7. Sinful Nature Yang Berbaring

MENGISI NESHAMAH MANUSIA dengan kebenaran Firman Tuhan adalah pergumulan yang tidak mudah. Sangat besar kemungkinan inilah pergumulan manusia pertama Adam, yang disimbolkan dengan adanya dua pohon di tengah taman. Di sini Adam diperhadapkan kepada pilihan: apakah Adam mengkonsumsi buah pohon kehidupan atau buah pengetahuan yang baik dan jahat. Pada dasarnya pergumulan tersebut adalah pergumulan untuk mengisi neshamahnya dengan kebenaran yang dilambangkan dengan pohon kehidupan sehingga bisa mendengar suara Tuhan sebab neshamahnya menjadi pelita Tuhan, atau mengisinya dengan isian yang lain yang dilambangkan dengan pohon pengetahuan yang baik dan jahat sehingga neshamahnya gelap. Ternyata manusia memilih mengkonsumsi buah yang dilarang untuk dikonsumsi, maka sebagai akibatnya manusia jatuh dalam dosa atau “meleset”.1 Dengan neshamah yang diisi dengan isian yang salah maka cara memandang sesuatu menjadi kacau atau rusak. Adam dan Hawa yang tadinya tidak malu dalam keadaan telanjang, menjadi malu. Dalam hal ini yang berubah bukan aspek eksternalnya tetapi internalnya. Dari masukan yang salah ke dalam neshamah, maka terbangunlah dalam diri seseorang pola atau cara berpikir yang rusak. Dalam hal ini manusia gagal menempatkan segala sesuatu pada tempat yang benar.

Kesalahan manusia mengakibatkan manusia tidak mampu melakukan apa yang tepat sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah. Bahkan manusia melakukan tindakan yang tidak mencerminkan sebagai makhluk yang segambar dengan Allah. Peristiwa pembunuhan Habel oleh Kain merupakan gambaran yang jelas bahwa manusia mengikuti suara salah dalam dirinya.2 Kata dosa dalam teks aslinya adalah chattah ( חטַָּאָה ) yang lebih dekat diterjemahkan sinful nature atau dosa dalam arti kodrat. Kata mengintip dalam teks aslinya adalah rawbats ( רָבץַ ) juga berarti berbaring (Ing. lie down). Hal ini menunjukkan bahwa kodrat dosa sudah berbaring di dalam kehidupan manusia. Mestinya suara Tuhan yang berbaring, tetapi ternyata suara lain yang sudah berbaring. Pembunuhan terhadap Habel terjadi oleh karena Esau tidak menolak dosa yang “ mengintip” atau berbaring di dalam dirinya. Esau tidak sanggup menuruti apa yang baik, sehingga ia melakukan apa yang jahat atau salah. Keturunan Set pun yang masih dipimpin oleh Roh Allah, tetapi oleh karena memiliki sinful nature, maka mengakibatkan mereka tidak hidup sesuai dengan kehendak Allah. Dalam Kejadian 6:3, Tuhan sendiri mengakui manusia daging semata-mata (Ibr. basar; בּשָָׂר ); kecenderungannya melakukan apa yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Manusia yang mestinya mendengar suara Allah dalam neshamahnya ternyata lebih mengikuti kehendak dagingnya. Maka Roh Allah undur sampai nanti di zaman anugerah dimana Roh Allah akan menuntun manusia kembali untuk bisa menemukan suara-Nya.

Perlu kita perhatikan kata berbaring (rawbats) ini, sebab pada saat-saat tertentu sinful nature seperti tertidur, tidak memunculkan ekspresi atau perwujudannya. Tetapi di saat lain dapat bangun dan mendorong untuk melakukan suatu tindakan tertentu, yang tentu saja bertentangan dengan kehendak Allah. Itulah sebabnya kadang-kadang ada orang bisa berbuat kebaikan tetapi tiba-tiba bisa melakukan perbuatan yang keji dan memalukan. Hal ini menunjukkan, kalau seseorang mengisi dirinya dengan banyak filosofi yang salah, hal tersebut menjadi potensi untuk melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Potensi seperti ini dapat dimatikan melalui proses keselamatan yang dikerjakan dengan sunguh-sungguh. Proses keselamatan mengubah sinful nature menjadi devine nature.

1)Roma 3:23; 2) Kejadian 4:7

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.