5 September 2014: Belenggu Kehidupan

Kalau dulu sebagai seorang yang tidak sungguh-sungguh mau menjadi anak Tuhan yang berkenan bagi-Nya, kita tidak mempersoalkan hal ini sebab standar kebaikan moral yang dibangun hanyalah standar moral secara umum. Prinsipnya asal tidak melakukan sesuatu yang melanggar hukum atau norma umum, tidak membuat orang lain menilai salah, merasa tidak merugikan orang, apapun dilakukan saja. Lalu mereka sudah merasa sebagai anak-anak Tuhan yang baik. Pada hal Tuhan Yesus menghendaki agar orang percaya memiliki hidup yang luar biasa dalam kelakuan melebihi kelakuan tokoh-tokoh agama (Mat. 5:20). Kalau hanya standar moral umum seperti yang dikemukakan di atas, maka orang-orang di luar orang Kristen pun bisa cukup cakap untuk melakukannya. Terbukti sebagian mereka sungguh-sungguh menjadi orang yang bermoral baik, santun dan bijaksana dalam ukuran umum. Malah ironinya justru dalam kehidupan orang Kristen sering dijumpai sikap yang tidak peduli terhadap sesama. Sekali pun tindakannya merugikan dan melukai sesama, dan orang lain memandangnya keliru asalkan itu mendatangkan keuntungan bagi dirinya sendiri maka tetap saja dilakukan. Biasanya orang-orang Kristen seperti ini memiliki banyak alasan untuk membela tindakannya. Walaupun yang dilakukan menyakiti sesama, tetapi ia tetap lakukan asalkan hatinya sendiri senang dan menguntungkan.

Kebiasaan menyenangkan diri sendiri adalah belenggu yang akhirnya membuat seseorang tidak dapat menjadikan Tuhan sebagai pusat hidupnya, sebab dirinya sendiri itulah pusat kehidupannya. Ini adalah orang-orang yang melayani dirinya sendiri. Orang seperti ini tidak pernah menjadikan Yesus Kristus sebagai Tuhannya. Orang-orang seperti ini walau mengaku orang percaya kepada Tuhan Yesus tidak akan masuk Kerajaan Sorga sebab ia tidak melakukan kehendak Bapa (Mat. 7:21-23). Mereka adalah orang-orang yang tidak berkiblat kepada Tuhan. Orang-orang ini pasti ditolak oleh Allah. Hidup mereka tidak dapat dinikmati (ginosko) oleh Tuhan. Oleh sebab itu selama kita masih memiliki kesempatan untuk memiliki kehidupan yang berpusat pada Tuhan kita harus belajar mulai sekarang hidup berpusat pada Tuhan. Kalau kiblat kita selama ini sudah salah, maka sekarang kita masih memiliki kesempatan untuk mengarahkan kiblat kita kepada Tuhan dengan komitmen yang bulat sampai kita menutup mata atau kita harus setia sampai akhir. Jadi, selagi masih ada kesempatan untuk membenahi diri, kita harus berusaha membenahi diri.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.