7. MAKSUD MENJUAL YESUS

Kalau Yudas mau mengerti dan menerima bahwa Kerajaan Tuhan Yesus bukan berasal dari dunia ini, maka ia tidak akan menjual Yesus. Tuhan menyatakan bahwa orang percaya bukan dari dunia ini, seperti Dia juga bukan dari dunia ini (Yoh. 17:15-16). Paulus mengatakan bahwa karena kewargaan kita adalah di dalam surga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat (Flp. 3:20). Orang percaya adalah orang-orang yang akan dibawa keluar dari dunia ini ke kota yang memiliki dasar yang direncanakan dan dibangun oleh Allah sendiri. Orang percaya hidup hanya untuk mengarahkan diri kepada perkara-perkara yang di atas. Dengan demikian, orang percaya dapat menghayati kemusafirannya di bumi dengan bijak dan dapat sungguh-sungguh menunjukkan kehidupannya sebagai musafir di bumi ini. Jika Yudas melakukan hal ini, maka ia tidak akan menjual Yesus.

Hal kedua, kalau seandainya Yudas tidak diperbudak oleh uang, maka ia tidak akan menjual Yesus. Uang sudah menjadi segala-galanya bagi Yudas, dan sekarang ini hampir bagi semua orang. Hampir segala hal dihubungkan dengan uang. Uang digunakan untuk memperoleh segala kebutuhan, mulai dari kebutuhan primer, sekunder, sampai tersier. Uang dapat membuat mata hati menjadi gelap, sehingga seseorang bisa bertindak “brutal” seperti Yudas yang menjual Yesus. Uang telah menjadi fokus hidup satu-satunya pada hampir semua orang. Mereka menjadi hamba uang. Menjadi hamba uang artinya hidup seseorang dikendalikan atau dikuasai oleh uang. Dunia yang materialistis menciptakan keadaan di mana uang menjadi “segalanya” dan menjadi pusat kehidupan. Mereka berusaha untuk memiliki uang dalam jumlah besar, dengan pemikiran bahwa semakin banyak uang yang dimiliki, maka semakin merasa aman dan nyaman. Hal ini yang juga ada dalam pikiran Yudas, sehingga karena hal tersebut, ia membinasakan dirinya. Kalau ada orang Kristen yang memiliki sikap hati seperti Yudas, suatu saat mereka pasti akan menjual Yesus.

Cinta uang artinya keadaan hati yang merasa tidak bahagia jika tidak memiliki uang dalam jumlah tertentu, yang diharapkan dapat membahagiakan dirinya. Orang seperti ini akan selalu mengharapkan dan berusaha memiliki uang dalam jumlah yang lebih banyak untuk dapat memenuhi semua keinginannya guna membeli atau memperoleh sesuatu. Biasanya ia juga tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Sebenarnya, bukan uang itu sendiri yang dicintai, tetapi segala sesuatu dalam dunia ini (dari barang, kepuasan daging, kedudukan, dan kehormatan) yang dapat diraih dengan uang. Tentu semua itu diharapkan dapat membahagiakan hidupnya. Dengan demikian, orang seperti ini hidupnya bergantung pada kekayaan.

Oleh sebab itu, orang percaya harus bersikap benar terhadap uang agar tidak terjebak dalam cinta akan uang. Sikap yang benar adalah menjadikan kekayaan atau uang sebagai alat untuk bersahabat dengan Tuhan. Kita mengikatkan diri dengan Tuhan atau bersahabat dengan Tuhan, menggunakan Mamon atau uang. Bukan sebaliknya, yaitu bersahabat dengan Mamon dengan menggunakan Tuhan. Jadi, kalau kita bekerja mencari uang, tujuannya semata-mata karena kita mau melayani Tuhan. Uang menjadi sarana yang luar biasa untuk memenuhi rencana Tuhan. Yudas seperti banyak orang Kristen hari ini, menggunakan Tuhan untuk sarana meraih dunia dengan segala berkat jasmani demi kesenangannya.

Kalau kita tidak dengan sungguh-sungguh memeriksa diri kita sendiri dan menemukan keadaan kita yang sebenarnya, terkait dengan masalah bahwa Kerajaan Tuhan Yesus bukan berasal dari dunia ini, dan juga terkait dengan masalah uang, maka kita bisa menjadi seperti Yudas. Kita harus memperkarakan keadaan diri kita di hadapan Tuhan. Kalau kita belum sanggup menghayati bahwa kerajaan Tuhan Yesus bukan berasal dari dunia ini dan masih terikat dengan percintaan uang, maka kita harus bertobat dan berubah total. Tuhan akan menolong kalau kita berusaha untuk berubah.

Sebagaimana Yudas menjual Yesus, demikian pula banyak orang Kristen hari ini yang memiliki karakter seperti Yudas. Karakter Yudas adalah karakter yang tidak terfokus kepada perubahan dari manusia berkodrat dosa kepada manusia yang berkodrat ilahi. Ia masih terikat dengan percintaan dunia dan mengharapkan kenikmatan hidup di bumi. Orang Kristen dan pendeta yang masih berkarakter seperti ini, cepat atau lambat pasti menyangkali imannya atau berkhianat kepada Yesus. Untuk berkhianat, mereka tidak harus pindah agama, tetapi dengan tidak hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah, hal itu sudah merupakan sebuah tindakan pengkhianatan.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.