusus berkenaan dengan penyelamatan jiwa orang lain.

1) Mazmur 14:1 ; 2) Roma 1:16-17; 12:2

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.