7. Doa Sepuluh Hari

DEWASA INI MASIH dapat kita temukan gereja-gereja yang merayakan Pentakosta secara tidak tepat. Mereka mengadakan Doa Sepuluh Hari menjelang hari Pentakosta dengan harapan terjadi pencurahan Roh Kudus seperti yang terjadi tahun 30 Masehi di Yerusalem. Doa Sepuluh Hari yang diadakan oleh banyak gereja aliran Pentakosta menunjukkan antara lain, pertama sebagai hari “penantian Pencurahan Roh Kudus”. Ini sangat keliru, sebab Roh Kudus sudah dicurahkan, Roh Kudus tidak perlu dinantikan lagi. Penantian seperti ini berarti menyangkali bahwa Allah Bapa sudah menggenapi janji-Nya. Nubuatan nabi Yoel yang tertulis dalam Yoel 2:28-30 dan nubuatan Yohanes Pembaptis dalam Matius 3:11, semua sudah selesai digenapi.

Berkenaan dengan hal ini, orang percaya harus memahami pengertian tentang akhir zaman. Yoel 2:28-30 menunjuk penggenapan janji Tuhan di akhir zaman. Sejatinya, akhir zaman sudah dimulai sejak penuangan Roh Kudus di Yerusalem 2000 tahun yang lalu. Kesalahan yang sering terjadi adalah selalu menghubungkan kata “akhir zaman” dengan hari-hari terakhir kedatangan Tuhan di akhir dunia ini. Kesalahan inilah yang membuahkan begitu banyak tafsiran yang salah tentang akhir zaman. Hal tersebut bisa terjadi sebab adanya praktik “pemerkosaan” informasi ayat Alkitab tersebut, dimana hal itu bermaksud untuk menciptakan “skenario sendiri” tentang akhir zaman. Sebagai akibatnya, jemaat disesatkan. Penjelasan akhir zaman ini bertujuan meluruskan pemahan kita tentang akhir zaman. Kalimat “… pada hari-hari terakhir” dalam teks ini1 tidak selalu menunjuk kepada kedatangan Tuhan di akhir dunia ini. Sebab ayat kutipan dari Yoel 2:28 digenapi pada zaman gereja mula-mula berdiri (tahun 30 Masehi). Dengan uraian ini maka jelaslah bahwa kita tidak lagi menunggu pencurahan Roh Kudus di akhir zaman, sebab Roh Kudus sudah dicurahkan.

Kedua, Doa Sepuluh Hari juga mengisyaratkan seakan-akan pada hari menjelang peringatan Pentakosta, Roh Kudus bekerja lebih giat dibanding hari lain. Padahal Roh Kudus sudah dicurahkan dan bekerja giat setiap hari. Tidak ada masa-masa tertentu Roh Kudus bekerja giat sedangkan masa lain Tuhan tidak giat. Tidak ada musim Roh Kudus bekerja dan musim Roh Kudus tidak bekerja. Roh Kudus bekerja sepanjang waktu dan musim. Kalau seakan-akan ada lawatan khusus Tuhan atas umat-Nya, hal itu terjadi karena umat yang tidak berjalan dalam jalan-Nya, sehingga perlu lawatan. Seharusnya tidak perlu terjadi, sebab setiap saat Tuhan menyediakan segala berkat dan kehadiran-Nya tanpa batas. Ketiga, mereka berpendirian bahwa hari menjelang Pentakosta lebih diberkati untuk menyambut Roh Kudus dari pada hari yang lain. Pemuliaan hari seperti ini merusak kebenaran, sebab Alkitab berkata bahwa tidak ada satu hari lebih dari hari yang lain. Oleh sebab itu hendaknya kita tidak menganggap pada peringatan menjelang Pentakosta Roh Kudus akan bekerja lebih dari hari yang lain. Hal ini mengesankan bahwa Roh Kudus memiliki musim. Pendirian seperti ini membuat orang Kristen tidak memperlakukan Roh Kudus secara konsisten, di suatu saat mereka giat mencari Roh Kudus, tetapi di saat yang berbeda mereka tidak merasa perlu Roh Kudus.

Keempat, biasanya pada Doa Sepuluh Hari perasaan jemaat dirangsang untuk meledak guna menerima Roh Kudus, sehingga terjadi urapan palsu (pseudo anounting). Urapan palsu membuahkan bahasa roh palsu dan berbagai karunia palsu lainya. Emosi menjadi tidak terkendali sehingga tidak melatih orang menguasai diri dan menjadi dewasa. Kalau tradisi ini dibiasakan, maka akan mengakibatkan pola doa yang meledakkan emosi, sehingga tidak membangun sebuah percakapan yang natural dengan Tuhan. Hal terpenting dalam menyambut Pentakosta adalah kita diingatkan kembali akan karya Roh Kudus yang harus dominan dalam pelayanan pekerjaan Tuhan, sebab tanpa Roh Kudus gereja kehilangan kuasa sama sekali. Kuasa itu diberikan Tuhan bagi pelayanan, baik pelayanan keluar atau penginjilan, maupun pelayanan ke dalam.2 Roh Kudus adalah satu-satunya yang dapat mendampingi dan menuntun orang percaya sehingga keselamatan dapat digenapi.

1) Kisah 2:17 ; 2) Matius 1:8

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.