5. Meremehkan Tuhan

TANPA DISADARI, sikap meremehkan Tuhan bisa terjadi di dalam hidup orang percaya. Mereka merasa diri kuat bisa melewati segala keadaan tersulit bagaimana pun. Hal ini disebabkan oleh karena faktanya mereka selalu berhasil melewati berbagai kesulitan dan dengan berbagai cara pula. Sikap seperti ini terjadi khususnya pada mereka yang kuat secara finansial dan memiliki relasi dengan pejabat tinggi negara serta aparat keamanan. Pengalaman dapat meloloskan diri dan melewati berbagai kesulitan hidup tersebut dapat membentuk cara berpikir yang meremeh keadaan. Dengan kekayaan mereka membeli keamanan dirinya dan pada kenyataannya kekuatan uang tersebut terbukti dapat menghindarkan mereka dari jerat hukum, penjara dan berbagai ancaman. Tanpa disadari ia memiliki cara berpikir bahwa segala sesuatu dapat diselesaikan dengan uang. Dalam hal ini irama hidup bergantung kepada kekuatan kekayaan terbentuk kuat di dalam pribadinya sehingga menjadi permanen dalam dirinya.

Karena segala sesuatu mereka bisa selesaikan dengan uang, maka orang-orang kaya itu sampai pada pemikiran bahwa uang adalah segalanya, Tuhan pun dapat disogok dengan sejumlah uang yang disumbangkan ke gereja atau aktivitas sosial. Pendeta pun juga dicoba untuk dibayar dengan uangnya agar bisa mendoakannya supaya bisa melewati segala rintangan hidup bahkan bisa menghindarkan diri dari api kekal. Dengan kekuatan uang mereka mengundang pendeta-pendeta “top” untuk menjagai hidup mereka. Padahal yang dapat melindungi mereka adalah Tuhan sendiri. Jikalau hidup mereka sesuai dengan kehendak Tuhan maka mereka berhak memiliki perlindungan dari Tuhan. Betapa celakanya, kalau ada pendeta-pendeta yang materilistis (yang menunjukkan ketertundukkannya kepada orang kaya demi uang), maka mereka menyesatkan orang-orang kaya tersebut sehingga orang-orang kaya tersebut semakin angkuh sehingga tidak dapat diselamatkan lagi.

Orang-orang yang merasa bisa menghindarkan diri dari kesulitan dengan kekuatan uang dan relasi pejabat ini menjadi sangat angkuh tetapi mereka tidak menyadarinya. Ciri orang seperti ini adalah mencari kepuasan diri dengan berbagai fasilitas materi dan hormat dari manusia. Dari kaca mata dunia mereka adalah orang-orang yang baik dan wajar hidup, tetapi di mata Tuhan mereka orang-orang yang tidak layak menjadi bangsawan Surgawi. Tuhan Yesus berkata bahwa hidup manusia tidaklah tergantung dari kekayaan1 dan orang-orang yang mengandalkan kekuataan kekayaan sukar masuk surga.2 Ayat ini sebenarnya bukan hanya ditujukan kepada orang yang sudah kaya secara materi tetapi juga orang miskin yang ingin jadi kaya dengan harapan bahwa kekayaannya dapat membahagiakan hidupnya.

Cara berpikir meremehkan keadaan ini berlanjut terus sampai meremehkan Tuhan. Suatu saat mereka akan tertumbuk pada keadaan dimana semua kekuatan apa pun termasuk finansial tidak bisa diandalkan. Tidak jarang mereka sengaja mencari “masalah dengan orang” hanya karena hendak menunjukkan kekuatan yang ada pada diri mereka (baik kekuatan uang maupun relasi pejabatnya). Dengan kehormatan yang dimilikinya tersebut mereka merasa sudah sejajar dengan Tuhan. Betapa celakanya orang-orang seperti ini yang akhirnya membuktikan keadaannya yang sesungguhnya bahwa mereka bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa. Selama hidup di dunia mereka tidak menyadari keadaan diri mereka yang sesungguhnya. Ketika mereka berdiri di hadapan takhta Tuhan dan ternyata keadaannya hina, mereka tidak akan tahan berdiri di hadapan Tuhan. Keadaan tersebut sangat dahsyat. Mereka tidak akan dapat meloloskan diri dari bencana maha dahsyat dimana mereka terbuang dari hadirat Allah selamanya. Kalau anda termasuk orang seperti ini, anda harus segera mengambil tindakan nyata yaitu merendahkan diri di hadapan Tuhan untuk bertobat dan mengubah diri.

1) Lukas 12:5; 2) Matius 19:23

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.