5. Versi Allah Dan Versi Ular

PENYESATAN DALAM PIKIRAN tentu terjadi setelah melalui perjalanan waktu yang panjang. Hal ini bisa dipahami kalau kita memandang kisah mengenai Adam dan Hawa dengan pikiran dewasa, artinya memahami buah pengetahuan tentang yang baik dan jahat serta buah kehidupan sebagai konsumsi pikiran dalam jiwa. Adam diperhadapkan pada dua pilihan, apakah mengkonsumsi kebenaran yang berasal dari Allah atau suara yang berasal dari sumber lain (ular). Ular adalah personifikasi dari lusifer yang menawarkan Pengetahuan apa yang baik dan jahat menurut “ versinya”. Ular berkata: “ Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”1 Manusia tergoda oleh ular, sebab dari pernyataan ular tersebut seakan- akan Allah menyembunyikan sesuatu dari manusia. Kecurigaan atau ketidakpercayaan kepada Allah menyebabkan manusia memilih suara ular.

Allah menghendaki agar manusia memiliki pengertian mengenai apa yang baik dan jahat dari Allah menurut versi-Nya; “melalui proses perjalanan waktu” yang ditetapkan oleh Allah. Allah mengajar kebenaran selalu melalui proses yang bertahap. Membangun nurani dalam neshamah dengan kebenaran dapat menjadikan neshamah manusia sebagai pelita Tuhan. Tentu Tuhan menghendaki Adam memahami apa yang baik dan jahat menurut versi Allah bukan versi Iblis, tetapi Adam telah bertindak di luar kehendak Allah, ia ingin segera seperti Allah sesuai dengan kehendaknya sendiri dan besar kemungkinan juga di luar jadwal Allah. Padahal, tentu Tuhan menghendaki agar manusia menerima pengertian mengenai kebenaran dari sumber yang benar yaitu dari Allah sesuai dengan jadwal-Nya. Kejatuhan manusia ke dalam dosa pada prinsipnya disebabkan karena Adam lebih mengisi pikirannya dengan suara yang bukan berasal dari Tuhan sehingga nurani dalam neshamahnya menjadi rusak. Inilah yang membawa diri manusia kepada dosa atau kemelesetan. 2 Manusia tidak mampu mengerti dan melakukan kehendak Allah, manusia tidak mencapai standar kesucian yang Allah kehendaki.

Implikasi kisah kejatuhan manusia bagi orang percaya hari ini adalah bahwa perjalanan waktu hidup ini seperti sebuah arena, dimana kita diperhadapkan kepada peperangan. Peperangan itu merupakan sebuah kompetisi (persaingan), antara Tuhan dan kuasa jahat dalam pikiran. Kalau seseorang banyak mewarnai pikiran dengan kebenaran maka Tuhanlah pemenangnya. Ini berarti seseorang terhindar dari api kekal. Apakah seseorang memberi peluang Tuhan, sebagai pemenang untuk menguasai hidupnya atau kuasa lain yang memilikinya, hal ini tergantung kepada masing- masing individu. Kalau kita memberi diri mengisi pikiran kita dengan kebenaran Firman Tuhan maka nurani dalam neshamah bisa menjadi pelita Tuhan. Allah masuk dalam arena perjalanan waktu bersama dengan manusia, maka untuk itu manusia juga harus serius memperhatikan dan menghargai waktu yang diciptakan Tuhan tersebut dimana manusia hidup di dalamnya. Pada zaman Adam dan Hawa, tentu Allah hadir di Eden bersama dengan mereka untuk mengajarkan kebenaran melalui Roh-Nya. Ternyata manusia lebih memilih mendengar suara lain, sehingga neshamah manusia menjadi rusak, sebagai akibatnya manusia tidak menjadi segambar dengan Allah. Manusia kehilangan kemuliaan Allah. Adam terusir dari Eden dan akhirnya Roh Allah undur ketika anak-anak-anak Allah (keturunan Set yang masih dipimpin oleh Roh-Nya) melakukan kawin campur dengan anak- anak manusia yaitu keturunan Kain.3 Implikasi dari penjelasan ini adalah bahwa manusia menghadapi realitas limitasi waktu yang diberikan oleh Tuhan kepada setiap individu. Inilah kesempatan berharga untuk menjadikan neshamah sebagai pelita Tuhan.

1) Kejadian 3:5; 2) Roma 3:23; 3) Kejadian 6:1-4

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.