7 Desember 2014: Merayakan Tuhan

Kita pasti setuju bahwa Tuhan adalah kekayaan abadi. Oleh karena hal ini pemazmur mengatakan bahwa selain Dia tidak ada yang diingini di bumi (Mzm. 73:25). Satu hal yang patut dipersoalkan adalah seberapa banyak atau seberapa dalam kita telah memiliki Tuhan? Terkait dengan hal ini Tuhan Yesus mengatakan: Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Tuhan (Mat. 5:3). Kata miskin dalam teks ini adalah ptokos (πτωχός) yang artinya tidak berdaya sama sekali. Miskin di hadapan Tuhan berarti merasa bahwa ia belum memiliki Tuhan sebagaimana mestinya. Orang seperti ini akan selalu merasa kurang, sehingga memiliki kehausan akan Tuhan. Hal ini akan memacu seseorang mencari Tuhan dan menjadikan Tuhan sebagai hasrat hatinya. Kita harus menyadari bahwa pengenalan kita akan Tuhan secara kognitif atau pengertian nalar dan pengalaman dengan Tuhan masih sangat miskin. Seharusnya kita berusaha untuk memiliki lebih banyak. Tuhan yang tidak terbatas membuka diri seluas-luasnya untuk dikenali dan dimiliki. Untuk ini harus ada usaha yang sungguh-sungguh serius dengan segala pengorbanan. Jika tidak, maka kita bisa berkeadaan seperti orang kaya dalam Lukas 12:16-21. Ia sukses dalam kehidupan ekonomi di bumi ini tetapi tidak kaya di hadapan Tuhan. Kaya di hadapan Tuhan dalam teks aslinya eis theon plouton (εἰς θεὸν πλουτῶν) yang bisa diterjemahkan kaya di dalam Tuhan. Kalau orang kaya ini menunjuk orang Kristen berarti ia seperti Esau yang menukar hak kesulungannya dengan semangkuk makanan (Ibr. 12:16-17). Anugerah yang tidak ternilai untuk bisa memiliki Tuhan tidak digunakan dengan baik, malah sebaliknya mengisi hari hidupnya untuk perkara fana dunia ini. Dalam Lukas 12:16-21 dikisahkan mengenai orang kaya yang selalu menambah jumlah kekayaan dan memperbesar lumbung-lumbung untuk menampung kekayaannya. Hal ini bisa menjadi gambaran kehidupan orang percaya yang juga tidak boleh berhenti menambah pengenalan dan pengalamannya akan Tuhan dan memperbesar wilayah hidupnya bagi Tuhan. Kemudian bisa berkata: Jiwaku, ada padamu Tuhan semesta alam, harta abadi; beristirahatlah, bersukacitalah. Kata beristirahatlah dalam Lukas 12:19, anapauo (ἀναπαύω) yang sama dengan istirahat dalam Matius 11:29. Kata bersenang-senanglah dalam teks aslinya adalah euphraino (Yun. εὐφραίνω) yang lebih tepat diartikan sebagai merayakan. Dalam Alkitab bahasa Inggris versi King James diterjemahkan merry. Kesalahan banyak orang adalah merasa puas dengan apa yang telah dicapai dalam hubungannya dengan Tuhan tetapi merasa tidak puas dengan apa yang dicapai berkenaan dengan masalah harta dunia. Pada dasarnya orang Kristen seperti ini masih memiliki irama hidup seperti orang kaya dalam Lukas 12 tersebut yaitu mencari perhentian dan kesenangan pada fasilitas dunia ini dan merayakannya setiap hari. Dari satu perayaan ke perayaan yang lain. Dari satu kesenangan ke kesenangan yang lain. Merayakan kehidupan ini dengan cara orang fasik yang akan binasa juga ditunjukkan dalam Lukas 16:19-31. Melalui kebenaran ini kiranya mata pengertian kita dicelikkan untuk melihat rahasia kehidupan yang berkelimpahan, yaitu selalu mencari Tuhan untuk menambah pengenalan dan pengalaman akan Tuhan. Ini seharusnya selalu menjadi satu-satunya hal yang paling menarik dalam hidup kita dan yang selalu kita rayakan. Dari satu pengenalan ke pengenalan berikut, dari suasana hadirat-Nya yang indah ke hadirat-Nya yang lebih besar. Tidak ada hari tanpa merayakan Tuhan, walau di tengah kemiskinan, aniaya, tekanan dan berbagai keadaan yang tidak menyenangkan secara umum. Dan kita merasa bahwa inilah satu-satunya perhentian kita.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.