6. PEMBERITAAN YANG SEIMBANG

Jika kita mempromosikan tentang surga, maka kita juga harus berbicara tentang neraka. Keseimbangan ini perlu, sebab jika tidak ada keseimbangan maka berita tentang surga kurang menarik atau tidak menarik sama sekali. Ketidakjelasan mengenai neraka bisa berakibat tidak adanya juga kejelasan mengenai surga. Sesemangat meneriakkan surga, sesemangat itu pula seharusnya meneriakkan realitas neraka. Faktanya dari berbagai survei yang diadakan beberapa pihak, ternyata lebih banyak orang sadar realitas surga daripada neraka.

Pemberitaan yang tidak seimbang ini juga sesungguhnya merupakan bagian dari manuver kuasa kegelapan untuk membinasakan banyak orang, termasuk orang-orang Kristen. Hal ini paralel dengan pemberitaan Firman yang menekankan kasih Allah, tetapi tidak mengajarkan mengenai keadilan dan kesucian Allah. Demikian pula dengan pemberitaan yang tidak sembang mengenai keselamatan yang terjadi bukan karena perbuatan, tetapi hanya oleh anugerah karena iman. Tidak dijelaskan bahwa perbuatan yang dimaksud adalah perbuatan berdasarkan hukum-hukum seperti yang dikenali oleh orang Yahudi; perbuatan berdasarkan Taurat. Dan iman sendiri bukan sekadar pengaminan akali dalam pikiran atau nalar. Iman adalah tindakan, yaitu penurutan terhadap kehendak Allah.

Karena kesalahan memahami keselamatan, banyak orang Kristen merasa sudah memiliki iman karena sekadar sudah setuju bahwa Yesus adalah Juru Selamat, padahal itu bukanlah iman atau percaya. Itu hanya mengakui status Yesus. Mereka sudah merasa telah memiliki surga dan meyakini kalau mati pasti masuk surga. Kemudian diajarkan bahwa semakin meyakini kalau mati masuk surga, maka kemungkinan masuk surga semakin besar. Mereka tidak diajar untuk bagaimana hidup tidak bercacat dan tidak bercela dengan melakukan kehendak Bapa. Karena berpikir keselamatan bukan karena “perbuatan”, maka mereka tidak terpacu dan bergumul untuk melakukan kehendak Bapa. Ini keadaan yang sangat membahayakan. Mereka bisa binasa, sebab iman mereka palsu.

Mereka yang tidak pernah berpikir realitas neraka akan merasa aman, karena hidup tanpa ancaman penghukuman kekal. Padahal rasa aman mereka adalah aman semu yang menjerumuskan manusia kepada sikap tidak berjaga-jaga. Sikap seperti inilah yang diharapkan terbentuk dalam kehidupan orang percaya, sehingga mereka menjadi mangsa empuk kuasa kegelapan. Sama seperti kesediaan menerima fakta sakit penyakit, maka orang berusaha menjaga kesehatan, fakta kemiskinan maka orang bekerja keras untuk menjadi kaya, fakta kegagalan maka orang berusaha untuk sukses, demikian pula fakta neraka akan membuat orang berusaha dengan sungguh-sungguh segenap tenaga untuk menemukan keselamatan agar terhindar dari neraka.

Keselamatan dalam Yesus Kristus menjadi semakin berarti kalau kita memberitakan realitas neraka dengan jelas. Kita akan lebih menjunjung tinggi nilai keselamatan oleh penebusan Tuhan Yesus Kristus kalau kita mengerti bukan hanya ada keindahan surga tetapi juga ada kedahsyatan kengerian neraka. Tentu kemudian kualitas ucapan syukur karena bebas dari neraka menjadi ucapan syukur yang jauh lebih berkualitas. Hal ini juga akan memicu seseorang mengasihi Tuhan, berusaha tidak melukai hati Tuhan dengan melakukan kehendak-Nya, serta melayani Tuhan untuk menggenapi rencana-Nya. Kalau kita menyadari kebaikan Tuhan yang menghindarkan kita dari neraka yang memuat api kekal, hal ini akan mendorong kita untuk membalas kebaikan Tuhan.

Tidak jelasnya berita mengenai neraka berakibat pula tidak jelasnya panggilan memiliki kelakuan yang berkenan kepada Tuhan. Sejatinya, berita mengenai neraka secara tidak langsung mengingatkan manusia adanya realitas penghakiman. Segala sesuatu yang dilakukan manusia harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan (Rm. 14:12; 2Kor. 5:9-10 dan lain-lain). Keadilan Tuhan memperhadapkan manusia kepada kemuliaan kekal (surga) atau kehinaan kekal (neraka). Hal ini harus mewarnai jiwa setiap orang percaya agar dalam meniti hari hidup di bumi, ia melakukannya dengan bijaksana.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.