6. SIKAP YANG BENAR TERHADAP MUKJIZAT

Sikap orang percaya terhadap mukjizat harus benar, sebab hal ini bertalian dengan hubungan kita dengan Tuhan. Sikap yang salah terhadap mukjizat akan menempatkan diri kita menjadi salah pula di hadapan-Nya. Sebaliknya, sikap yang benar terhadap mukjizat akan membuat kita dapat menempatkan diri secara benar di hadapan-Nya dan menempatkan Tuhan di tempat yang sepantasnya. Pengajaran dan praktik pelayanan mukjizat dewasa ini kalau tidak disikapi dengan benar bisa menyesatkan umat, sehingga mereka tidak mengenal keselamatan dengan benar. Ketika Alkitab menyebut mengenai mesias palsu, hal tersebut bukan hanya ditujukan kepada mereka yang mengaku dapat menyelamatkan manusia atau tokoh-tokoh agama di luar Kristen, tetapi juga bagi para pendeta yang menampilkan diri sebagai mesias konsep orang Yahudi. Orang-orang Yahudi menginginkan mesias yang dapat memenuhi kebutuhan jasmani mereka, di dalamnya termasuk mukjizat yang dapat membuat kehidupan mereka nyaman di bumi dan memperoleh banyak kemudahan hidup.

Dewasa ini banyak pendeta memperkenalkan diri sebagai penyembuh. Memang mereka tidak secara langsung mengatakan bahwa dirinya yang menyembuhkan penyakit jemaat. Tetapi kesan kuat yang hendak disampaikan kepada jemaat adalah bahwa dirinya memiliki karunia untuk menyembuhkan penyakit. Kesan itu sampai pada pengakuan bahwa pendeta-pendeta itu memiliki hak untuk mendemonstrasikan mukjizat. Bahkan dikesankan secara terselubung, bahwa pendeta itu yang memiliki kuasa. Dalam hal ini, masalahnya bukan hanya terletak pada mukjizat itu sendiri, atau perilaku pendeta tersebut, tetapi atmosfer pengajaran atau pendidikan rohani yang dihadirkan dalam pelayanan tersebut. Atmosfer yang dihadirkan adalah “pemenuhan kebutuhan jasmani”. Memang tubuh sehat atau kesembuhan merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan manusia (Jemaat harus mengusahakannya secara maksimal dengan tanggung jawab). Tetapi jemaat hendaknya tidak lupa bahwa keselamatan dalam Yesus Kristus tidak difokuskan pada hal tersebut. Keselamatan dalam Yesus Kristus berorientasi pada dikembalikannya manusia kepada rancangan Allah semula.

Kita percaya bahwa Allah yang menjadi Bapa kita adalah Allah yang memiliki kekuasaan yang tidak terbatas atas alam semesta ini. Sebagai anak-anak Allah, kita pasti memiliki jaminan pemeliharaan Tuhan yang sangat ajaib. Namun ini bukan berarti kita dapat menggunakan kuasa Tuhan sesuka kita sendiri, seakan-akan kita dapat menggunakan kuasa Tuhan kapan saja dan dalam segala hal menurut selera kita sendiri. Ketika seseorang belum dewasa rohani, maka ia berusaha untuk memercayai kuasa Allah dan kadang mengklaimnya seakan-akan memiliki hak untuk menggunakannya. Biasanya, konsep yang dimiliki dalam pikiran mereka mengenai Tuhan adalah bahwa Tuhan menghendaki orang Kristen memercayai kuasa-Nya. Semakin memercayai kuasa Allah, maka mukjizat yang diyakini semakin bisa terjadi. Ini pikiran yang salah dalam kehidupan orang-orang Kristen yang tidak atau belum dewasa.

Banyak pendeta mengajarkan sesuatu dari Alkitab, tetapi tidak memerhatikan konteksnya. Seperti mengenai perempuan yang sakit pendarahan dalam Matius 9:20-21 dan Markus 5:25-30. Kata “menjamah” dalam teks aslinya adalah haptomai (ἅπτομαι) yang sebenarnya juga berarti to fasten one’s self to, adhere to, cling to (mengikatkan diri pada, mematuhi, berpegang erat). Perempuan itu memegang erat-erat jubah Tuhan dan meyakini bahwa ia akan sembuh. Dan faktanya, ia memang menjadi sembuh. Namun kasus ini tidak bisa dikenakan kepada semua orang dan dalam situasi yang berbeda.

Dari kasus ini juga tidak boleh dipahami bahwa kalau kita percaya atau yakin kepada suatu yang kita harapkan dapat terjadi, maka hal itu benar-benar akan terjadi. Dalam hal ini seakan-akan Allah bisa diatur. Ada beberapa kasus lain yang mengesankan bahwa Allah bisa diatur oleh percaya atau pikiran manusia, seperti misalnya, kisah hamba perwira di Kapernaum (Mat. 8:5-10). Kita harus melihat konteks ayat dan kisah-kisah tersebut dengan ketat agar tidak salah memahami maknanya.

Bagi orang Kristen yang dewasa, pasti ia tidak memaksa Allah menunjukkan kuasa mukjizat-Nya. Ia akan lebih berhati-hati dalam menyikapi kuasa Allah. Orang Kristen yang dewasa berusaha mengerti kehendak Allah dan melakukan kehendak Allah. Harus selalu kita ingat, bahwa orang yang dikenal Tuhan bukan mereka yang mengalami mukjizat atau yang melakukan mukjizat, tetapi yang melakukan kehendak Bapa. Dalam hal ini bukan berarti kita anti mukjizat. Mukjizat harus ditempatkan pada tempat yang benar. Harus ditegaskan bahwa mukjizat yang dilakukan seseorang tidak menentukan perkenanan dirinya di hadapan Tuhan.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.