8. Baptisan

MASALAH BAPTISAN ROH KUDUS merupakan masalah yang selalu diperdebatkan. Bukan saja di kalangan gereja aliran karismatik, tetapi juga di kalangan gereja di luar aliran ini. Dengan banyaknya pandangan mengenai baptisan Roh Kudus, maka terjadi perdebatan dan polemik yang tidak pernah selesai hingga sekarang. Banyak pandangan simpang siur mengenai pokok ini yang membingungkan jemaat Kristen. Untuk ini kita harus menemukan pijakan yang kokoh dari Alkitab untuk memandang hal tersebut, sehingga jemaat tidak dibingungkan lagi. Untuk memperoleh pengertian yang tepat mengenai baptisan Roh Kudus, maka terlebih dahulu kita harus memahami apa yang dimaksud dengan baptisan itu. Sebenarnya baptisan bukanlah upacara agama atau tindakan sakramen yang berasal dari agama Kristen. Baptisan merupakan tradisi Yahudi. Suatu upacara yang diadakan bagi orang-orang non-Yahudi yang mau masuk agama Yahudi. Mereka harus disunat dan juga dibaptis serta memberi korban bagi Yahwe. Baptisan tersebut dikenal sebagai baptisan proselit. Kata proselit menunjuk orang-orang non-Yahudi yang menganut agama Yahudi atau yang juga dikenal sebagai agama Musa.

Dalam bahasa Ibrani baptisan untuk proselit ini disebut sebagai tevilah. Kata ini berasal dari kata kerja bahasa Ibrani taval ( (טָבלַ artinya diselam atau dicelupkan. Kata ini muncul pada waktu Naaman menyelam di sungai Yordan.1 Kata taval sejajar dengan kata baptizo (βαπτίζω) dalam bahasa Yunani.2 Pada prinsipnya, baptisan menunjuk pada kehidupan seseorang yang berkomitmen memasuki sebuah cara atau gaya hidup yang baru. Sejak seseorang dibaptis ia harus bersedia meninggalkan cara atau gaya hidupnya yang “lama” dan mengenakan cara hidup yang baru. Adapun baptisan Yohanes merupakan penegasan bahwa mereka yang memberi diri dibaptis harus memiliki buah-buah pertobatan yang benar.

Pada zaman Yohanes Pembaptis, upacara baptisan telah menjadi sekadar sebuah upacara agama atau seremonial yang kehilangan makna atau essensinya. Makna baptisan adalah kesediaan hidup dalam gaya hidup yang baru sesuai hukum Tuhan. Itulah sebabnya Yohanes Pembaptis berani berkata kepada banyak orang Farisi dan orang Saduki yang datang untuk dibaptis: “Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan”.3 Pemungut-pemungut cukai juga datang untuk dibaptis, dan bertanya kepadanya: “Guru, apakah yang harus kami perbuat?” Yohanes berkata tegas: “Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu.” Juga prajurit-prajurit bertanya juga kepadanya: “Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?” Jawab Yohanes kepada mereka: “Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu”.4 Dengan baptisan tersebut Yohanes Pembaptis mengajak umat Israel –bahkan prajurit-prajurit Roma serta para proselit lainnya- untuk hidup sesuai dengan hukum Tuhan secara konsekuen dan konsisten.

Yohanes Pembaptis mulai mengarahkan bangsa Israel pada kebenaran yang tulus dan murni. Mereka dituntut untuk sungguh-sungguh menunjukkan buah pertobatannya. Setelah dibaptis, mereka harus bersedia hidup dengan gaya hidup baru untuk memenuhi tuntutan kebenaran. Itulah sebabnya Yohanes Pembaptis disebut sebagai utusan Allah yang “mempersiapkan jalan bagi Tuhan”. Sebelum Tuhan Yesus mengajarkan kebenaran yang bersifat batiniah, Yohanes Pembaptis sudah merintisnya atau mempersiapkan jalan bagi-Nya. Baptisan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus sebenarnya pada mulanya adalah kelanjutan dari baptisan Yohanes Pembaptis. Pada prinsipnya baptisan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus melalui murid-murid-Nya adalah baptisan pertobatan yang sama dengan baptisan Yohanes Pembaptis. Tuhan Yesus sendiri tidak membaptis, tetapi hanya murid-murid-Nya.5 Setelah kebangkitan Tuhan Yesus, perintah baptisan baru dilakukan dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus atau dalam nama Tuhan Yesus Kristus, yang dilakukan oleh gereja.

1) 2 Raja 5:14 ; 2) Matius 3:6 ; 3) Matius 3:7-8 ; 4) Lukas 3:12-14 ; 5) Yohanes 4:2

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.