7. PENYIMPANGAN DALAM PELAYANAN

Ketika dunia mengalami resesi dan banyak kesukaran menimpa manusia – seperti krisis ekonomi, politik, sosial, ekologis berupa bencana alam, dan lain sebagainya – maka Tuhan ditawarkan sebagai solusi bagi manusia agar dapat terhindar dari kesulitan-kesulitan hidup. Tidak dapat dibantah, menurut survei dan hasil riset dalam bidang sosiologi, dikatakan bahwa masyarakat yang sedang dilanda kesukaran lebih mudah bertuhan atau beragama daripada masyarakat yang nyaman dengan kehidupannya. Dalam kondisi kehidupan masyarakat yang sulit, gereja menjadi alternatif yang dicari orang untuk mendapat jalan keluar. Dengan demikian, di tengah-tengah masyarakat yang menghadapi kesulitan hidup, gereja lebih banyak dikunjungi orang. Faktanya, tidak dapat dibantah apa yang selama ini terjadi di sekitar kita, demikianlah adanya. Gereja menjadi tempat untuk menemukan Tuhan guna menyelesaikan masalah-masalah pemenuhan kebutuhan jasmani dan jalan untuk menghindarkan diri dari berbagai kesulitan hidup.

Ketika gereja hanya menjadi tempat untuk memperoleh jalan keluar dari berbagai kesulitan hidup di bumi berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan jasmani, maka terjadi praktik pelayanan rohani yang mirip dengan praktik perdukunan. Maksud praktik perdukunan adalah bahwa gereja dan semua pelayan-pelayannya menggunakan kuasa Tuhan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan jasmani yang terjadi dalam kehidupan umat Tuhan. Sama seperti dukun-dukun yang “menjual jasa” dengan membuat praktik-praktik mukjizat guna penyelesaian masalah-masalah hidup yang bertalian dengan pemenuhan kebutuhan jasmani. Dengan isi pelayanan seperti ini, maka gereja mengabaikan maksud keselamatan yang diberikan Allah kepada manusia, yaitu dikembalikannya manusia kepada rancangan Allah semula, menjadi segambar dan serupa dengan Allah.

Demikian faktanya yang terjadi di banyak gereja hari ini, gereja menyelenggarakan praktik pelayanan yang mekanismenya seperti dalam praktik perdukunan di dunia yang tidak mengenal Allah. Gereja-gereja palsu tersebut mempromosikan mukjizat dengan menggunakan kuasa Tuhan untuk penyelesaian masalah pemenuhan kebutuhan jasmani. Dengan mudahnya gereja-gereja tersebut menjanjikan penyelesaian masalah yang dihadapi jemaat, mulai dari masalah ekonomi, bisnis, kesehatan, jodoh, keinginan memiliki keturunan, dan lain sebagainya.

Kalau kita tidak teliti, maka kita bisa tertipu oleh praktik pelayanan gereja-gereja yang sudah menyimpang dari kebenaran tersebut. Mereka memperkenalkan Yesus sebagai sosok yang dapat peduli dengan persoalan pemenuhan kebutuhan jasmani, tanpa mengajarkan dengan benar bagaimana harus mengikuti jejak hidup-Nya. Tentu saja Tuhan Yesus juga sangat peduli dengan masalah pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi sesungguhnya Tuhan Yesus lebih peduli pada proses pertumbuhan rohani agar pengikut-Nya menjadi seperti Diri-Nya.

Mengikut Yesus berarti menjalani kehidupan seperti yang pernah dijalani oleh Yesus, yaitu hidup hanya untuk melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Oleh sebab itu, orang percaya yang benar tidak lagi mempersoalkan pemenuhan kebutuhan jasmani. Melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya merupakan satu-satunya hal yang diperjuangkan melebihi segala sesuatu. Tanpa disadari, praktik pelayanan yang mirip dengan perdukunan mengakibatkan penyimpangan. Mukjizat menjadi komoditas utama orang-orang yang mengaku “hamba Tuhan” dan yang mendeklarasikan diri (terang-terangan maupun terselubung) mewakili Tuhan untuk menolong umat-Nya. Tanpa mereka sendiri sadari, mereka menjual nama Tuhan selain untuk kepentingan materi, juga kebesaran nama sebagai karir di dalam gereja lokal maupun di dalam sinode suatu gereja.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.