8. AGENDA SATU-SATUNYA

Satu hal yang sangat prinsip, dan sejatinya menjadi satu-satunya hal yang harus digumuli dalam kehidupan jemaat dan gereja, adalah kebenaran yang diajarkan oleh Tuhan Yesus untuk dikenakan dalam kehidupan orang percaya di bumi ini. Kebenaran-kebenaran yang diajarkan di dalam Injil dan tulisan rasul-rasul harus dipahami dengan benar agar orang percaya mengerti maksud keselamatan diberikan kepada umat pilihan. Keselamatan diberikan agar manusia menemukan maksud dirinya diciptakan oleh Tuhan, atau dikembalikan ke rancangan semula. Dalam hal ini, Injil dan tulisan rasul-rasul sama sekali tidak memberikan tekanan pada pemenuhan kebutuhan jasmani dan penyelesaian masalah-masalah hidup umum yang bersifat fana. Injil dan tulisan rasul-rasul selalu menekankan bagaimana memindahkan hati ke Kerajaan Surga dan hidup tidak bercacat dan tidak bercela; sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus.

Hal segambaran dan keserupaan dengan Allah, sebenarnya adalah pokok pengajaran yang hanya ada pada Kekristenan. Tidak ada agama di dunia ini yang mengajarkan umat harus sempurna seperti Tuhan yang disembahnya. Dalam hal ini, orang percaya dipanggil untuk menjadi manusia Allah (man of God) yang berkodrat Ilahi. Oleh sebab itu, pelayanan pekerjaan Tuhan harus diorientasikan pada hal ini. Hal tersebut harus menjadi agenda utama dalam pelayanan, agar jemaat benar-benar memahami dan bersedia untuk masuk ke dalam proses pembentukan manusia batiniah sampai sempurna.

Dalam banyak agama dan keyakinan tidak pernah diajarkan mengenai segambaran dan keserupaan dengan Allah serta standar atau parameternya. Menjadi manusia yang segambar dan serupa dengan Allah lebih dari sekadar menjadi orang yang hidup santun, beradab, dan beretika dengan mematuhi hukum-hukum yang ada pada agama-agama pada umumnya. Sedangkan dalam kehidupan orang percaya segambaran dan keserupaan dengan Allah adalah tujuan atau goal yang harus dicapai orang percaya. Tidak ada tujuan lain yang boleh mewarnai kehidupan orang percaya. Agenda satu-satunya kehidupan orang percaya yang menjadi umat pilihan adalah sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus.

Kalau orang-orang pada umumnya berurusan dengan allah, ilah, atau dewa sesembahan mereka adalah karena mereka menghadapi persoalan-persoalan hidup, dan biasanya hanya menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani. Mereka berharap sesembahan mereka dapat memberi pertolongan atau jalan keluar. Itulah sebabnya mereka mengadakan seremonial, ritual, atau upacara agama. Mereka mengharapkan dan berusaha memercayai bahwa allah, ilah, atau dewa sesembahan mereka menunjukkan kemukjizatan-kemukjizatan yang dapat memberi jalan keluar mudah dari berbagai persoalan hidup yang mereka hadapi. Hal ini berbeda dengan orang percaya yang benar. Orang percaya datang kepada Tuhan untuk memperkarakan maksud dan tujuan Allah menciptakan manusia, serta bagaimana seharusnya manusia menyelenggarakan hidupnya sesuai kehendak-Nya.

Jadi, seharusnya orang datang ke gereja bukan karena masalah-masalah pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi untuk menemukan kebenaran-Nya agar dapat menjadi manusia sesuai dengan maksud dan tujuan dirinya diciptakan oleh Tuhan. Jika orang percaya memahami kebenaran ini, maka ia tidak akan melirik kuasa Tuhan yang dapat melahirkan mukjizat-mukjizat. Bagi orang percaya yang benar dan dewasa, mengerti kehendak Tuhan dan melakukan kehendak-Nya lebih dari sekadar mengalami mukjizat.

Jadi kalau ada gereja dan pendetanya selalu menekankan mukjizat, maka itu berarti sebuah penyimpangan yang berdampak sangat negatif. Sebab orientasi berpikir jemaat disimpangkan dari tujuan keselamatan. Memang kelihatannya tidak melanggar Firman bahkan dianggap sangat positif, tetapi sebenarnya sebuah penyimpangan yang membuat jemaat tidak pernah menjadi anak-anak Allah yang diperkenan masuk ke dalam anggota keluarga Kerajaan.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.