7. TIDAK TERUKUR

Berbeda dengan agama-agama samawi, seperti agama Yahudi, di mana kesucian dan kebenaran hidup mereka dapat terukur, kebenaran atau kesucian hidup dalam Kekristenan tidak terukur, sebab dalam Kekristenan tidak ada hukum-hukum atau syariat seperti yang dimiliki agama Yahudi atau agama-agama samawi lainnya. Hukum yang harus dijalani dalam kehidupan orang percaya adalah Allah sendiri, yang sama dengan melakukan kehendak Allah yaitu apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna menurut Allah. Kalau Allah adalah hukumnya, maka hanya Allah yang tahu dan merasakan kesucian dan kebenaran seseorang. Manusia lain tidak akan pernah tahu dan merasakannya secara tepat, maka orang lain tidak berhak menilai atau menghakiminya.

Jika hukum yang harus dijalani adalah kehendak Allah, maka tentu saja hanya Allah yang dapat mengukur seseorang, sampai di mana ketaatannya terhadap Allah sendiri. Hanya Allah yang dapat merasakan keberkenanan seseorang terhadap diri-Nya. Hukum yang diberlakukan dalam kehidupan orang percaya adalah Allah sendiri, artinya kehendak-Nya yang menjadi hukumnya. Sesungguhnya hanya Allah saja yang dapat menilai dan merasakan kehidupan seseorang. Dengan demikian hanya Tuhan yang mengukur sampai di mana seseorang mencapai kesempurnaannya. Hanya Allah yang dapat menjadi penilai dan hakimnya.

Karena hal tersebut di atas, maka tidak ada orang percaya yang boleh merasa bahwa dirinya sudah sempurna, apalagi membandingkannya dengan sesamanya. Bagaimana dirinya tahu sudah sempurna dan membandingkannya dengan orang lain? Nilai kesempurnaan hanya ada pada Allah. Kesempurnaan setiap individu berbeda-beda sesuai dengan pandangan atau penilaian Allah atas masing-masing individu tersebut. Dengan demikian orang percaya tidak bisa dan memang tidak boleh membanggakan diri atas prestasi kerohanian atau moral yang telah dicapainya. Hal ini berbeda dengan agama samawi yang membuka peluang bagi pengikutnya untuk dapat membanggakan kesalehannya, sebab memang kesalehan mereka dapat terukur. Tetapi kesalehan hidup orang percaya tidak dapat terukur oleh manusia lain, sebab tingkat kesalehannya diukur oleh Allah dan disadari oleh diri sendiri dalam pimpinan Roh Kudus.

Orang percaya harus selalu merasa miskin di hadapan Allah, artinya kesadaran bahwa dirinya belum berkeadaan seperti target yang harus dicapai sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah (Mat. 5:3). Dengan demikian seseorang harus selalu memperbaharui pikirannya supaya semakin mengerti yang dikehendaki oleh Allah. Seiring dengan pembaharuan pikiran, orang percaya mengalami pertumbuhan dalam pengenalan akan Allah, sehingga lebih mengerti kehendak Allah. Hal ini tidak berlangsung hanya satu kali, tetapi harus terus terjadi atau berlangsung setiap hari. Dengan demikian perjalanan hidup orang percaya adalah perjalanan dari pertobatan ke pertobatan (metanoia), demi menuju kesempurnaan seperti yang dikehendaki oleh Allah.

Kalau pertobatan dalam agama samawi pada umumnya menekankan pada perubahan perilaku yang kelihatan, yaitu untuk mereka yang meninggalkan keyakinannya atau melakukan pelanggaran moral berat yang bertentangan dengan hukum-hukum agamanya, tetapi dalam Kekristenan bukan hanya perubahan perilaku secara umum (hal ini juga penting), tetapi juga perubahan pola berpikir. Perubahan pola berpikir terus menerus sampai dapat memiliki pola berpikir seperti Tuhan Yesus (Flp. 2:5-7). Jika dipersoalkan apakah orang percaya bisa mencapai kesempurnaan? Jawabnya mengapa tidak, tetapi hanya Tuhan yang tahu. Pola berpikir seseorang yang menentukan setiap perilakunya, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, yaitu sikap hatinya. Hal ini tentu saja hanya Tuhan yang tahu.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.