5. KEMUNGKINAN UNTUK SEMPURNA

Banyak orang Kristen yang tidak berusaha untuk menjadi sempurna. Mereka merasa sudah puas dengan hidup Kekristenan yang mereka jalani, tanpa ada geliat yang jelas dan kuat untuk bertumbuh menjadi sempurna. Mengapa demikian? Karena mereka memiliki argumentasi sebagai alasan untuk membela diri keadaan mereka dan menjadi dasar hidup Kekristenan mereka. Biasanya argumentasi yang menjadi alasan mengapa mereka tidak berusaha untuk sempurna, selain anggapan mereka bahwa seseorang tidak dapat sempurna, ada juga alasan-alasan lainnya, yaitu:
- Pikiran mereka telah tertawan oleh konsep bahwa tidak ada manusia yang sempurna.
- Dan ditambahkan lagi bahwa manusia adalah makhluk yang penuh kekurangan dan kelemahan di hadapan Tuhan.

Dengan pemikiran tersebut, maka mereka bermental blok, artinya sudah merasa tidak akan pernah mencapai kesempurnaan tersebut. Pikiran mereka telah terpasung oleh konsep atau filosofi tersebut, sehingga mereka ibarat prajurit yang sudah kalah perang sebelum maju berperang.

Memang tidak salah kalau ada pemikiran bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dalam kaitannya dengan perilakunya untuk menjadi sempurna. Sangatlah benar manusia tidak akan pernah bisa menjadi sempurna dengan kekuatannya sendiri. Dosa telah mengunci manusia dalam ketidakberdayaan untuk melakukan kehendak Allah dengan sempurna. Seorang teolog menggambarkan keadaan manusia tersebut dengan kalimat: non posse non peccare. Kalimat ini artinya kecenderungan manusia adalah dosa semata-mata. Dalam pemahaman yang benar, mestinya dipahami bahwa manusia tidak mampu melakukan kehendak Allah dengan sempurna. Manusia hanya dapat menjadi baik dan melakukan hukum secara terbatas, tetapi tidak mampu bertindak selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah atau menjadi sempurna.

Oleh karena keadaan manusia tersebut, maka Allah mengutus Putra Tunggal-Nya untuk menanggulangi masalah tersebut. Bagi manusia, hal menjadi sempurna memang mustahil, tetapi tidak bagi Allah. Dalam hal ini kasih karunia yang disediakan oleh Allah bukan hanya terletak pada kayu salib yang menebus dosa manusia, tetapi juga kuasa (Yun. Exousia) yang diberikan kepada orang percaya untuk menjadi anak Allah (Yoh. 1:11-13). Anak Allah dalam teks aslinya adalah teknon (τέκνον), yang memuat pengertian anak dalam pengertian keturunan, di mana seorang anak mewarisi gen orang tua. Oleh kasih karunia Allah, Tuhan mengimpartasikan spirit atau gairah-Nya di dalam hidup orang percaya sehingga dapat mengenakan kodrat Ilahi atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah (2Ptr. 1:3-4; Ibr. 11:9-13).

Dengan kasih karunia tersebut Tuhan Yesus bisa mengatakan bahwa kita harus sempurna seperti Bapa, di dalamnya Tuhan memberi kemampuan kepada kita untuk dapat melakukannya. Tidak mungkin Tuhan memerintahkan kita untuk melakukan apa yang tidak dapat kita lakukan. Banyak ayat Alkitab yang jelas menunjukkan bahwa kita dipanggil untuk sempurna (Mat. 5:48; Luk. 6:40; Rm. 12:2: Flp. 3:15; Yak. 1:4; 3:2 dan lain-lain). Kita harus lebih memercayai apa yang dikatakan oleh Firman-Nya melalui Alkitab daripada konsep dan filosofi manusia di sekitar kita.

Mereka menyatakan bahwa manusia tidak mungkin sempurna sebab mereka melihat bahwa tidak ada orang yang sempurna dari pemandangan matanya sendiri. Padahal mereka tidak tahu dengan sesungguhnya keadaan orang lain tersebut. Kesempurnaan seseorang hanya dapat dilihat dan dirasakan oleh Allah, walau gejala-gejala orang yang semakin sempurna juga pasti dapat dirasakan oleh orang di sekitarnya.

Hal yang lain mengapa seseorang menyatakan bahwa tidak ada kesempurnaan atas manusia, sebab ia selalu menemukan dirinya selalu bersalah, sampai pada tahap putus asa dan berpikir bahwa kesempurnaan tidak akan pernah terwujud di bumi. Mereka menyatakan hal itu karena bercermin pada keadaan diri mereka sendiri.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.