7. Siap Menghadapi Segala Sesuatu

MANUSIA ADALAH MAKHLUK yang terbatas, tidak mampu mengontrol dan memprediksi hari esoknya, jangankan hitungan tahun atau bulan, hitungan detik pun manusia tidak mampu mengontrolnya. Manusia tidak tahu apa yang akan terjadi dalam hidupnya ke depan, baik hitungan detik dan menit, apalagi hitungan hari, minggu, bulan dan tahun. Firman Tuhan mengatakan: “… sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap”.1 Manusia tidak tahu apa yang akan terjadi di waktu ke depan yang sama dengan tidak tahu kapan hari kematiannya. Hidup manusia seperti uap, artinya waktu hidup manusia sangat singkat. Setelah mati manusia harus menghadapi kekekalan. Kalau direnungkan dengan serius, betapa rentannya hidup manusia. Ini adalah keadaan yang dahsyat. Kedahsyatan hidup yang tidak disadari oleh hampir semua manusia. Sehingga langkah hidup mereka benar-benar ceroboh. Kalau ada yang mengingatkan hal ini, mereka yang mengingatkan dianggap tidak berpikir realitis, tidak logis, utopis (pemimpi), ekstrim serta tuduhan lain.

Manusia yang tidak berakal budi sehat tidak memedulikan hari esoknya setelah kematian. Mereka sibuk dengan segala rancangan dan cita-cita2 tanpa memedulikan perasaan Tuhan yang meletakkan rancangan-rancangan indah kepada masing-masing individu. Rancangan Tuhan adalah setiap orang menjadi manusia sesuai dengan kehendak-Nya dan bisa melakukan tugas khusus yang dipercayakan kepada masing-masing, karena memang manusia diciptakan hanya untuk Tuhan; Penciptanya. Tetapi manusia sibuk dengan mencari kesenangan sendiri dan berharap dengan meraih apa yang dicita-citakan. Mereka lupa kematian bisa menjemput setiap saat tanpa pandang usia. Kepada orang-orang seperti itu Firman Tuhan katakan: “Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.”3 Orang yang dimaksud dalam Lukas 12:20-21 adalah orang yang sukses dalam kehidupan di bumi ini menurut pandangan manusia pada umumnya, tetapi ia ternyata orang paling gagal di mata Tuhan di kekekalan, karena ia tidak kaya di hadapan Tuhan.

Seharusnya manusia selalu menghayati keadaan dirinya yang terbatas dan tidak tahu sama sekali apa yang akan terjadi ke depan. Oleh sebab itu setiap saat kita harus dalam keadaan berkenan kepada Tuhan. Satu hal yang selalu menjadi obsesi hidup ini seharusnya adalah “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.”4 Maksudnya adalah bahwa setiap hari segala sesuatu yang kita lakukan berkenan di hadapan-Nya atau yang dikehendaki-Nya. Tidak ada sesuatu yang kita lakukan di luar kehendak dan yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Firman Tuhan mengatakan: Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.5 Ayat ini jelas menunjukkan bahwa orang percaya harus selalau tahu apa yang baik yang dikehendaki oleh Allah dan melakukannya. Ini sungguh suatu perjuangan yang berat. Tetapi inilah irama hidup yang harus dimiliki orang percaya. Melatih irama hidup seperti ini bukanlah mudah, tetapi harus belajar untuk selalu menemukan apa yang baik menurut Tuhan untuk dikerjakan dan selalu mengerjakannya dengan suka cita. Jika orang percaya bisa melakukan kehendak-Nya dan berkeadaan berkenan, hari esok bukan sesuatu yang menakutkan. Orang-orang seperti ini berhak memiliki jaminan pemeliharaan Allah secara sempurna, bahkan kematian pun menjadi sesuatu yang indah sekali. Di darat, laut dan udara selalu percaya bahwa Tuhan yang kehendaki kita lakukan selalu menyertai. Tetapi orang yang hidup hanya untuk menyenangkan diri sendiri dengan segala cita-citanya, tidak pantas berharap pemeliharaan dan perlindungan Tuhan.

1) Yakobus 4:14 ; 2) Yakobus 4:13 ; 3) Lukas 12:20-21 ; 4) Yakobus 4:15 ; 5) Yakobus 4:17

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.