6. AMBISI YANG MEMBINASAKAN

Sangat besar kemungkinan bahwa Yudas sebenarnya tidak bermaksud mengkhianati Yesus, Guru yang menjadi tumpuan harapan hidupnya. Kalau Gurunya tidak bersama-sama dengan dirinya, itu berarti sebuah kerugian besar. Karena selama bersama Gurunya, Yudas sudah memperoleh penghasilan lebih dari murid-murid lain, sebab Yudas yang dipercaya memegang kas dan ia juga mencuri uang kas tersebut. Selain memperoleh keuntungan materi, Yudas juga dapat eksis sebagai murid terkemuka. Yudas tidak bermaksud sungguh-sungguh menjual Yesus untuk membunuh dan menyingkirkan-Nya. Tetapi, sangat besar kemungkinan ia ingin menambah jumlah penghasilannya dan lebih eksis. Bagaimana caranya?

Seperti murid-murid Yesus yang lain, ia juga berpengharapan bahwa suatu hari Yesus menjadi raja seperti Herodes atau kaisar Roma; raja duniawi. Konsep Mesias yang menjadi raja versi dunia itu, pada umumnya menguasai pikiran kehidupan masyarakat Yahudi. Itulah sebabnya, murid-murid pernah bertengkar mempersoalkan siapa yang terbesar di antara mereka demi kedudukan di kerajaan di mana Yesus menjadi Rajanya nanti (Mat. 18:1-5, Luk. 9:46-48, dan lain sebagainya). Hal ini menunjukkan bahwa mereka sangat yakin bahwa Yesus akan menjadi raja duniawi.

Yudas sebenarnya tidak membidik uang 30 keping perak sebab jumlah tersebut sangat sangat kecil, dibanding dengan resiko yang harus dijalani dengan menjual Yesus. Beberapa ahli Perjanjian Baru mengemukakan bahwa keping perak yang dimaksud adalah tetradrachm, suatu media transaksi yang bernilai beberapa bulan (kemungkinan besar 4 bulan) gaji untuk kehidupan wajar bagi pekerja pada umumnya. Jumlah uang tersebut akhirnya digunakan untuk membeli sebidang tanah. Tanah itu pun akhirnya tidak dia nikmati, selain darahnya yang tertumpah atasnya.

Usaha Yudas menjual Yesus adalah usaha untuk mempercepat ambisinya dan ambisi banyak orang untuk menjadikan Yesus raja versi mereka, yaitu raja duniawi demi kepentingan duniawi pula. Dengan membawa Yesus pada situasi terancam, yaitu dengan dijual kepada musuh-musuh-Nya, maka Yesus dapat menunjukkan keperkasaan-Nya yang mereka sudah saksikan dalam membuat berbagai mukjizat dan tanda-tanda ajaib. Dalam keadaan krisis dan kritis, mereka berharap Yesus “unjuk keperkasaan-Nya”. Mereka berharap Yesus akan menjadi pemimpin bangsa Yahudi memberontak melawan kekaisaran Romawi. Yudas sendiri sangat mungkin berasal dari kelompok orang Yahudi garis keras yang memberontak melawan Roma, yang disebut sebagai orang-orang Zelot. Mereka mengharapkan Yesus menjadi Mesias seperti Daud yang perkasa, yang dapat mengantar bangsanya kepada zaman keemasan dan kejayaan. Yudas seperti Petrus dan murid-murid lainnya, tidak ingin Yesus kalah dan takluk kepada pemerintah Roma.

Kenyataan yang Yudas saksikan sangat berbeda dari yang mereka harapkan. Ternyata, Yesus dikalahkan (secara fisik oleh kekuatan Roma) dan dijatuhi hukuman mati. Hal ini mengecewakan Yudas, sehingga ia berniat mengembalikan uang tiga puluh keping perak kepada imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi (Mat. 27:5). Tetapi mereka tidak mau menerimanya dan hal ini mengakibatkan Yudas dengan frustasi membuang uang tersebut di depan mereka. Semua sudah terlambat. Yesus harus dihukum mati. Harapan dan cita-cita Yudas kandas, sehingga ia memilih untuk bunuh diri.

Pelajaran mahal yang dapat dipetik dari peristiwa ini adalah sikap yang salah terhadap maksud keselamatan yang dibawa oleh Tuhan, melahirkan motivasi pelayanan dan segala tindakan yang salah. Kalau seandainya Yudas mengerti maksud keselamatan yang dibawa oleh Yesus, maka ia tidak akan menjual Yesus dan “main api” yang akhirnya membinasakan dirinya. Ambisi Yudas memperoleh kekayaan atau uang lebih besar, kedudukan, dan kehormatan di bumi ini dengan menggunakan fasilitas yang ada pada Yesus, merupakan langkah bodoh yang membinasakan. Kita harus mengerti dan menerima bahwa kedatangan Yesus bertujuan untuk mengembalikan manusia kepada rancangan Allah. Manusia diberi kemerdekaan dari dosa dan kehidupan yang berkualitas menurut Tuhan. Bukan dengan ukuran materi dan kekayaan dunia, tetapi ukuran kesucian dan kebenaran Tuhan.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.