6 September 2014: Kuasa Kebangkitan-Nya

Berkiblat dalam kehidupan orang Kristen bukan hanya berarti mengarahkan diri pada satu arah seperti orang Yahudi yang kalau berdoa menghadap ke arah atau berkiblat ke Yerusalem. Tetapi berkiblat dalam kehidupan orang percaya adalah langkah aktif untuk mencapai suatu tujuan dalam gerak yang aktif terus menerus setiap saat. Hal ini bukan hanya menujukan pikiran atau perhatian kepada salah satu obyek sesaat atau sementara waktu tetapi seluruh kegiatan dan kesibukan hidup diarahkan kepada hanya satu tujuan saja. Paulus menunjukkan kiblat atau arah hidupnya ketika ia menyatakan: … melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus…. mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. (Flp. 3:12-14).

Paulus mengatakan bahwa ia belum sempurna dan belum memperoleh apa yang dituju atau hendak dicapainya. Dalam Filipi 3:14 jelas sekali tujuan hidup kekristenannya yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. Panggilan Surgawi, artinya sampai akhirnya ia diperkenan masuk dalam keluarga Kerajaan Allah. Hal inilah yang seharusnya menjadi kerinduan kita di atas segala kerinduan. Seperti Paulus harus berjuang, demikian pula kita. Untuk mencapai tujuan tersebut yang harus dilakukan anak Tuhan adalah bersikap seperti Paulus yang kesaksiannya: Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati (Flp. 3:10-11). Paulus yang sudah begitu hebat masih harus terus bertumbuh mengenal Tuhan dan mengalami Tuhan. Mengenal kuasa kebangkitan-Nya, artinya mengalami Tuhan yang hidup dan nyata bukan Tuhan yang mati. Kuasa kebangkitan Tuhan juga bisa berarti kekuatan atau gairah untuk sungguh-sungguh dapat taat sama seperti Dia taat, sehingga oleh ketaatan-Nya Ia dibangkitkan (Ibr. 5:7). Selanjutnya persekutuan dalam penderitaan-Nya, artinya berjuang untuk pekerjaan Tuhan sampai merasakan penderitaan. Belum bisa dikatakan perjuangan sebelum sampai mengalami penderitaan. Akhirnya serupa dengan Tuhan dalam kematian-Nya, artinya sepenuhnya hidup hanya untuk kepentingan Bapa di Surga dengan segala pengorbanan.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.