6. PENGANTARA UMAT

TATA LAKSANA KEHIDUPAN Kristiani yang benar bila dipahami maka akan meruntuhkan tembok pemisah antara imam dan awam, pendeta dan jemaat, profesi rohani dan profesi sekuler atau duniawi. Tembok pemisah tersebut menciptakan suasana seperti yang ada pada agama Yahudi, juga yang ada pada agama-agama kafir dalam kehidupan orang percaya. Strata dalam gereja menciptakan isyarat bahwa seseorang membutuhkan “manusia lain” sebagai pengantara untuk menjangkau Allah atau dewa yang disembah. Jadi seseorang tidak bisa menghampiri Allah atau dewa yang disembah tanpa pengantara-pengantara tersebut. Harus ditegaskan bahwa dalam kehidupan orang percaya, tidak dibutuhkan manusia sebagai pengantara. Pengantara satu-satunya bagi orang percaya adalah Tuhan Yesus Kristus, sebab Dia adalah Anak Allah yang bersama-sama dengan Bapa sejak semula. Kalau di Perjanjian Lama terdapat strata dalam kehidupan umat, hal itu karena Tuhan menunjuk suku Lewi -khususnya keturunan Harun- untuk menjadi imam dan dikhususkan untuk pekerjaan rohani. Pola strata dalam Perjanjian Lama tidak dikenal dalam Perjaniian Baru. Bukti adanya strata dalam gereja hari ini adalah munculnya tokoh-tokoh tertentu yang mengesankan bahwa mereka bisa menaikkan doa yang lebih didengar dan dijawab oleh Tuhan. Seakan-akan mereka memiliki “license” menghampiri takhta Tuhan dan menarik berkat-Nya. Inilah yang menyebabkan seseorang tidak berusaha bergumul mencari Tuhan. Mereka mengandalkan doa pendeta atau orang-orang yang dianggap sebagai “juru syafaat atau pendoa syafaat”. Padahal semua kita harus menjadi pendoa syafaat bagi yang lain; kita harus saling mendoakan.

Pemahaman yang salah ini memperkerdil kehidupan orang percaya. Mereka berpikir picik dan tidak bertumbuh sebagai anak-anak Tuhan yang harus memiliki hubungan khusus secara pribadi dengan Tuhan. Justru kehadiran orang-orang yang mengaku sebagai orang yang “dekat dengan Tuhan” atau “orang istimewanya Tuhan” tersebut menghalangi orang percaya untuk memiliki persekutuan yang eksklusif dengan Tuhan. Kebutuhan seorang pengantara antara umat dan Allah diciptakan oleh orang-orang ini. Hal itu mereka lakukan karena mereka memiliki motif-motif yang terselubung, tetapi mereka sendiri tidak menyadari. Motif itu antara lain adalah hasrat untuk dikultuskan dan keuntungan materi.

Dengan adanya strata dalam gereja, tanpa disadari pula terjadi “perbudakan atau penjajahan rohani”. Orang-orang yang mengaku sebagai “hamba Tuhan” menguasai kehidupan orang-orang tulus dari jemaat awam untuk hidup di bawah kekuasaannya. Ini juga sebenarnya yang disebut sebagai “politik agama” (religious politics). Di masyarakat yang menghargai nilai-nilai agama dan menjunjung tinggi para pemimpin agama atau rohaniwannya, hal ini mudah terjadi. Jabatan rohaniwan dapat menjadi alat untuk menempatkan diri sebagai “wakil Tuhan” di dunia yang juga bisa berfungsi sebagai pengantara antara umat dan Allah. Oleh karena adanya orang-orang yang menampilkan diri sebagai pengantara ini maka banyak jemaat tidak merasa perlu mencari Tuhan untuk memiliki pengalaman pribadi dengan Tuhan. Mereka menyerahkan urusan dengan Tuhan melalui tokoh-tokoh tersebut.

Tanpa disadari dengan adanya kelompok rohaniwan atau ekstrimnya ada orang-orang yang ditokohkan sebagai “orang suci”, maka dalam kehidupan orang percaya terdapat dualisme ukuran atau ukuran ganda. Ada sekelompok orang yang memiliki kedudukan khusus di hadapan Tuhan tanpa landasan yang jelas. Biasanya mereka juga memiliki standar khusus dalam kehidupannya. Sedangkan orang percaya pada umumnya tidak memiliki kedudukan khusus seperti mereka dan tidak memiliki standar yang sama dengan mereka. Padahal Alkitab tidak pernah mengajarkan demikian. Memang tidak bisa dibantah adanya orang-orang khusus dan istimewa di hadapan Tuhan, berdasarkan kehidupan pribadi yang takut akan Tuhan, mengasihi Tuhan, hidup dalam kesucian seperti yang Tuhan kehendaki dan membela Tuhan tanpa batas. Mereka adalah orang-orang yang istimewa di mata Tuhan. Tetapi hal ini bukan berdasarkan aturan manusia atau tradisi gereja, seperti lulus sekolah tinggi teologia, disahkan sinode menjadi pejabat gereja, semakin menanjak karirnya sehingga menjadi pemimpin sinode dan lain sebagainya.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.