7. Menerima Aplikasi Injil

INJIL YANG DIKENAL murid-murid lebih berupa aplikatif daripada kognitif. Mereka lebih menerima dan memahami Injil dalam implikasinya daripada teori teologi dogmatisnya. Faktanya, mereka menjadi orang-orang Kristen yang sejati. Kebenaran ini luar biasa, dapat membungkam kesombongan orang-orang yang merasa memiliki teologia yang tinggi padahal kehidupan mereka tidak sesuai dengan Injil Tuhan Yesus Kristus. Harus diakui, pada waktu itu murid-murid Tuhan Yesus adalah orang-orang sederhana yang tidak berpendidikan tinggi seperti Paulus. Di bawah asuhan Guru Agung, mereka menjadi pelaku Injil yang konsekuen sehingga mereka menjadi seperti surat yang terbuka.1 Ada beberapa pertimbangan penting yang harus dipahami, agar kita dapat memahami Injil dari perspektif yang benar dan menjadi pelakunya.

Pertama, kehidupan orang percaya pada waktu itu lebih fokus kepada bagaimana meneladani gaya hidup Tuhan Yesus secara konsekuen dan konsisten. Mereka tidak memperdebatkan konsep-konsep teologi yang berkepanjangan, tetapi memperkarakan bagaimana memiliki gairah hidup seperti yang dikenakan oleh Tuhan Yesus. Percaya mereka kepada Tuhan lebih pada tindakan daripada pengaminan akali atau persetujuan pikiran. Keadaan pada waktu itu memang mengkondisi orang percaya untuk menjadi pelaku Firman atau tidak pernah menjadi orang Kristen sama sekali. Warisan ini sangatlah penting untuk diterima dan harus terus diamalkan. Kita tidak boleh menggantikan jantung atau esensi Injil -yaitu menjadi serupa dengan Tuhan Yesus- dengan sekadar datang ke gereja untuk mengikuti misa atau liturgi. Ingat, Kristen artinya seperti Kristus.

Kedua, orang-orang yang mengajar seperti para rasul adalah orang-orang yang mengalami Tuhan secara langsung, maka api mereka menyala luar biasa. Dalam hal ini bagaimanapun orang yang sungguh-sungguh mengalami Tuhan dapat lebih efektif memengaruhi orang lain. Jemaat harus hati-hati terhadap pemalsuan-pemalsuan kesaksian dari orang-orang yang mengaku memiliki pengalaman dengan Tuhan, padahal ia mengarangnya sendiri. Hidup orang seperti ini tidak akan membawa pengaruh yang benar terhadap sesamanya. Hal ini memberi pelajaran yang mahal bagi pengajar-pengajar zaman sekarang. Hendaknya kita tidak mengajar hanya karena sudah berbekal sekolah teologia. Bekal yang penting juga adalah “mengalami Tuhan” secara riil dalam kehidupan. Sehingga ketika seseorang berkotbah dan mengajar, bukan hanya berdasarkan tulisan buku dan pengetahuan, tetapi pergaulan pribadi dengan Tuhan.

Ketiga, bergantung sepenuhnya kepada Roh Kudus. Sementara menggali kekayaan Alkitab, kita harus selalu ada dalam kesadaran bahwa Roh Kuduslah yang dapat menyingkapkan rahasia Firman-Nya. Hal ini hendaknya tidak mengurangi seorang anak Tuhan -apalagi pembicara Kristen- untuk belajar terus menerus Alkitab secara benar berdasarkan prinsip-prinisp hermeneutik yang baik. Roh Kudus tidak akan memakai orang bodoh dan yang malas berlajar secara ideal. Karena Tuhan adalah pribadi yang cerdas, maka orang percaya harus menumbuhkan dan mengasah terus kecerdasannya. Orang yang belajar Firman Tuhan dengan tekun -karena didorong kerinduannya untuk menjadi serupa dengan Tuhan Yesus dan agar dapat menggarami banyak orang- berarti membuka diri untuk dipimpin oleh Roh Kudus. Roh Kudus akan menolong orang percaya yang memiliki sikap hati yang benar untuk mengerti kebenaran yang orisinal dari Tuhan.

Keempat, fokus mereka sepenuhnya tertuju kepada Tuhan dan Kerajaan Surga dalam kebenaran Alkitab. Bisa dimengerti kalau mereka memperoleh lebih banyak daripada orang-orang di zaman sekarang ini, yang menjadikan belajar Alkitab adalah bagian dari hidup tetapi tidak menganggap sebagai suatu hal penting. Kita harus menerima kenyataan bahwa hidup di bumi ini semata-mata hanya untuk mengenal Tuhan. Dengan mengenal Tuhan secara benar, maka seseorang dapat menemukan Tuhan.

1) 2Korintus 3:1-3

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.