6. TERUKUR

Banyak orang Kristen tidak mau mengerti bahwa orang percaya dipanggil untuk sempurna. Sempurna di sini adalah sempurna dalam ukuran manusia sesuai dengan yang ditargetkan atau dikehendaki oleh Allah untuk dicapai seseorang. Tentu saja kesempurnaan masing-masing individu sesuai dengan kapasitas yang dapat dicapai oleh masing-masing individu tersebut. Dalam hal ini setiap komunitas dan individu memiliki tuntutan yang berbeda-beda. Bagi umat pilihan Perjanjian Lama, mereka hanya dituntut untuk melakukan hukum Taurat sebaik-baiknya atau sesempurna mungkin. Tetapi untuk umat Perjanjian Baru, mereka dituntut untuk serupa dengan Tuhan Yesus. Standar sempurnanya bukan hukum, tetapi Tuhan sendiri. Itulah sebabnya orang percaya harus berprinsip: Tuhan adalah hukumku.

Ukuran sempurna bagi umat Perjanjian Lama adalah melakukan hukum Taurat. Ini berarti masing-masing orang memiliki ukuran yang sama yang dapat dibuktikan atau terukur. Sehingga seseorang dapat menyatakan bahwa dirinya tidak bercacat, yang sama dengan sempurna. Seperti Paulus dalam kesaksian mengenai hidupnya sebelum mengenal Tuhan Yesus, bahwa berdasarkan kebenaran melakukan hukum Taurat, dirinya tidak bercacat (Flp. 3:6). Dalam hal tersebut Paulus bisa menunjukkan kepada masyarakat di sekitarnya, bahwa ia tidak berbuat suatu kesalahan apa pun yang melanggar hukum Taurat. Kata “tidak bercacat” dalam teks aslinya adalah amemptos (ἄμεμπτος). Kata ini berarti blameless, deserving no censure, free from fault or defect (tidak bercacat, pantas tidak terhukum, bebas dari kesalahan). Dengan demikian, kesucian hidupnya yang berdasarkan Taurat dapat terukur.

Orang-orang yang beragama Yahudi seperti Paulus juga dapat memiliki keberadaan yang sama dengan Paulus. Mereka dapat menyatakan diri sebagai orang saleh, orang benar, dan orang yang tidak bercacat. Pada umumnya agama-agama seperti agama Yahudi yang memiliki hukum tertulis sebagai standar kebenaran atau kesuciannya, kualitas moral, etika, dan perilakunya dapat terukur. Bisa dimengerti, kalau mereka merasa diri sudah benar, sehingga tidak merasa membutuhkan keselamatan dari korban salib Tuhan Yesus Kristus dan mereka juga tidak merasa perlu untuk bertobat. Mereka hanya merasa perlu bertobat jika mereka meninggalkan agamanya atau melakukan pelanggaran moral berat yang bertentangan dengan hukum agamanya.

Agama seperti agama Yahudi tersebut dapat mengukur apakah seseorang dipandang melanggar hukum atau tidak. Jika melanggar hukum, maka dikenai sanksi atau hukuman. Dalam Taurat terdapat sanksi-sanksi terhadap para pelanggar hukum, dari hukuman ringan, denda sampai pada hukuman mati seperti dirajam batu. Bisa dimengerti kalau agama-agama samawi seperti agama Yahudi ini dapat membangun sebuah sistem masyarakat dan negara berdasarkan hukum agama. Berbeda dengan Kekristenan yang tidak memiliki hukum atau syariat seperti agama samawi tersebut. Kekristenan tidak dapat membangun suatu negara berdasarkan hukum atau syariat Kristen. Negara atau Kerajaan orang percaya yang berdasarkan Tuhan sendiri sebagai hukumnya hanya ada di langit baru dan bumi yang baru.

Negara yang dibangun berdasarkan hukum agama membangun filosofi dasar bahwa pelanggaran terhadap hukum negara sama dengan pelanggaran terhadap hukum Allah. Itu juga berarti, bahwa pelanggaran terhadap hukum sama dengan dengan perbuatan dosa. Dan perbuatan dosa patut mendapat sanksi atau hukuman. Itulah sebabnya mereka dengan keras dan kejam dapat menghukum seseorang secara semena-mena. Mereka berbuat demikian dengan anggapan sedang membela Allah. Seperti kasus Stefanus yang dirajam batu oleh orang-orang beragama (Kis. 7:1-60). Tindakan seperti itu adalah tindakan persekusi yang dihalalkan.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.