6. Iman Yang Dibenarkan

ALKITAB MENYATAKAN bahwa Injil adalah kuasa Allah yang menyelamatkan.1 Dari pernyataan ini diperoleh pelajaran bahwa seseorang tidak akan selamat walaupun merasa percaya kepada Tuhan Yesus, kalau ia tidak memahami Injil-Nya. Memahami Injil dimaksudkan untuk membersihkan semua filosofi dalam pikiran yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Bagi murid-murid dan orang Kristen mula-mula, mereka dipaksa untuk mengenal Injil, sebab mereka harus mempertanggungjawabkan apa yang mereka percayai kepada masyarakat yang pada umumnya menolak Injil. Dalam Roma 1:17 Paulus mengatakan: Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman”. Kalimat “bertolak dari iman” artinya mereka harus berani percaya walaupun hal tersebut sulit diterima oleh akal sehat. Bagaimana mereka harus memercayai sosok manusia anak tukang kayu yang mengaku Anak Allah, bangkit dan naik ke surga? Sementara pada waktu itu berita resmi dari pemerintah adalah bahwa mayat Tuhan Yesus dicuri oleh para pengikut-Nya. Mereka berusaha untuk menjadi saksi melalui perbuatan mereka. Perbuatan mereka laksana cahaya di laut yang gelap yang menarik ikan datang untuk dijala. Perdebatan-perdebatan teologi dan filsafat sering tidak mengubah cara berpikir yang salah dan tidak dapat memenangkan jiwa seseorang untuk menjadi orang percaya. Tetapi perbuatan yang seirama dengan Tuhan Yesus dapat memukau manusia lain dan menyaksikan kebenaran Tuhan.

Dalam ayat 17 tersebut ada dua kata iman. Pertama (bertolak dari iman), adalah iman yang berada di kawasan atau level “pengaminan akali” atau persetujuan pikian. Untuk zaman sekarang, hal ini sangat mudah. Banyak orang Kristen yang dikarenakan orang tua beragama Kristen maka mereka otomatis menjadi Kristen juga. Ada juga yang disebabkan oleh karena pasangan hidupnya Kristen, maka ia ikut menjadi orang yang beragama Kristen. Konversi agama seperti ini bukan suatu hal yang sulit. Tetapi pada zaman gereja mula-mula untuk memiliki pengaminan akali saja sudah sangat sulit. Pengaminan akali mereka yaitu kata iman pertama, pasti disusul atau pasti dilanjutkan dengan iman yang kedua. Iman yang kedua (memimpin kepada iman) artinya penurutan terhadap kehendak Allah. Penurutan terhadap kehendak Allah adalah pola hidup yang sama dengan pola hidup yang dikenakan oleh Tuhan Yesus.

Banyak orang Kristen hanya sampai pada iman yang pertama, yaitu pengaminan akali. Dengan pengaminan akali tersebut mereka merasa pantas untuk memperoleh pembenaran berdasarkan Roma 1:17. Padahal pembenaran diberikan kepada mereka yang sudah melewati tahapan iman yang pertama dan kedua. Kekristenan bukan jalan mudah, apalagi jalan gratis ke surga. Kekristenan adalah jalan gratis untuk diajar dan dibentuk agar menjadi seperti Tuhan Yesus. Pada tahapan iman kedua inilah seseorang masuk ke dalam kehidupan “kehilangan nyawa”, sebab seseorang yang mau mengikuti jejak hidup Tuhan Yesus, harus rela kehilangan segala kesenangan hidup. Seperti Tuhan Yesus harus mengosongkan diri, orang percaya juga harus mengosongkan diri.

Dengan penjelasan ini berarti, seseorang tidak akan memiliki iman yang benar kalau tidak kehilangan “nyawanya” atau segala kesenangannya. Dalam hal ini kita baru bisa mengerti mengapa orang muda yang kaya dalam Matius 19:16-28 tidak bisa mengikut Tuhan Yesus atau tidak mampu memiliki iman yang benar, sebab ia takut kehilangan “hidupnya”. Seseorang tidak akan memiliki kehidupan Tuhan Yesus sebelum kehilangan hidupnya sendiri. Itulah sebabnya Paulus mengatakan: Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.2

1) Roma 1:16-17 ; 2) Filipi 3:7-8

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.