5. SIKAP HATI

TATA LAKSANA KEHIDUPAN yang dikehendaki oleh Allah Bapa bukan terletak pada bagaimana mengatur hidup sesuai dengan hukum-hukum dan peraturan-peraturan yang diberikan Tuhan, seperti torat yang diberikan kepada bangsa Israel. Tetapi terletak pada sikap hati atau batin manusia. Sikap hati ini sama dengan kemampuan merasakan apa yang Tuhan rasakan atau sama dengan kecerdasan berpikir seperti Tuhan. Kecerdasan ini sangat ditentukan oleh pengertian terhadap kebenaran yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Kecerdasan ini disebut sebagai kecerdasan roh. Kecerdasan ini seperti obat yang menyembuhkan tubuh yang sakit. Jiwa manusia sakit, yaitu manusia hanya mampu memahami kebaikan moral secara umum berdasarkan hukum. Bagi bangsa Israel mereka hanya mampu memahami hukum berdasarkan Dekalog secara legalistik, yaitu melakukan hukum sesuai dengan bunyinya. Misalnya membunuh berarti menghabisi nyawa seseorang atau menghentikan kehidupan seseorang, berzinah berarti melakukan hubungan seks secara tidak sah dengan pasangan orang lain atau melakukan sebelum memperoleh peneguhan nikah, mencuri berarti mengambil milik sesama dengan bukti di tangan. Sedangkan esensi atau jiwa hukum itu sebenarnya lebih dari itu. Jiwa yang sakit adalah keadaan manusia yang tidak mengerti kehendak Allah. Hanya Injil yang dapat menyembuhkan jiwa yang sakit ini disertai dengan proses pendewasaan melalui segala pertiswa yang terjadi dalam kehidupan orang percaya.

Kecerdasan roh ini juga seperti peta yang menuntun orang yang sesat. Kecerdasan ini seperti pelita bagi orang yang berjalan dalam gelap. Kalau Firman Tuhan mengatakan, “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!”, kabar baik itu adalah apa yang diajarkan Tuhan Yesus yang mencelikkan pengertian seseorang sehingga memahami hikmat Allah.1 Ini yang dimaksud oleh Tuhan Yesus dengan menjadikan semua bangsa murid Tuhan. Ini bukan hanya berarti menyelenggarakan program pemuridan beberapa bulan kemudian mewisuda orang-orang yang dianggap sudah lulus program pemuridan tersebut. Pemuridan adalah sebuah proses belajar yang tidak berhenti sampai mata tertutup untuk selamanya. Sarana utama untuk proses pemuridan tersebut adalah Firman Tuhan. Jadi, gereja yang tidak mengajarkan Firman Tuhan yang benar dan murni secara intensif berarti menipu dan menyesatkan.

Menjadi murid Tuhan bukanlah menjadi murid pendeta atau hamba Tuhan manapun. Perhatikan dalam Matius 28:18-20, tertulis: “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku”, murid Tuhan Yesus. Ini berarti orang percaya harus mengalami pertumbuhan dalam iman sampai bisa bersekutu dengan Tuhan secara pribadi. Seorang pendeta hanya menjadi tutor sementara waktu, sebab pada akhirnya setiap individu jemaat harus dapat menjangkau Tuhan tanpa bantuan siapa pun. Untuk itu setiap individu harus memiliki ruang pertemuan secara khusus dengan Tuhan setiap hari dalam doa pribadi. Selanjutnya harus selalu memperhatikan bagaimana Tuhan Yesus secara pribadi memuridkan orang percaya dalam sepanjang waktu hidup-Nya. Orang percaya yang mengalami pemuridan dan bertumbuh dengan benar akan dapat memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Hanya Tuhan Yesus pribadi yang dapat mengajarkan pikiran dan perasaan-Nya. Dengan demikian seseorang barulah dapat menyelenggarakan tata laksana hidup yang dikehendaki oleh Allah.

Tata laksana kehidupan yang dikehendaki oleh Allah ini -bila dipahami dengan benar dan sungguh-sungguh dipergunakan- maka ketika seseorang berurusan dengan Tuhan, hal ini bukan karena ia memerlukan berkat-Nya untuk memenuhi kebutuhan hidup di bumi ini baik makan, minum, kesehatan atau apa pun, tetapi Tuhan sendiri sebagai kebutuhannya. Orang-orang seperti ini sudah tidak mempersoalkan perkara-perkara dunia. Mereka juga tidak akan merindukan dan meminta apa pun kecuali memahami apa yang diinginkan oleh Tuhan untuk dapat dilakukan. Mereka tidak bermaksud “memberi sesuatu”, tetapi dirinya sendiri sepenuhnya yang dipersembahkan kepada Tuhan dengan melakukan apa yang diingini oleh Tuhan. Itu berarti segenap hidupnya tanpa batas untuk kepentingan Tuhan.

1) Roma 10:15

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.