6. Dilukai Tuhan

SIKAP MEREMEHKAN TUHAN juga terjadi atas mereka yang merasa selalu aman dengan segala perbuatan salah yang mereka lakukan. Mereka korupsi bertahun-tahun sampai menjadi kaya raya tetapi tidak ketahuan. Mereka dapat melenggang menjalani hidup tanpa terendus oleh KPK. Sehingga mereka menjadikan korupsi adalah tindakan yang tidak membahayakan. Ada orang-orang yang hidup dalam perjudian tetapi tidak bankrut, sehingga mereka memandang berjudi bukan sesuatu yang membahayakan lagi. Ada orang yang selalu mau ribut atau mengajak berkelahi orang lain dan mereka tidak pernah mendapat luka atau sampai pada keadaan gawat. Hal ini membuat dirinya semakin kasar terhadap orang lain, sok jagoan dan tidak pernah merasa takut berkelahi. Keadaan itu dianggapnya sebagai keadaan yang tidak membahayakan. Ada orang-orang yang telah memiliki pasangan hidup tetapi berselingkuh dengan orang lain, tetapi tidak ketahuan, sehingga mereka terus hidup dalam perzinahan tanpa merasa takut lagi. Mereka merasa praktik hidup seperti itu tidak membahayakan. Ada pula orang-orang yang menkonsumsi atau menjual narkoba, merasa aman sebab tidak pernah tertangkap aparat keamanan. Mereka masih menjalankan praktik narkoba tersebut dengan tidak merasa takut. Keadaan-keadaan seperti contoh-contoh di atas tersebut membuat seseorang meremehkan Tuhan dan tetap hidup dalam dosa.

Kalau suatu ketika Tuhan menegur mereka, berarti mereka masih memiliki kasih karunia dari Tuhan. Tetapi kalau sampai Tuhan mendiamkan, maka itu berarti keadaan yang celaka. Selama hidup di dunia mereka tidak mengalami kecelakaan dan keadaan yang buruk, hal itu semakin membuat mereka tidak menaruh hormat kepada Tuhan. Dalam Mazmur 73, orang-orang seperti ini digambar sebagai orang yang tidak mengalami kesakitan, sehat dan gemuk tubuh mereka; tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain “… mereka menambah harta benda dan senang selamanya!”.1 Orang-orang seperti ini suatu kali akan dijatuhkan dan sekali jatuh remuk artinya binasa dan rupa mereka di pemandangan mata Tuhan sebagai “hina”.2

Kalau seorang anak Tuhan dalam keadaan berdosa ditegur Tuhan, berarti ia masih memiliki kasih karunia dari Tuhan. Teguran atas anak-anak Tuhan yang suka dan selalu berbuat dosa dengan melukai hati Tuhan akan mendatangkan pukulan yang membuatnya menjadi nyaris putus asa, karena pukulan Tuhan tersebut sangat menyakitkan. Pukulan Tuhan itu bisa berupa tertangkap oleh KPK dan masuk penjara, kalah berjudi sampai menjadi sangat miskin sehingga tidak dapat bangkit lagi, dipukuli oleh musuh sehingga cacat berat seumur hidup, kedapatan berselingkuh sehingga rumah tangga hancur, tertangkap aparat dan tersangka sebagai pengedar narkoba dengan ancaman hukuman mati atau hukuman seumur hidup dan lain sebagainya. Pukulan-pukulan ini bisa terjadi dan pasti terjadi bagi orang percaya yang mengasihi Tuhan.

Harus diingat kalau Tuhan melukai maka tidak akan ada yang dapat membebat dan menyembuhkan. Adalah bijaksana kalau kita terus menerus berusaha menghindarkan sejauh mungkin pukulan Tuhan tersebut. Kesadaran terhadap sakitnya pukulan dari Tuhan bisa menjadi salah satu faktor kita menghindarkan diri dari perbuatan yang melukai hati Tuhan. Penulis kitab Ibrani mengatakan: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya.3 Oleh sebab itu kita harus menghindarkan diri pukulan tersebut. Kita harus lebih memilih taat dan menyukakan hati Tuhan dari pada melukai-Nya. Kalau Tuhan melindungi kita maka tidak ada yang dapat mencelakai kita, baik di dunia hari ini dan sampai kapan pun. Dalam hal ini apakah kita menjadi kekasih-Nya atau musuh-Nya, tergantung pilihan atau keputusan kita sendiri.

1) Mazmur 73:3-12 ; 2) Mazmur 73:19-20 ; 3) Ibrani 12:5

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.