5 Oktober 2014: Tuhan Adalah Nilai Tertinggi

Kemerdekaan dalam Tuhan bukan hanya sesuatu yang diyakini di dalam keyakinan atau fantasi, kemudian hanya dipercakapkan dalam pendalaman Alkitab, kotbah dan diskusi-diskusi. Biasanya orang-orang seperti ini hanya cakap berbicara tetapi hidupnya tidak menunjukkan perbedaan yang mencolok dengan orang yang tidak percaya. Kemerdekaan dalam Tuhan adalah sesuatu yang nyata, dapat dirasakan, dilihat dan benar-benar terbukti konkrit dalam sikap hidup setiap hari serta berdampak bagi diri orang yang memiliki kemerdekaan tersebut maupun orang lain di sekitarnya. Memahami kemerdekaan dalam Tuhan harus diawali dari memahami konsep yang benar mengenai apa yang bernilai tinggi dan dapat memberi kebahagiaan itu. Sesuatu yang bernilai tinggi dan dapat memberi kebahagiaan tentu saja bukan perkara-perkara duniawi tetapi melakukan kehendak atau keinginan Bapa. Inilah prinsip hidup yang dikenakan oleh Tuhan Yesus (Yoh. 4:34). Itulah sebabnya dengan tegas Tuhan Yesus menolak memiliki dan menikmati keindahan dunia yang sama artinya dengan menerima bujukan menyembah Iblis. Tuhan Yesus menyatakan bahwa kita harus menyembah Tuhan Allah dan hanya kepada Dia saja kita berbakti. Kata menyembah dalam teks aslinya adalah proskuneo artinya memberi nilai tinggi. Tuhan Yesus menyatakan bahwa yang bernilai tinggi adalah Allah. Selama seseorang masih memberi nilai tinggi kepada sesuatu dan memercayainya sebagai dapat memberi kebahagiaan maka ia masih terbelenggu dengan sesuatu itu. Kebahagiaan yang dibangun dari sesuatu tersebut baik uang, kehormatan dan lain sebagainya menjadi belenggu yang sangat kuat, yang akhirnya tidak bisa dilepaskan. Orang-orang seperti ini tidak membedakan antara price dan value (harga dan nilai). Tidak semua yang dihargai (price) tinggi oleh manusia berarti bernilai (value) tinggi. Kenyataan yang ada pada kehidupan manusia yang berdosa dan yang sudah rusak pengertiannya, banyak hal yang tidak bernilai (value) tetapi diberi harga (price) tinggi, seperti misalnya rumah, mobil, perhiasan, pangkat, gelar, kehormatan manusia dan lain sebagainya. Pada umumnya atau hampir semua manusia hidup dalam kesesatan ini sebagai warisan yang diterima dari nenek moyang (1Ptr. 1:18). Sehingga hidup mereka terbelenggu banyak hal yang dianggap bernilai karena dihargai tinggi, pada hal, benda-benada tersebut tidak memiliki nilai tinggi. Dengan demikian kebodohan merekalah yang menjadi awal dari belenggu tersebut.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.