6. CIRI ANAK ALLAH

TUJUAN KESELAMATAN pada intinya adalah menjadikan anak manusia berubah sehingga berkeadaan sebagai anak Allah. Dengan berkeadaan sebagai anak Allah maka seseorang barulah mendapat legalitas atau pengesahan status sebagai anak Allah. Dengan demikian seseorang dikatakan berstatus sebagai anak Allah kalau berkeadaan sebagai anak Allah. Berkeadaan sebagai anak Allah maksudnya memiliki ciri-ciri nyata dalam kehidupan ini yang dapat dilihat dan dirasakan oleh orang lain. Dalam hal ini paling tidak ada 5 ciri seorang yang berkeadaan sebagai anak Allah. Pertama, kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela. Kedua, tidak memiliki perasaan takut menghadapi segala keadaan. Ketiga, tidak memandang dunia sebagai keindahan. Keempat, merindukan rumah Bapa dan kelima berjuang tanpa batas melakukan kehendak Bapa dalam pelayanan penyelamatan jiwa-jiwa. Masing-masing butir ini memuat pengertian yang luas dan mendalam. Tanpa ciri-ciri ini seseorang tidak pantas menyandang status sebagai anak Allah.

Setiap orang percaya harus mengalami proses perubahan status dari anak gampang (anak yang tidak sah) atau nothos (Yun.νόθος) menjadi anak yang sah atau huios (Yun.υἱός). Nothos adalah anak yang tidak resmi (Ing. Illegitimate child, a child born to unmarried parental). Penjelasan mengenai nothos dan huios ini tertulis di dalam Ibrani 12. Inilah perjuangan yang harus dijalani setiap orang percaya sebagai perlombaan yang diwajibkan.1 Betapa malangnya orang-orang yang merasa sudah sah sebagai anak Allah, sehingga tidak bertekun dalam perlombaan yang diwajibkan tersebut. Sebagai gantinya, yang diusahakan adalah pengesahan sebagai “manusia yang wajar” di mata manusia lain dengan segala atributnya. Atributnya antara lain pendidikan, pekerjaan, teman hidup dan berumah tangga, memiliki keturunan, fasilitas seperti rumah, mobil, barang ber-branded dan berbagai fasilitas lainnya. Semua ini dipandang sebagai memberi martabat. Pada umumnya orang berjuang hanya untuk hal-hal ini sampai masuk ke dalam kubur.

Pengesahan sebagai anak yang sah ditentukan oleh apakah seseorang mengambil bagian dalam kekudusan Allah atau berkodrat Ilahi atau tidak.2 Mengambil bagian dalam kekudusan Allah atau mengenakan kodrat Ilahi artinya memiliki karakter seperti Bapa sehingga dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan Bapa. Dengan hal ini hendaknya seseorang tidak mudah mengaku sebagai anak Allah yang sah dan merasa layak masuk ke dalam Kerajaan Surga hanya karena menjadi orang Kristen dan merasa sudah percaya kepada Tuhan Yesus. Percaya bukanlah sesuatu yang sederhana. Harus dipahami dengan benar bahwa percaya bukan saja pengaminan akali atau persetujuan pikiran, percaya adalah tindakan selalu melakukan apa pun yang dikehendaki oleh Bapa.

Penyesatan yang sudah mendarah daging dalan kehidupan banyak orang Kristen selama ratusan tahun adalah ajaran yang memudahkan seseorang berstatus sebagai anak Allah. Dikesankan secara tidak langsung maupun secara langsung bahwa semua orang Kristen yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus adalah anak-anak Allah. Kemudian mereka merasa berhak masuk surga sebab telah berstatus sebagai anak-anak Allah. Seharusnya yang mengesahkan seseorang anak Allah atau bukan adalah Allah sendiri, bukan manusia.

Setelah Tuhan Yesus berusia tiga puluh tahun, barulah Ia mendapat pengesahan dari Bapa di surga yang menyatakan bahwa Dia adalah Anak Allah yang dikasihi-Nya.3 Kesalahan ini juga disebabkan karena pengertian yang salah mengenai konsep anugerah. Dipahami oleh banyak orang Kristen bahwa anugerah secara otomatis membuat seseorang berstatus sebagai anak Allah yang sah. Sehingga mereka tidak pernah mengerti tanggung jawabnya untuk mengerjakan keselamatannya dengan takut dan gentar.

1) 1Petrus 1:23 ; 2) Matius 13:17 ; 3) Ibrani 12:6-9 ; 4) Lukas 14:33

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.