7. PENGHARAPAN YANG HILANG

Pengajaran mengenai “kebangkitan” adalah pokok penting dalam Alkitab yang harus dipahami dengan benar. Sayang sekali, sekarang ini jarang terdengar pengajaran mengenai kebangkitan. Hal tersebut disebabkan oleh karena ketidaktahuan para pendeta atau hamba Tuhan bahwa pengajaran mengenai kebangkitan adalah hal yang penting, sehingga mengabaikan pokok pengajaran ini. Mereka tidak memahami pengajaran mengenai kebangkitan, sehingga tidak dapat mengajarkannya kepada orang lain. Ironinya, mereka tidak mau belajar mengenai hal kebangkitan dengan sungguh-sungguh. Rasul-rasul, khususnya Paulus, menekankan hal kebangkitan ini dalam pemberitaannya. Dalam Alkitab Perjanjian Baru terdapat beberapa ayat yang menunjukkan dan membuktikan besarnya peran dan pentingnya pengajaran mengenai kebangkitan. Dalam pemberitaan Firman atau penginjilan, hal kebangkitan merupakan isi utama dalam pemberitaan Paulus (Kis. 4:2,33; 17:32; Ibr. 6:2). Dalam Ibrani 6:2, tertulis bahwa hal kebangkitan termasuk asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus. Kebangkitan merupakan landasan atau dasar iman Kristen (1Kor. 15:14-15).

Tegas sekali pernyataan Paulus, andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kami. Kebangkitan merupakan dasar pengharapan kehidupan orang percaya (Kis. 24:15, 21; Flp. 3:10-11). Dari ayat-ayat yang tertera di sini, sangat jelas bahwa demi kebangkitan, Paulus menggumuli hidup imannya. Ia berkata: Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati. Tujuan akhir Paulus yang juga menjadi kerinduannya yang sangat kuat adalah pengharapan memperoleh kebangkitan dari antara orang mati.

Harus diakui dengan jujur, tatkala kita menjumpai realitas sakit penyakit, kenyataan meninggalnya orang yang kita kasihi, atau kenyataan kematian kita sendiri, hal ini menyadarkan betapa “fananya” hidup ini. Kita hanya menumpang di bumi ini. Untuk ini, manusia sungguh-sungguh membutuhkan tubuh kemuliaan. Kebutuhan ini sering tidak disadari, tetapi suatu saat semua orang akan menyadari bahwa inilah kebutuhan terpenting untuk hidup manusia sampai kekekalan. Tubuh yang kita miliki hari ini adalah tubuh yang sangat tidak berkualitas jika dibandingkan dengan tubuh kebangkitan yang akan dikaruniakan oleh Tuhan kepada kita nanti pada hari kebangkitan. Paulus menyebut tubuh fana kita sebagai tubuh yang “hina”. Tubuh kita sekarang ini adalah tubuh fana yang kita kenakan hanya selama kita menumpang di bumi. Alkitab berkata bahwa … Tuhan Yesus … akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia (Flp. 3:20-21). Tubuh yang kita miliki sekarang ini harus mengalami proses penuaan dan pembusukan (corruptible). Tubuh dapat sakit, menua dan aus, akhirnya mati. Tetapi tubuh kemuliaan tidak dapat binasa (inccoruptible). Tubuh fana artinya dapat mati (mortal), tetapi tubuh kemuliaan tidak dapat mati (immortal).

Bisa dimengerti kalau murid-murid dan orang percaya gereja mula-mula tidak takut kehilangan harta, keluarga, bahkan nyawa mereka sendiri, sebab mereka percaya adanya kebangkitan dari antara orang mati. Kematian sama sekali tidak menakutkan lagi bagi mereka. Mereka menaruh pengharapan sepenuhnya kepada kehidupan yang akan datang. Dalam tulisan rasul-rasul, kita menjumpai bahwa rasul Paulus pun kalau harus memilih hidup atau mati, ia memilih mati untuk bisa bertemu dengan Tuhan. Tetapi kalau dirinya masih hidup, ia harus bekerja memberi buah.

Hari ini kita melihat fakta bahwa ajaran tentang pengharapan dari antara orang mati sudah nyaris lenyap dari gereja. Walaupun diucapkan dalam pengakuan iman setiap hari Minggu, tetapi tidak dihidupi dalam kehidupan secara konkret setiap hari dalam kehidupan orang Kristen. Pengharapan kebangkitan dari antara orang mati, kedatangan Tuhan yang menjemput orang percaya di awan-awan permai, Yerusalem baru, pesta Anak Domba Allah dan sejenisnya, nyaris tidak pernah terdengar di gereja. Gereja telah kehilangan pengharapan utama yang seharusnya digemakan secara terus-menerus dan menjadi bagian hidup yang tidak terpisahkan. Oleh sebab itu, kita sebagai orang percaya yang mengenal kebenaran, harus mengembalikan berita utama ini di tengah-tengah jemaat dan dunia. Selain itu, kita sendiri juga harus sungguh-sungguh merindukannya, sehingga kita menghidupinya setiap hari. Dengan demikian kita dapat menantang zaman.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.