6. Terlepas Dari Unsur Kekafiran

PADA ZAMAN GEREJA mula-mula, Tuhan mengijinkan orang percaya mengalami aniaya yang hebat. Melalui aniaya tersebut mereka dipisahkan dari dunia agar tidak melestarikan unsur-unsur kekafiran dalam hidup mereka. Orang percaya dipaksa meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya. Petrus menulis bahwa aniaya juga membuat orang percaya berhenti berbuat dosa.1 Dengan demikian aniaya pada zaman itu merupakan berkat Tuhan bagi gereja-Nya agar menjadi perawan suci yang tidak bercacat dan tidak bercela bagi Kristus, sang Mempelai Pria. Paulus mengatakan bahwa penderitaan adalah karunia. Dalam suratnya ia menulis: Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia.2 Tuhan Yesus juga menyatakan agar orang percaya tetap merasa berbahagia walaupun teraniaya. Inilah Kekristenan yang sejati.

Sekarang gereja tidak lagi mengalami aniaya seperti pada zaman gereja mula-mula, apakah berarti orang percaya bisa tenang? Justru kondisi ini berbahaya bagi iman Kristen yang sejati. Dengan kondisi ini dunia terbuka bagi orang percaya untuk bisa meraih sebanyak-banyaknya yang disediakan dunia. Ini sangat berbeda dengan zaman gereja mula-mula dimana pintu dunia tertutup sama sekali. Namun demikian, walau dunia terbuka selebar-lebarnya bagi orang Kristen tetapi mestinya gereja yang sudah dewasa -yaitu berumur 2000 tahun- sudah harus bisa menempatkan diri sebagai umat pilihan dengan gaya hidup yang berbeda dengan dunia ini. Gereja yang dewasa -gereja yang siap diterbangkan ke langit baru dan bumi baru- adalah orang-orang percaya yang siap dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus.

Dengan keadaan nyaman yang berbeda dengan orang percaya abad pertama, sangatlah sulit bagi orang percaya yang hidup di abad 21 untuk memiliki gaya hidup yang berbeda dengan dunia ini. Dewasa ini orang Kristen hidup di dunia yang membuka kemungkinan dan memberi peluang sebesar-besarnya untuk ada dalam kenyamanan hidup seperti manusia pada umumnya. Bahkan kita tidak dapat menemukan bagaimana hidup seperti domba-domba sembelihan, artinya menjadi orang-orang yang tidak memiliki pengharapan apa-apa di bumi ini. Banyak orang Kristen membangun berbagai pengharapan untuk menikmati dunia hari ini.

Seharusnya kita berpikir bahwa tidak ada pengharapan apa pun yang kita nantikan di bumi ini. Inilah yang namanya memindahkan hati ke Surga. Kita harus memperhatikan pernyataan Firman Tuhan bahwa kita sudah mati.3 Kata mati (Yun. apothnesko;ἀποθνῄσκω) hendak menunjukkan bahwa cara hidup manusia pada umumnya dengan segala filosofinya tidak boleh ada lagi dalam kehidupan seorang yang ada di dalam Kristus. Tuhan menghendaki agar tidak ada sisa sedikit pun unsur kekafiran dalam hidup kita. Kata kafir dalam Galatia 2:17 adalah the manner of gentile. Kata manner dalam teks aslinya adalah ethnikos (ἐθνικῶς). Kata ini menunjuk pola etnis atau kehidupan bangsa-bangsa pada umumnya. Ini adalah pola berpikir dan gaya hidup yang tidak sesuai dengan kebenaran Injil yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Kalau jujur, pola berpikir dan gaya hidup kekafiran masih melekat di dalam hidup kita.

Melepaskan unsur kekafiran dari hidup kita adalah hal yang sulit. Banyak di antara kita yang tidak sanggup dan berani melepaskannya. Kalau di zaman Perjanjian Lama, Tuhan memerintahkan agar bangsa Israel memusnahkan bangsa Kanaan dari negeri mereka, hal itu dimaksudkan agar unsur kekafiran sekecil apa pun tidak diberi peluang untuk masuk ke dalam kehidupan umat Tuhan. Tuhan menyatakan bahwa terang tidak dapat dipersekutukan dengan kegelapan. Kita harus melepaskan segala sesuatu untuk mengikut Tuhan Yesus. Persahabatan dengan dunia berarti permusuhan terhadap Allah. Semua pernyataan Tuhan tersebut mengisyaratkan bahwa keberadaan kita sebagai anak-anak Tuhan harus bersih dari unsur kekafiran.

1) 1Petrus 4:1; 2) Filipi 1:29; 3) Kolose 3:3

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.