6 Oktober 2014: Terikat Dengan Dunia

Orang percaya yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus harus mengikuti jejak-Nya, artinya memiliki prinsip hidup yang sama seperti Dia. Kalau prinsip hidup Tuhan Yesus adalah melakukan kehendak atau keinginan Bapa maka orang percaya harus memiliki prinsip yang sama juga. Bila melakukan kehendak Bapa menjadi prinsip hidup dan menyatu dalam jiwa maka melakukan kehendak Bapa adalah ikatan yang sama dengan belenggu. Ibarat rasa, melakukan kehendak Bapa adalah satu-satunya kenikmatan hidup. Seperti seseorang yang sudah terbiasa makan jenis makanan tertentu yang dirasakannya enak, maka baginya hanya makanan itu yang enak dan membahagiakan. Seharusnya orang percaya hanya merasa bahagia kalau melakukan kehendak Bapa. Kenyataan yang ada dalam kehidupan banyak orang, yang mengikat atau membelenggu hidup mereka adalah keinginan mereka sendiri yang mencintai dunia. Perasaan bahagia mereka ditopang oleh perkara-perkara dunia, yaitu kekayaan dan kehormatan manusia. Menjadi orang percaya berarti belajar untuk melepaskan diri dari belenggu tersebut sehingga bisa mengenakan prinsip hidup seperti yang dikenakan oleh Tuhan Yesus. Masalahnya, memiliki prinsip hidup seperti Tuhan Yesus yang hidupnya hanya untuk melakukan kehendak atau keinginan Bapa, bukanlah sesuatu yang mudah. Ini adalah hal yang tersulit dalam hidup, hal mana sama dengan membunuh diri sendiri. Membunuh keinginan dari diri sendiri berarti membunuh semua ambisi dan cita-cita. Tentu saja ini adalah hal yang tidak wajar menurut ukuran manusia umum, sebab pada umumnya manusia hidup hanya untuk mencari kesenangan diri sendiri. Tetapi bagaimana pun, orang percaya mutlak harus belajar melakukannya. Inilah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus menyangkal diri (Mat. 16:24). Selama seseorang masih hidup hanya untuk menyenangkan diri sendiri, berarti masih terikat dengan dunia atau terbilang duniawi, sebab keinginan diri sendiri berasal dari apa yang diserap dari dunia sekitarnya. Biasanya yang diserap dari dunia adalah keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup (1Yoh. 2:15-17). Orang yang hidup dalam orientasi hal-hal tersebut berarti masih belum merdeka atau hidup dalam belenggu. Inilah cara hidup yang diwarisi dari nenek moyang. Setelah menjadi orang percaya, Tuhan Yesus mengajar kita untuk memiliki cara hidup yang berbeda yaitu cara hidup-Nya sendiri yaitu melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan rencana-Nya.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.