7. DIDIKAN BAPA

TUJUAN KESELAMATAN yang ada dalam proses pengesahan berstatus sebagai anak Allah, harus nampak jelas dalam kehidupannya setiap hari. Orang yang tidak ada dalam proses ini, tidak mengalami atau tidak menerima didikan Bapa. Tentu saja penyebabnya adalah diri orang tersebut yang menolak menerima didikan Bapa. Dalam hal ini Bapa tidak bersikap diskriminatif. Bapa selalu bersikap adil dengan ukuran keadilan yang sempurna yang juga diajarkan kepada kita. Tidak mungkin kepada seseorang Tuhan memberi didikan-Nya dan kepada orang lain tidak. Jelas-jelas Tuhan tidak menghendaki seorang pun binasa.1 Bapa menginginkan setiap umat yang terpilih menerima didikan-Nya untuk diubah menjadi anak-anak-Nya. Kalau akhirnya seseorang menolak didikan-Nya, walaupun Bapa sudah memberi kesempatan, maka ketika orang tersebut tertolak dari hadirat Bapa atau terbuang ke dalam api kekal, tentu kesalahan tidak terletak pada Bapa tetapi kepada orang itu sendiri. Dengan demikian pengadilan dapat digelar secara fair (adil). Di sini nampak tanggung jawab setiap individu.

Firman Tuhan berkata kalau seseorang tidak menerima didikan Bapa berarti anak gampang.2 Tentu saja orang-orang Kristen seperti ini tidak mengerti hak dan kewajibannya sebagai anak Allah. Mereka hanya sibuk dengan perkara dunia. Bagi mereka belajar Firman Tuhan dengan serius dan tekun bukan hal yang penting. Sebaliknya, menikmati rumah, mobil, hiburan dunia, perhiasan, barang ber-branded, wisata dan kesenangan dunia lain merupakan hal penting dan utama dalam hidup ini. Mereka akan berusaha menambah kekayaan mereka sebagai kesenangan atau kebahagiaan dan jaminan ketenangan hidup. Dengan cara hidup demikian mereka merendahkan nilai-nilai rohani dan kekekalan. Inilah orang-orang yang dimaksud Paulus sebagai seteru salib Kristus dimana pikiran mereka hanya tertuju kepada perkara-perkara duniawi.3 Mereka terjebak dalam siklus kehidupan yang monoton sampai jantung mereka berhenti berdetak. Pagi hari bangun, pergi kerja, sore pulang dari kerja atau bisnis, makan malam dan nonton TV atau film layar lebar kemudian berakhir di pembaringan. Demikian terulang lagi pada esok dan esok berikutnya. Hal ini berlangsung terus sampai usia mereka habis.

Biasanya orang-orang seperti ini -jika menghadapi persoalan yang tidak membuat mereka nyaman- barulah berurusan dengan Tuhan. Mereka ke gereja pun hanya supaya mereka terlindungi dari berbagai kesulitan hidup di bumi ini. Mereka tidak mengerti bahwa kehidupan selama tujuh puluh tahun merupakan proses untuk bagaimana menjadi anak Allah yang sah. Tentu saja mereka tidak peduli apakah dirinya sudah sah sebagai anak Allah atau belum. Mereka hanya mau senang-senang saja hidup di bumi ini dengan standar manusia pada umumnya. Padahal Firman Tuhan mengajari kita agar kita tidak serupa dengan dunia ini.

Bagaimana bisa orang yang hanya mau menikmati kesenangan dalam hidup ini menerima didikan dari Bapa? Didikan dari Bapa sering berupa kesulitan-kesulitan dan keadaan yang tidak menyenangkan. Tidak mungkin seseorang dapat menjadi dewasa tanpa proses yang menyakitkan. Didikan Bapa dimaksudkan agar seseorang dapat mengambil bagian dalan kekudusan Allah. Ini berarti

tidak mudah menjadi anak Allah yang sah. Memang semua manusia pada dasarnya adalah anak Allah sebab roh yang ada pada manusia adalah roh yang berasal dari Allah, tetapi mereka yang rohnya (neshamah) belum didewasakan atau belum disempurnakan masih berstatus anak gampang atau anak yang tidak sah. Keselamatan merupakan proses mengubah manusia dari anak gampang menjadi anak yang sah. Proses keselamatan adalah proses dilahirkannya seseorang oleh Allah.4 Dalam Yohanes 1 ini jelas sekali bahwa mereka yang menerima-Nya yaitu mengakui bahwa Tuhan Yesus sebagai pemilik kehidupan, diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah.

1) Yohanes 18:9 ; 2) Ibrani 12:8 ; 3)Filipi 3:18-19 ; 4)Yohanes 1:11-12

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.