5. ROH KEKUDUSAN

Dalam Roma 1:4 tertulis: dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita. Pembuktian bahwa Dia adalah Juruselamat yang benar atau sejati ditegaskan dalam Roma 1:4. Roh Kekudusan dalam teks aslinya adalah pneuma hagiosunes (πνεῦμα ἁγιωσύνης), hendak menunjuk kepada “karakter atau sifat” Roh itu. “Menurut Roh Kekudusan” artinya oleh pekerjaan Roh Allah yang kudus, Tuhan Yesus dibangkitkan dari antara orang mati. Kata hagiosunes selain berarti holiness (kesucian) juga bisa diterjemahkan uprightness, yang artinya kejujuran.

Kata Roh Kekudusan, yang juga berarti Roh Kejujuran, hendak menunjukkan karakter Roh yang jujur, di mana dalam kesaksian-Nya pasti benar adanya; bisa dipercayai. Jika kesaksian tersebut dikaitkan dengan kebangkitan Yesus, dapat ditegaskan bahwa kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian bukanlah dongeng atau kisah yang dikarang oleh manusia. Roh Kudus yang adalah Roh Kejujuran memakai murid-murid pada awal gereja mula-mula Tuhan. Sangatlah tidak mungkin murid-murid Yesus yang berlatar belakang rakyat jelata, tidak berpendidikan dan rata-rata penakut, menjadi begitu berani menyaksikan sesuatu yang oleh karenanya mereka harus mengorbankan harta, keluarga dan nyawa mereka sendiri. Tidak mungkin demi suatu dusta, yaitu mengenai kebangkitan Tuhan Yesus, mereka mempertaruhkan nyawa dan segenap hidup mereka, yaitu seandainya Yesus tidak dibangkitkan. Tetapi yang benar memang Tuhan Yesus bangkit dari kubur. Fakta ini meneguhkan hati murid-murid untuk menyaksikannya dan tidak gentar sedikit pun mengalami aniaya yang begitu hebat, sebab mereka yakin bahwa kebangkitan Yesus memberikan kepada mereka pengharapan.

Hal yang sangat menarik dari kesaksian murid-murid adalah mereka menyaksikan berita Injil kepada semua orang tanpa memaksa orang untuk percaya kepada Tuhan Yesus. Tidak ada senjata seperti pedang untuk mengintimidasi orang agar menerima ajaran Injil. Tuhan Yesus mengajarkan agar orang percaya dalam menjadi saksi Kristus harus mengasihi musuh, yaitu mereka yang memusuhi, bahkan mendatangkan aniaya bagi mereka. Dalam pemberitaan Injil, atau menyebarkan ajaran Tuhan Yesus, harus dilakukan dengan kasih tanpa perang atau pertumpahan darah. Dalam hal ini Roh Kekudusan juga berarti tindakan yang kudus sesuai dengan karakter Allah yang adalah kasih. Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa Injil adalah kabar baik dari Allah. Di luar Injil tidak ada pemberitaan kebenaran yang boleh diakui sebagai dari Allah. Dan Allah yang bermartabat tidak akan memaksa orang untuk percaya. Kalau Kekristenan diajarkan dengan menggunakan pedang, pasti itu Kristen palsu. Kalau ada agama yang memaksa orang memeluk agama tertentu, maka disangsikan dan diragukan kebenarannya.

Kata “dinyatakan” dalam Roma 1:4 (…dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati) dalam teks aslinya adalah horizo (ὁρίζω), memiliki beberapa pengertian antara lain: to define, to mark out the boundaries or limit, to determine, appoint, to declare (menentukan, menandai batas, menunjuk, menyatakan, mendeklarasikan). Kita harus memerhatikan kata “Roh kekudusan” dalam ayat tersebut yang menunjukkan bahwa kebangkitan Tuhan Yesus tidak terpisah dari hal kekudusan. Kalau Yesus tidak taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib, maka Ia tidak akan dibangkitkan. Dengan demikian, kebangkitan Tuhan Yesus bukan hanya menunjukkan atau mendeklarasikan bahwa Dia adalah Anak Allah yang berkuasa, tetapi juga Anak Allah yang kudus; taat dan menghormati Bapa secara patut. Dalam hal ini hendaknya kita tidak terpaku pada kehebatan kekuasaan Anak Allah secara supranatural, tetapi juga kekudusan-Nya sampai mati di kayu salib.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.